Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pemkot Solo siapkan gerbong kereta api ditarik kuda
#21
waduh dulu alasan di berhentikanya trem kuda karena di samping tidak peri kebinatangan juga karena kotoran kuda berlepotan dimana mana padahal di lintas slamet riyadi kan pusatnya wisata kuliner
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
https://www.flickr.com/photos/36503981@N02/
Reply
#22
kecuali kalo "kuda putih"....

lha kalo yang ini saya setuju 120 % ...

Ngakak
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#23
kalau gerbongnya kaya' yang beroperasi sekarang ini...

bisa berapa kuda yang narik....

dulu sudah pernah ya ??? pakai gerbong khusus ya ???
Reply
#24
SOLO .... SOLO.... Kok ngganggo jaran ... mesakke jarane .... jaran saiki wes bedo karo jaran ndekmben ... ndekmben jarane kuat ... lha saiki sing ngopeni do ra tenanan ... mulane jaran saiki wes min ....
Reply
#25
(02-07-2010, 07:52 PM)ady_mcady Wrote: sekedar info saja. dulu waktu trem pertama di batavia menggunakan kuda, rata2 sehari 2 ekor kuda sakit atau mati karena kelelahan.

kasihan kudanya... Sakit

kudanya berapa biji ki?masa

kalo 2 kuda apa kuat narik gerbong?trus kalo 4 ato lebih kuda,emange kompak?takutnya satu belok kiri,satu belok kanan..ajibbbb..kuda kan punya naluri,kalo loko mah benda mati tapi marai jatuh hatiNgeledek
Reply
#26
@gerbongpupuk,

di buku tram reborn karya pak widoyoko (kalo belum punya silakan ke toko buku), ada ilustrasinya. satu gerbong tram ditarik 2 ekor kuda.

masalah kuda bisa kompak apa enggak, pernah lihat film2 tentara romawi sedang naik chariot (kereta perang)? kudanya ada banyak tapi bisa kompak tuh.
Ngeledek

btt,

saya kurang setuju kalo pakai kuda.
daripada kuda, mendingan "kuda putih" saja.

Ngakak
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#27
(06-07-2010, 06:41 PM)ady_mcady Wrote: @gerbongpupuk,

di buku tram reborn karya pak widoyoko (kalo belum punya silakan ke toko buku), ada ilustrasinya. satu gerbong tram ditarik 2 ekor kuda.

masalah kuda bisa kompak apa enggak, pernah lihat film2 tentara romawi sedang naik chariot (kereta perang)? kudanya ada banyak tapi bisa kompak tuh.
Ngeledek

btt,

saya kurang setuju kalo pakai kuda.
daripada kuda, mendingan "kuda putih" saja.

Ngakak

Wah sama saja mas, hrs diperbaiki dulu dan memakan waktu lama ...
Btw di Solo banyak kuda yg masih beroperasi utk andong (walaupun tdk sepopuler di Yogya) serta buat delman yg kalau sore sering dipakai anak2 buat keliling kampung. Lha trus maunya pakai apa? Apa ditarik saja dgn jasa manusia?
Ngakak
Reply
#28
Andong di sekitar Ps Legi, Solo masih lumayan. Bendi di Manahan cukup banyak (kudanya). Tapi kalau buat narik gerbong kereta perlu kuda yg besar.
.
Reply
#29
(06-07-2010, 06:41 PM)ady_mcady Wrote: @gerbongpupuk,

Jarang ke toko buku,,seringe ke semboyan35Xie Xie

kalo bukan kuda putih tapi kuda catur gimana?Ngakak

tapi kalo memang beneran,,besok musti bekerja ekstra keras biar ga diprotes ma aktifis pecinta satwa..Xie Xie
Reply
#30
Quote:Edisi : Jum'at, 09 Juli 2010 , Hal.III
Dishub siapkan jalur trem kuda

Laweyan (Espos) Dinas Perhubungan (Dsihub) Kota Solo menyiapkan jalur rel untuk kereta api kuda atau biasa disebut trem kuda.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Solo, Yosca Herman, kepada Espos Kamis (8/7), mengatakan, pihaknya telah mengkaji keberadaan rel yang menghubungkan antara Gladak hingga Stasiun Jebres.

Rel itu lah, yang kemungkinan menjadi jalur trem kuda.

Ia memperkirakan pada 2011, rel sepanjang 3 km itu siap dihidupkan kembali. “Sudah diajukan ke pusat tahun ini. Saat rel siap, tentunya moda transportasi apapun termasuk trem kuda juga bisa lewat di situ,” katanya, Kamis.

Selain itu, trem kuda juga dapat melintas di tengah kota, yaitu memanfaatkan rel di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Saat ini, rel yang menghubungkan antara Stasiun Purwosari dan Stasiun Kota tersebut telah dimanfaatkan untuk jalur Sepur Kluthuk Jaladara.

“Dengan kuda yang menarik gerbong dan berjalan di tengah kota, tentunya ini akan sangat menarik,” tambahnya. Ia optimistis trem kuda akan menarik wisatawan seperti halnya Sepur Kluthuk Jaladara.

Tak hanya itu, jalur Gladak-Stasiun Jebres juga dapat dimanfaatkan untuk rel bus. “Sudah ada rencana ke situ (pengadaan rel bus),” katanya. Keberadaan rel bus ini dapat mengurangi kemacetan yang ada di Solo.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Seni Budaya Sejarah dan Purbakala Disbudpar Solo, Mufti Raharjo mengungkapkan, trem kuda ini akan membutuhkan banyak kuda. Setiap 1-1,5 km di sepanjang jalur trem kuda, diperlukan kandang kuda yang berisi empat ekor kuda.

“Setelah berhenti di situ, kudanya diganti. Kemudian baru dapat melanjutkan perjalanan. Jadi butuh lebih banyak kuda,” katanya. Seperti halnya Sepur Kluthuk Jaladara, wisata ini juga berjenis pariwisata minat khusus atau special interest.

Trem kuda ini, kata Mufti, pernah digunakan pada masa Pakubuwono X sekitar awal tahun 1990. Biasanya, gerbong yang ditarik dengan kuda ini untuk membawa raja dan bangsawan dari Benteng Vastenburg ke Stasiun Jebres. - Oleh : m86

edisicetak.solopos.com

Tahun 1990 lagi? Tahun 1990 sudah eranya kereta api diesel Bingung
.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)