28-04-2011, 05:08 PM
(11-04-2011, 07:20 PM)Bangunkarta Wrote: oh iya temen2 ini ada sebuah perenungan dari rekan2 KRL mania ttg seorang kuLi ers...
[spoiler]
Quote:Cerpen Roker : 'Sebelum KRLTerakhir Tiba'[/spoiler]
Sebaris pesan pendek mengiringi langkah terengah-engah Paijo menapaki puluhan anak tangga Stasiun Kota. "Cepat pulang, sakit Ibu kambuh lagi!"
Dalam pandangan mata sembab, stasiun telah menghamparkan kesunyian malam. Tak ada keriuhan menyertai langkah-langkah tergesa mengejar kereta listrik. Pasti mereka telah didistribusikan oleh ular besi itu, kemudian berbagi tugas dengan angkutan umum atau sepeda motor menuju pintu-pintu rumah di pinggiran kota.
Di pertengahan tangga, suara ketukan berulang menghentikan langkah Paijo. Ketukan mangkuk plastik beradu dengan lantai beton, "Tak… tak… tak…" Matanya lekat menatap seorang Ibu berpakaian lusuh mendekap anak kecil yang terlelap. Sudah begitu malam, mengapa ibu pengemis ini masih bertahan?
Seketika Paijo teringat pada ibunya. Pasti sekarang Ibu sedang berjuang melawan rasa sakit. Suara rintihan ibu dalam telepon genggamnya kembali terngiang, "Jo… Jo… ka mu di ma na Jo…?"
"Kuatkan hatimu Ibu," bisiknya sambil meletakkan beberapa uang logam ke dalam mangkuk kosong itu. Paijo meneruskan langkahnya menapaki anak tangga, menuju deretan loket di lantai dua.
Sesampainya di depan loket, Paijo memasukkan uang lima puluh ribu ke dalam lubang kaca bertuliskan "KRL EKONOMI AC". Tak ada pilihan lain, KRL Ekonomi AC itulah kereta kereta terakhir yang akan melintas. Jika ia datang satu jam lalu, kereta ekspress bisa membawanya melaju cepat menuju Stasiun Tanjung Harapan.
Dari balik kaca, seorang petugas menyodorkan selembar karcis kelas ekonomi AC berlabel harga Rp 5.500,-. Sambil berbicara dengan rekannya, petugas itu menyerahkan uang kembalian selembar dua puluh ribuan. Dalam dua tarikan nafas, selembar uang sepuluh ribu kembali disodorkan. Paijo mencium gelagat yang tidak beres.
"Cepat Pak! Kasih kembalian saja dicicil," kata Paijo ketus.
"Sabar Mas, kereta terakhir masih setengah jam lagi," kata petugas loket. Paijo pun mengambil uang kembalian berikutnya: sepuluh ribu, dua lembar dua ribuan, dan uang logam lima ratus rupiah. Paijo menghitung kembali seluruh uang kembalian. Ia tahu, kalau dihitung setelah meninggalkan loket, pasti komplain kekurangan kembalian tidak akan dilayani.
Pas!
--oOo--
"Kamu sudah sampai mana Jo?"
"Masih di Stasiun Kota, nunggu kereta. Keadaan Ibu bagaimana?"
"Semakin parah Jo. Ini mau dibawa ke Rumah Sakit Harapan Ibu. Nanti kamu langsung ke sana saja. Nggak usah pulang ke rumah. Ibu dari tadi memanggil namamu."
"Baik Mas Heru. Mudah-mudahan keretanya lancar."
Peron sudah ditakdirkan menenggak keriuhan. Memasuki kesunyian peron seakan menyeretnya dalam debur kecemasan. Apalagi bayangan ibu terus berkelebat memasuki relung pikirannya.
Paijo mengedarkan pandangan ke sekujur peron. Begitu sepi! Deretan kursi panjang terlihat kosong. Pada jam-jam sibuk, banyak penumpang berebut mendudukinya. Tapi Paijo lebih suka membuka kursi lipat yang sedari tadi tersekap dalam tas punggung.
Lebih praktis, karena ia bisa duduk di lapak tukang gorengan di sudut peron. Satu-satunya denyut yang masih menghidupkan peron. Walaupun terasa aneh, karena sebentar lagi kereta terakhir melintas, tapi tidak ada tanda-tanda pemilik lapak membereskan dagangannya.
"Tumben masih buka Mang!"
"Kan menunggu sampeyan. Kasihan nanti tidak ada temannya."
"Ah, Mamang bisa aja. Ya udah bikinin satu porsi seperti biasa."
"Oke Bos! Nggak pakai lama kan."
Dalam ketajaman ingatan, lelaki tua penjaga lapak itu meletakkan lontong, tempe goreng dan tahu isi ke dalam piring plastik. Tak ada yang salah! Persis seperti apa yang diinginkan Paijo. Padahal tiap hari ada banyak penumpang langganannya memesan makanan dengan kata serupa: Satu porsi seperti biasa!
Suasana hati Paijo kembali tercabik kegundahan ketika lelaki tua itu menggunakan gunting tajam untuk membagi ketiga makanan itu menjadi irisan-irisan kecil. Harusnya saat ini, ia sudah berada di samping ibunya. Menemani tubuh rentanya berjuang melawan rasa sakit. Pasti sangat perih, seperti luka irisan gorengan yang tersiram kuah sambal. Tak terasa air mata Paijo menggenang.
"Jangan terlalu bersedih Mas! Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Berdoalah agar Allah memberi jalan yang terbaik."
Lelaki tua itu seperti bisa membaca apa yang berkecamuk dalam pikiran dan perasaan Paijo.
"Ibu saya sakit parah Mang. Sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Saya harus segera pulang."
"Tak usah cemas. Sebentar lagi kereta terakhir akan datang. Makanlah dulu."
Paijo tak juga melahap sepiring makanan pesanannya. Pada kondisi seperti ini, siapapun pasti tidak akan nafsu makan. Ia memesan makanan hanya untuk menyenangkan hati lelaki tua itu. Pikiran dan perhatiannya tersita pada ibunya yang mungkin sudah tergeletak di ruang UGD.
"Ya, Allah, angkatlah penyakit Ibu hamba Ya Allah. Berilah kesempatan agar hamba bisa lebih berbakti pada Ibu."
--oOo--
"Perhatian dari jalur dua, akan segera datang KRL Ekonomi AC jurusan Stasiun Tanjung Harapan yang berhenti di tiap-tiap stasiun. Kepada para penumpang diharap untuk mempersiapkan diri."
Dari kejauhan seberkas sinar menyergap pandangan mata Paijo. Diletakkannya sepiring makanan yang masih utuh. Tak lupa selembar uang lima ribuan.
"Kembaliannya ambil saja Mang!" katanya sambil berdiri menenteng kursi lipat.
"Hati-hati, jangan berebut!"
"Ah, Mamang bisa saja. Lha wong tidak ada siapa-siapa!"
"Kata siapa! Tuh lihat saja sendiri."
Paijo tersentak melihat banyak orang sudah berjajar di pinggir peron. Entah darimana mereka bermunculan. Walau diselimuti perasaan gundah, Paijo bisa memastikan bahwa sedari tadi hanya dia dan lelaki tua itu yang ada di peron. Apakah pandangan matanya sudah bermasalah?
Jangan-jangan mereka bermunculan dari balik tiang-tiang besi, sudut-sudut gelap, tong sampah, atau sela-sela tumpukan gorengan. Ah, sepertinya mustahil. Tak mungkin begitu banyak orang bisa bersembunyi di peron yang lapang ini. Lalu dari mana mereka datang? Seketika Paijo merasa ada sesuatu yang ganjil.
Di antara para calon penumpang itu terlihat beberapa perempuan hamil, ibu mengendong bayi, ibu menuntun anak, orang lanjut usia, dan orang cacat. Aneh, biasanya penumpang prioritas seperti mereka hanya satu dua orang saja. Mengapa tiba-tiba mereka bisa berkumpul di peron ini.
Tak sempat berpikir panjang, kereta sudah datang dan perlahan menghentikan lajunya. Ketika pintu mulai terbuka, orang-orang berebut memasuki kereta. Suasana menjadi tidak terkendali. Orang-orang yang sehat dan gesit merangsek cepat memasuki pintu, menyisihkan penumpang prioritas yang hanya bisa menunggu kesempatan.
Tiba-tiba Paijo teringat keadaan ibunya. Ia harus segera sampai ke rumah sakit. Bagaimanapun juga ia harus bisa masuk ke dalam kereta terakhir. Tak akan ada lagi kereta yang melintas. Berpindah naik angkutan kota pasti akan memakan waktu yang lebih lama. Kalau ada apa-apa dengan ibunya, ia pasti akan menyesal seumur hidup. Bukankah surga ada di telapak kakinya.
Dalam kekalutan, Paijo mencoba ikut merangsek. Tapi badannya terhalang oleh tubuh-tubuh penumpang prioritas yang belum bisa masuk ke dalam kereta. Paijo mencoba merangsek ke pintu lain, tapi keadaannya sama saja. Bagaimana bisa! Kereta terakhir biasanya tak begitu banyak penumpangnya. Selintas ia ingin nekad naik atap kereta, tapi nyalinya begitu ciut.
Perlahan pintu kereta mulai menutup. Tak lama kemudian kereta mulai beranjak meninggalkan Stasiun Kota. Penumpang prioritas yang semuanya kaum perempuan itu masih berada di peron. Mereka hanya bisa mengeluh dan menggerutu.
"Seharusnya tadi kita bisa masuk kereta. Sayang, banyak penumpang duduk lesehan dan pakai kursi lipat. Jadi penuh deh! Coba kalau mereka mau berdiri."
Paijo yang bernasib serupa, tertunduk lesu di dekat lapak lelaki tua.
"Mengapa tidak jadi masuk?"
"Nggak bisa masuk Mang. Tuh ibu-ibu hamil juga tidak bisa masuk."
Kata Paijo sambil mengacungkan telunjuknya. Tapi kesadarannya kembali tersentak! Pergi kemana ibu-ibu hamil itu. Paijo mengucek-ucek matanya. Jangan-jangan, pandangan matanya memang bermasalah.
"Kemana mereka, Mang?"
"Mereka siapa? Dari tadi tidak ada orang lain."
"Mana mungkin Mang, mereka benar-benar ada. Sekarang bagaimana aku harus pulang."
"Kan bisa mencari angkutan lain."
"Tapi saya sudah kehilangan banyak waktu. Semua gara-gara penumpang sialan itu."
"Jangan suka mengumpat, Mas. Sekarang saya mau bertanya, bagaimana rasanya ketika hak kamu untuk pulang dihalangi?"
"Sedih sekali Mang. Saya harus segera ke rumah sakit. Harusnya saya bisa masuk ke dalam kereta itu. Kalau saja penumpang yang duduk lesehan dan di kursi lipat mau berdiri pasti saya bisa masuk."
"Tapi mengapa kamu membawa kursi lipat. Kamu mau ikut menghalangi hak orang lain juga?"
Kalimat dari lelaki tua itu terasa menohok kesadaran Paijo. Selama ini, ia selalu duduk di kursi lipat di dalam kereta. Jadi selama ini ia telah merampas kesempatan orang untuk naik kereta. Ah, mengapa ia disadarkan justru di saat-saat genting seperti ini. Ibu, kuatkan hatimu.
"Ya udah Mang, saya harus segera cari kendaraan lain."
Paijo bergegas menuju anak tangga. Dalam langkah tergesa, di bibir anak tangga, kakinya terpeleset. Keseimbangan tubuhnya limbung.
---oOo---
Brak!
Paijo mendapati dirinya jatuh terduduk di lantai kereta ekspress. Keringat dingin terasa membasahi sekujur tubuh. Tatapan mata penumpang seisi gerbong tertuju ke arahnya. Sebagian terlihat menahan tawa. Pasti sangat menggelikan melihat orang terjatuh dari kursi lipat.
Walau didera rasa malu, Paijo merasa lega. Ternyata ia hanya bermimpi buruk. Guncangan kereta telah meninabobokannya hingga terlelap. Ketika kesadaran dirinya mulai pulih, Paijo mengedarkan pandangannya ke seisi gerbong. Ia kembali terkejut.
Di sekelilingnya, beberapa penumpang sedang asyik duduk di kursi lipat dan lesehan. Matanya lekat menatap tiga orang ibu hamil, ibu-ibu menggendong anak dan seorang manula, sedang berdiri sambil mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya. Sementara, deretan kursi dipenuhi oleh perempuan-perempuan muda yang asyik dengan dunianya dan bapak-bapak tertidur lelap.
Seorang anak kecil nampak bergelayutan di kaki ayahnya. Paijo seketika teringat pada buah hatinya yang mulai belajar berdiri. Ia selalu memberi suntikan semangat pada Panji, anaknya, "Ayo Nak, kamu pasti bisa berdiri."
Paijo seketika berdiri. Kalau ia yakin tak lama lagi buah hatinya bisa berdiri kokoh, Paijo harus bisa juga menguatkan kesadaran dirinya sendiri.
"Ayo… Bangun-bangun, ada ibu hamil. Tolong kasih tempat duduk."
---oOo---
Paijo berjalan menyibak tubuh-tubuh yang memenuhi peron Stasiun Tanjung Harapan. Tangannya masih menenteng kursi lipat. Dia belum bisa memutuskan nasib benda yang selama ini menemani perjalananya. Tapi mimpi buruk itu telah mengusik perasaannya.
Tiba-tiba Paijo merasakan sebuah getaran di dalam tasnya. Ia berusaha mencari telepon genggamnya. Sebaris pesan pendek dari istrinya jelas terbaca, "Mas, jangan lupa mampir minimarket, beli susu kalsium buat ibu."
Senyum ibunya yang selalu tulus menghiasi rongga dada Paijo. Sebuah nasehat Ibunya kembali terngiang.
"Jagalah perasaan perempuan, sebagaimana engkau menjaga perasaan Ibu."
Di dekat pintu keluar, langkahnya kembali dihadang oleh ratap pengemis perempuan yang mendekap anaknya. Paijo meraba saku bajunya. Sambil berjalan tergesa ia meletakkan selembar uang ke dalam mangkuk plastik. Tapi, tak lama kemudian ia menghentikan langkahnya. Paijo seperti tersadar bahwa wajah pengemis itu persis seperti sosok pengemis yang tadi memasuki alam mimpinya.
Dengan kemantapan hati, ia berbalik arah menuju pengemis itu. Paijo membungkuk sambil menyerahkan kursi lipatnya.
"Kursi lipat ini untuk ibu saja. Saya kira Ibu lebih membutuhkannya."
---oOo---
(Setiyo Bardono)
Depok Radja, 09 Maret 2011
*) Penulis adalah penumpang krl ekonomi, tinggal di Depok
Salut untuk Bp. Setiyo bardono...... keren banget pak..... semoga bisa menyadarkan kaum kuli-ers dan lesehaners.. karena perilaku mereka itu terkategorikan dalam perbuatan dzalim.....
oh iya... sekarang yg lagi marak di KRL selain kuliers dan lesehaners... juga tentang bangku prioritas... banyak yg lebih berhak tidak mendapatkan... dengan alasan, yg pada duduk uda nunggu dari lama... dan u/ dapet duduk perlu perjuangan.... so tdk akan begitu saja melepas tempat duduk yg mereka dapet dengan segenap usaha.. meskipun kepada yg sebenarnya lebih ber hak...
KRL...oh KRL..... seribu kisah seribu jenis manusia.....
Terus terang saja, fenomena kuliper dan leseher masih saja terjadi di segala lintas, tidak terkecuali lintas Bekasi di mana saya sehari-harinya beraktivitas menggunakan KRL, dan seringkali saya dapati kuliper yang membandel dan tidak mau disuruh berdiri, dan kalau sudah seperti itu biasanya saya bilang PKD-nya atau tegur secara halus, dan kalau masih membandel juga sebuah tindakan tegas terpaksa diambil: ditendang.
Masalah kursi prioritas juga masih menjadi persoalan yang tiada habisnya, saya pergoki sendiri di dalam KRL ekonomi AC jurusan Bekasi yang penuh sesak tak ada seorang pun yang mau memberikan kursinya bagi seorang ibu hamil dan seorang lagi ibu menyusui yang membawa balita, yang jelas-jelas membutuhkan kursi tersebut.
(27-04-2011, 10:46 PM)Bangunkarta Wrote: wah sayang banget trid yang membahas salah satu persoalan krusial di KRL udah tenggelam... sundul lagi yaaaa....![]()
gimana neh temen2 Rokers......
masalah kulipers n lesehaners yang... makin mengganggu ini.... pasti temen2 Roker punya cerita2 unik ttg kulipers n lesehaners...... ane udah cerita banyak nih terutama geng2 ibu2.. di KKW... cuman di trid KKW....
gimana verita spesifik ttg kulipers n lesehaners nih
Dibandingkan leseher, kuliper sendiri populasinya lebih banyak, akan tetapi dari pantauan saya selama ini para kuliper sendiri masih lebih peduli ketimbang leseher (bahkan lebih parah lagi saya pernah menemukan ada oknum Dephub bernama N yang seenaknya duduk lesehan dengan beralaskan koran bahkan menghalangi pintu keluar masuk pengguna, dan sudah diingatkan untuk berdiri tetapi tetap saja ia duduk di lantai kereta dan hanya menggeser alas korannya saja).

![[Image: 2r56iya.jpg]](http://i56.tinypic.com/2r56iya.jpg)

![[Image: 8014645208_0fb788d2bb_c.jpg]](http://farm9.staticflickr.com/8435/8014645208_0fb788d2bb_c.jpg)

