02-09-2008, 11:40 AM
Ada inpoh!!!! :tos:
Ada masukan lagih untuk kemajuan dan pemeliharaan Sta. Tawang yang historikal ini?
:tos:
Deddy Herlambang Wrote:RESUME DISKUSI TERBATAS DAOP IV PTKAKlik gambar untuk memperbesar...
Mengingat setiap tahun stasiun Tawang Semarang selalu dihajar banjir & rob air laut, PTKA DAOP IV menggelar diskusi tematis dengan materi Pelestarian Stasiun Tawang dari dampak rob air laut.
Diskusi Pelestarian Stasiun Tawang, dihadiri oleh: pakar bangunan & pakar sipil, beberapa LSM terkait, berjumlah 35 orang, sebagai pelaksana Prof Ir Totok Rusmanto, Fasilitator : PTKA DAOP IV. Hari Sabtu Tanggal 31 Agustus 2008, Di Ruang meeting Kadaop IV PTKA, Semarang
Publik figur, Prof. Eko Budiharjo juga hadir, Dr Bambang, Dr. Robert Kondoatie, Nelwan dll. Pak Djoko Setijowarno tidak hadir. (semua yang hadir non birokrat).
Dari IRPS SM yang hadir adalah Pak Tjahjono Rahardjo & saya.
IRPS SM melalui Pak Tjahjono memberikan masukan intisarinya bahwa antara pelestarian bangunan kuno dan bisnis PTKA adalah 2 konsep yang sukar untuk dipertemukan. Secara idealis bangunan itu harus di lestarikan dari dampak apapun, namun dalam segi realitas bisnis PTKA yang penting operasional perjalanan KA lancar & aman, yang penting ada profit. Maka diperlukan penanganan tersendiri. (barangkali Pak Tjahjono sendiri mau menambahkan)
Masukan dari saya kepada Forum (hampir sama secara verbal):
"Jika dilihat dari awal pembahasan, terlihat kita semakin melebar. Kita disini diundang oleh PTKA untuk diajak membicarakan pelestarian stasiun Tawang yang terkena dampak rob (pasang) air laut, namun malah terjebak membicarakan rob dan banjir ataupun fenomena alam. Membicarakan persoalan ini semua tidak akan pernah selesai karena menyangkut kompleksitas pemecahan masalah dan matriks kepentingan.
Kami ini dari IRPS (Indonesian Railway Preservation Society) adalah sebuah komunitas pengemar dan pelestari keretapi benar mencintai keretapi tidak hanya sekedar menyukai rolling stock (lokomotif kereta dan gerbong) saja namun bangunan stasiun pula atau infrastruktur pendukung lainnya, termasuk rel-rel, wesel, pakaian yang berhubungan dengan kereta api dan lain-lain. Termasuk yang terkecil seperti skrup-skrup/ mur-baut ex rel tua buatan tahun 1880an terkadang kami koleksi.
Untuk itu marilah kita berpikir deduktif, kita fokus saja kepada stasiun Tawang. Stasiun ini adalah peninggalan NIS. Seperti kita ketahui bersama bahwa stasiun-stasiun peninggalan NIS termasuk lawang-sewu adalah terbagus secara arsitektural jika dibandingkan dengan maskapai perusahaan ex Hindia-Belanda lainya seperti SS, SJS, SCS,OJS, SDS dll. Warisan stasiun NIS yang bagus membentang mulai dari Semarang menuju Solo-Yogyakarta melewati Kedungjati-Gundih termasuk Ambawara (Willem 1) adalah buah karya arsitek hebat bukanlah medioker.
Kami percaya bila stasiun tawang ini puluhan tahun ke depan tidak di bongkar kelak akan menjadi world heritage. Bangunan ini sebagai artefak terindah di jamannya bahkan sampai sekarang masih megah dan indah. Luar bisa, berdosa bila kita merusaknya.
Menyambung dari Pak Totok, Kanopi peron-peron stasiun tawang memang sengaja desain lengkungnya berlainan karena di sesuaikan dengan gauge rel (lebar spor). Karena NIS mempunyai kereta dengan 2 lebar spor, gauge 1067 dan 1435 (standar dunia). Gauge 1435 tujuan solo-jogya dan ambarawa sedangkan gauge 1067 tujuan ke surabaya. Emplasemen Tawang sebelah selatan sendiri ada 2 jalur spor 1435 (sekarang yang jalur 1 ditutup menjadi peron dan lainnya diganti lebar normal Indonesia 1067), sedangkan 8 jalur ke utara gauge 1067.
Jika memang ternyata stasiun Tawang ini akan di rehabilatasi atau dibongkar. Tolong usahakan tidak merubah semua yang ada seperti sekarang ini. Kendati stasiun yang sekarang sudah tidak sama seperti era masa lalu karena sudah ada pengurangan atau penambahan bentuk dari aslinya. Sekali lagi kami mohon agar orsinilitas tetap di jaga, langgam art-deco (rolaag) dengan hiasan keramik cina diatas bouven light jendela harus tidak rusak. Kita bisa berpikir bagaimana membuat lapisan trassram dinding bagaimana air tidak bisa merambat ke atas dinding. Kita mampu memecahkan masalah ini saja sudah cukup baik. Jika memang ada kerusakan yang signifikan dari bangunan stasiun tawang ini, kami dari IRPS yang akan menangis darah pertama kali.
Stasiun Tawang dibuka pertama 1 Juni 1914, jika memang stasiun ini mau dipugar menghindari rob air laut, kita masih ada waktu 6 tahun merayakan di usianya yang ke 100 tahun. Mengapa tidak dimulai sekarang untuk merubah dan menghiasi stasiun ini menjadi lebih cantik lagi dari sekarang."
Demikian kira-kira masukan kami kepada forum yang akan dibuat sebuah proceeding untuk disampaikan kepada pemerintah. Sengaja forum ini dibuat untuk mendesak pemerintah agar peduli terhadap bangunan stasiun tawang dampak rob air laut. Jika forum ini di legitimasi oleh pemerintah, akan dibuat sebuah petisi atau piagam thamrin (krn letak kantor Daop IV di jln Thamrin) untuk mengontrol bangunan stasiun tawang semarang.
Kita (IRPS) tiada salahnya memberikan penghargaan khusus kepada Kadaop IV saat ini (pak Eddy) krn beliau begitu concern terhadap artefak lama KA. Tim restorasi ABR hampir habis waktu kerja nya, kali ini berganti visi menoleh stasiun tawang dengan melibatkan masyarakat umum.
Demikian sekilas resume diskusi terbatas dari IRPS Wilayah Operasi IV.
Salam IRPS,
Deddy Herlambang
Koordinator IRPS SM
P/S : Foto-foto dibawah diambil dari kamera pak Tjahjono.
Poto oleh : Wardana Qurtubi (mighty_dhanz@..........)
Ada masukan lagih untuk kemajuan dan pemeliharaan Sta. Tawang yang historikal ini?
:tos:
![[Image: spammingsj0.gif]](http://i1211.photobucket.com/albums/cc423/gegenugroho/spammingsj0.gif)

![[Image: saveourearth_01.png]](https://www.semboyan35.com/images/saveourearth_01.png)
![[Image: ooters.jpg]](http://i872.photobucket.com/albums/ab285/ardianpuput/ooters.jpg)