Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Gimana nih?????????
#1
Perbaikan birokrasi KA
PErnah ngga sih brother and sister kepikiran bahwa perkretaapian kita sedemikian parah.
Seharusnya KA ekonomi mendapat perhatian yang lebih daripada eksekutif karena memberikan pemasukan
yang lebih besar terhadap PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
Dari mana kita harus memperbaikinya ya, menurut temen-temen. Dari mulai kondekturkah yang suka
mengambil untung dari penumpang yang tidak membeli tiket, atau dari pimpinan KAI.
Seharusnya yang menjadi pimpinan KAI adalah mereka yang pernah menaiki gerbong ekonomi, biar
dia ngerasain desek-desekan, bau wc dan kotoran yang meneyengat, injek-injekan di gerbong, berdiri dari yogya ke cirebon di gerbong.
Harus kemana kita mengadukan, apakah tidak ada keadilan bagi rakyat yang tidak mampu naik gerbong K1 atau K2. Apakah K3 terus.
Reply
#2
bingung juga kalo bahas hal ini, sama sptnya spt busway yg berjubel....
yg kurang armadanya (KA) atau jumlah peminatnya yg banyak ?
Kapan ya...

Reply
#3
klo membicarakan Kereta K3 emang g akan ada habisnya, disatu sisi PT.KAI sbg operator tunggal yg mestinya menyediakan pelayanan yg baik kurang dipenuhi, dan Masyarakat sebagai pengguna KA g bs menjaga fasilitas yg telah disediakan spt kipas anginyg tiba2 hilang, atau apapun yg ada dikereta. jd kynya smua pihak mesti nyadar diri, disiplin, trus harus bisa punya rasa memiliki (bukan berarti tiap barang di kereta milik pribadi).
TRAVEL WARNING TRAIN DANGEROUSLY exotic VEHICLE

[Image: 2euifjl.jpg]
Reply
#4
Quote:Seharusnya KA ekonomi mendapat perhatian yang lebih daripada eksekutif karena memberikan pemasukan
yang lebih besar terhadap PT Kereta Api (Persero).

lah bukanya yang memberikan keuntungan bagi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) berasal dari bisnis dan eksekutif ? setahu saya kalau yang ekonomi masih di subsidi pemerintah.dan menurut perhitungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tarif ekonomi sudah tidak memenuhi skala ekonomis(terlalu murah) .sedangkan tarif bisnis dan eksekutif dapat di putuskan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri.sedangkan tarif ekonomi di tentukan oleh pemerintah.
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
http://www.flickr.com/photos/36503981@N02/

Reply
#5
contohnya :
KA Gayabaru Malam Selatan PSE-SGU via YK =Rp 38000,-

Reply
#6
Langkah pertama yang mudah agar PT.KA lebih baik adalah sterilisasi stasiun dari kambing,pedangang asongan liar,pelaku tindak kriminal klo satsiunnya dah steril kan nyang naik pada bertiket smua yang notabene meningkatkan pendapatan.Langkah kedua adalah peremajaan pegawai dengan dididik disiplin tinggi dalam melaksanakan tugasnya dan jauhkan angkatan muda dari angkatan tua karena terkadang mereka menurunkan budaya buruk.Yang lainnya tambahin ya...
Reply
#7
topiknya menarik neh...

ane sih kasih usul kayak geneh...

kesatu, agar dibuat saja satu atau dua jalur khusus untuk turun penumpang saja, sehingga pengontrolan terhadap penumpang dan barang menjadi terpusat dan tertib. Begitu juga dengan yang naik penumpang. Contoh : seperti di bandara udara, keuntungannya : "pemasukan" dapat dipastikan 99% masuk ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero). OK

banyak cost, tentu saja pada saat pertamanya tapi hasil profitnya dimasa mendatang jauh lebih baik. Hitung...Hitung Ceria

kedua, tegakan dislipin (yang saklek) kepada seluruh petugas dan karyawan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan yang paling utama SDM-nya, rightman on rightplace. :mikir:

ketiga, bikin suatu kegiatan yang "surprise" untuk masyarakat (contohnya : masalah sts JAKK - sts TPK, lancar karena sosialisasi yang patent...) Tepuk Tangan

Jangan seperti p*m*a D*I yang secara umum main gusur saja.

selebihnya ? ya kita diskusi-kan saja bagaimana caranya ?
Reply
#8
great IDEA....

tapi emang harusnya Stasiun itu harus Steril....

cuma Stasiun tetap jangan jadi kayak bandara....

maskudnya dari segi pengantar....

masalahnya orang yang berangkat dari STAsiun itu punya kenangan manis ato kesan tersendiri coz dianterin ama keluarga ato orang tercintanya ( BAHASANYA BRO!!!!! Playboy )

saran gua sih, pengantar itu harus meenitipkan identitasnya ke petugas pintu masuk peron, gak perlu pake tiket peron segala!!!!

di pintu dikasih pengumuman GEDE, kalo " SESUAI UU no .... Tahun .... , PENGANTAR WAJIB MENINGGALKAN TANDA PENGENAL UNTUK DAPAT MASUK KE DALAM PERON ". nah terus di kasih tanda masuk. Nah di pintu keluar, di sediain pintu khusus pengantar. untuk mencegah penumpang gelap keluar lewat pintu ini, bergunalah tanda masuk itu. nah disitu bisa diminta Kartu Pengenalnya..."

Getu......

masalah SDM, pemeriksa karcis KRL 414, ekonomi AC juga bilang getu kok....

terutama kalo penumpangnya CE......... Red Bull
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)