09-07-2010, 11:47 PM
Kejadian yang bikin was2 ini saya alami sekitar pertengahan tahun 2000 di sekitaran Stasiun Manggarai. Detilnya saya sudah lupa, tapi garis besarnya masih saya ingat sampai sekarang. Ceritanya begini..
Waktu itu rumah saya di Bekasi dan masih kuliah di Depok. Setiap pulang malam, sebagai RF, saya selalu berusaha menyempatkan diri naik KRL BOO-MRI-BKS (KRL Bogor yang kirim rangkaian buat dipakai di Bekasi esok harinya) dari stasiun UI, sekitar jam 18.30 kalo nggak salah (CMIIW), sebelum KRL jurusan BOO-THB-SRP. Nah suatu malam, saya naik KA tsb, dan yang giliran jadi KRL yang dikirim ke Bekasi malam itu KRL Holec.
Tidak ada yang aneh sepanjang perjalanan UI-MRI. Sampai MRI KRL masuk jalur 7, jalur yang biasa dipakai buat markir KRL BOO-MRI-BKS.
Pas berangkat ke Bekasi, terjadilah sesuatu yang menghebohkan. Ketika KA masih beringsut belok ke arah JNG (masih dekat percabangan sta MRI), tahu2 terdengar suara letupan yang cukup keras di atas atap KA, dan sontak KRL yang baru jalan beberapa meter itu berhenti, lampu dan mesinnya mati.
Saya dan para penumpang yang ada di atas KRL, yang hanya beberapa orang itu (seingat saya biasa memang KRL malam BOO-BKS itu sedikit banget penumpangnya) lari ke pintu, ingin tahu apa yang terjadi. Alangkah kagetnya kami ketika melihat ada kabel panjang menjuntai dari atas ke tanah dekat sekali dengan bodi KRL. Baru kami sadar bahwa kabel LAA yang digunakan KRL itu putus.
Langsung aja kami panik. Ada penumpang yang sempet teriak, "Ayo turun, nanti kesetrum".
Jadinya kami semua dengan dibayangi rasa takut berlompatan dari KRL jalan balik ke stasiun. Itu juga kami jalan dengan was2 berusaha menghindar menginjak besi rel takut kesetrum.
Entah, saya nggak tahu, apakah gara2 kabel putus itu aliran LAA otomatis mati atau memang dimatikan. Soalnya kemudian saya lihat beberapa KRL Bogor tertahan di stasiun MRI. Dan gara2 si Holec yang malang melintang itu waktu itu jalur yang ke arah JNG gak bisa dipake. Akibatnya, waktu itu saya sempet liat Argo Bromo JS950 yang ke arah SBI terpaksa jalan di jalur salah. Saya sendiri nggak stay lama2 di MRI karena kebetulan udah capek. Sekitar 15 menit kemudian saya memutuskan keluar dari stasiun MRI dan pulang dengan naik bis. Jadi saya tidak tahu ending dari drama kabel putus tersebut. Untung waktu itu gak hujan. Kalau aja hujan, saya nggak ngebayangin deh, bisa2 ada insiden lain selain insiden kabel putus itu.
Teman2 RF apa ada yang pernah ngalamin kejadian kayak saya diatas? Sebagai orang yang awam teknis perkeretaapian dan kelistrikan saya mau tanya, kira2 kenapa ya bisa putus gitu? Apakah berbahaya? Apakah pasokan listrik di kabel LAA akan otomatis mati atau harus dimatikan? Saya pernah dengar rumor (tau bener apa nggak) bahwa KRL Holec itu lebih bahaya dari Rheostatic karena kalo ada insiden semacam itu bisa mengalirkan setrum ke dalam rangkaiannya? Apa benar?
Waktu itu rumah saya di Bekasi dan masih kuliah di Depok. Setiap pulang malam, sebagai RF, saya selalu berusaha menyempatkan diri naik KRL BOO-MRI-BKS (KRL Bogor yang kirim rangkaian buat dipakai di Bekasi esok harinya) dari stasiun UI, sekitar jam 18.30 kalo nggak salah (CMIIW), sebelum KRL jurusan BOO-THB-SRP. Nah suatu malam, saya naik KA tsb, dan yang giliran jadi KRL yang dikirim ke Bekasi malam itu KRL Holec.
Tidak ada yang aneh sepanjang perjalanan UI-MRI. Sampai MRI KRL masuk jalur 7, jalur yang biasa dipakai buat markir KRL BOO-MRI-BKS.
Pas berangkat ke Bekasi, terjadilah sesuatu yang menghebohkan. Ketika KA masih beringsut belok ke arah JNG (masih dekat percabangan sta MRI), tahu2 terdengar suara letupan yang cukup keras di atas atap KA, dan sontak KRL yang baru jalan beberapa meter itu berhenti, lampu dan mesinnya mati.
Saya dan para penumpang yang ada di atas KRL, yang hanya beberapa orang itu (seingat saya biasa memang KRL malam BOO-BKS itu sedikit banget penumpangnya) lari ke pintu, ingin tahu apa yang terjadi. Alangkah kagetnya kami ketika melihat ada kabel panjang menjuntai dari atas ke tanah dekat sekali dengan bodi KRL. Baru kami sadar bahwa kabel LAA yang digunakan KRL itu putus.
Langsung aja kami panik. Ada penumpang yang sempet teriak, "Ayo turun, nanti kesetrum".
Jadinya kami semua dengan dibayangi rasa takut berlompatan dari KRL jalan balik ke stasiun. Itu juga kami jalan dengan was2 berusaha menghindar menginjak besi rel takut kesetrum.
Entah, saya nggak tahu, apakah gara2 kabel putus itu aliran LAA otomatis mati atau memang dimatikan. Soalnya kemudian saya lihat beberapa KRL Bogor tertahan di stasiun MRI. Dan gara2 si Holec yang malang melintang itu waktu itu jalur yang ke arah JNG gak bisa dipake. Akibatnya, waktu itu saya sempet liat Argo Bromo JS950 yang ke arah SBI terpaksa jalan di jalur salah. Saya sendiri nggak stay lama2 di MRI karena kebetulan udah capek. Sekitar 15 menit kemudian saya memutuskan keluar dari stasiun MRI dan pulang dengan naik bis. Jadi saya tidak tahu ending dari drama kabel putus tersebut. Untung waktu itu gak hujan. Kalau aja hujan, saya nggak ngebayangin deh, bisa2 ada insiden lain selain insiden kabel putus itu.
Teman2 RF apa ada yang pernah ngalamin kejadian kayak saya diatas? Sebagai orang yang awam teknis perkeretaapian dan kelistrikan saya mau tanya, kira2 kenapa ya bisa putus gitu? Apakah berbahaya? Apakah pasokan listrik di kabel LAA akan otomatis mati atau harus dimatikan? Saya pernah dengar rumor (tau bener apa nggak) bahwa KRL Holec itu lebih bahaya dari Rheostatic karena kalo ada insiden semacam itu bisa mengalirkan setrum ke dalam rangkaiannya? Apa benar?
Kapan ya rakyat Indonesia diberi kado berupa semua jalur KA hidup lagi oleh pemerintah..
