Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Mengapa Masih Membudaya Berebut Keluar - Masuk KA?
#11
Namanya juga BUDAYA jadi sedapat mungkin tidak boleh dihilangkan.Ngakak
itu uda ciri khas jadi kalo malah tertib gitu yang masuk kereta 1 per 1 malah aneh kelihatannya.

jadi biarkan saja orang pada naek kereta seperti itu karena mereka juga senang, gada yang sedih ataupun kritik KA karena hal itu.

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#12
Hmm dahulukan yang turun terlebih dahulu.
Nampaknya hal tersebut kurang diterapkan di masyarakat kita.
Sosialisasi pun kurang dilakukan di stasiun2 pemberhentian

Walaupun ada yg nyelonong bae. Tapi kalau saya sendiri tentu mendahulukan yg turun sekalian memberi contoh juga kepada yg lain :p
Selain jadi lebih tertib, tentu masuknya pun akan lebih mudah kan Pisss ahhh...
Reply
#13
Kenapa rebutan..ya karena rame, dan cari posisi enak.
Alasan rebutan naik:
- mencari tempat duduk kosong...biasanya ibu-ibu atau perempuan.
- mencari tempat tas yang kosong.

alasan rebutan turun
- berebut tangga di stasiun, makin cepat keluar stasiun berarti cepat dapat ojek/bus/angkot untuk ke kantor/ke rumah. Bisa lebih cepat sampai mesin absen di kantor. Inget juga dulu cepet-cepet keluar parahyangan di bandung, karena kalau belakangan, angkot nya gak penuh, berarti akan lama berangkat nya.

Rebutan itu ga ada salah nya..yang penting jangan sampe adu jotos. Dan hak orang tua, cacat, ibu hamil, anak-anak diberikan tempat duduk.

pakai prinsip lebih cepat lebih baik. Dahulukan penumpang keluar.
Reply
#14
(05-12-2010, 09:54 PM)Adi Sutjipto Wrote: Mungkin karena masih tetangga dekat Mas,
kan masih agak serumpun.....
Tapi, jangan-jangan, yang jadi tukang serobot
dan tidak sabaran dinegara tersebut,
orang-orang kita juga, yang kebetulan kerja disana.....
Mikir DuluCuriga Baget

Wah mas Adi Sutjipto, saya sebenarnya cukup berbangga sebagai orang Indonesia karena di luar negeri itu orang Indonesia itu pekerja keras, dan hasil kerjanya rapi. (Beda dengan orang kaya India yang kerja keras tapi hasilnya awut-awutan, atau orang Filipino yang kerja keras, tapi minum keras juga).
Orang Indonesia itu juga cukup mudah diatur dan disiplin.

Tidak seperti orang 'Nam (plus tetangga Utaranya) atau Pinoy.

Bukannya tendensius yah, tapi sekedar mengingatkan kalau sebenarnya orang Indonesia itu cukup disiplin dan mudah diatur, tetapi pemerintahnya yang susah mengatur.

Jadi jangan buru-buru memandang rendah bangsa sendiri begitu. Indonesia

Sekarang, kembali ke Sepur 1 Lok Merah Biru
Reply
#15
^^ setuju dengan bagus..katanya tukang batu (tukang) asal Indonesia di malaysia kerjanya bagus loh
Reply
#16
hmm, seandainya mengadopsi sistem "spanish solution", kira2 bisa menertibkan penumpang kah?

[Image: 220px-Spaanse_methode.svg.png]
sumber: wiki

seperti usul mas van_baso, penumpang naik dari sebelah kiri kereta, dan turun di sebelah kanan. atau sebaliknya.
jadi menuntut adanya perubahan disain platform dengan menambahkan satu platform pulau diantara 2 rel.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#17
(06-12-2010, 05:09 PM)m_ilhami Wrote: Kenapa rebutan..ya karena rame, dan cari posisi enak.
Alasan rebutan naik:
- mencari tempat duduk kosong...biasanya ibu-ibu atau perempuan.
- mencari tempat tas yang kosong.

alasan rebutan turun
- berebut tangga di stasiun, makin cepat keluar stasiun berarti cepat dapat ojek/bus/angkot untuk ke kantor/ke rumah. Bisa lebih cepat sampai mesin absen di kantor. Inget juga dulu cepet-cepet keluar parahyangan di bandung, karena kalau belakangan, angkot nya gak penuh, berarti akan lama berangkat nya.

Rebutan itu ga ada salah nya..yang penting jangan sampe adu jotos. Dan hak orang tua, cacat, ibu hamil, anak-anak diberikan tempat duduk.

pakai prinsip lebih cepat lebih baik. Dahulukan penumpang keluar.

betul, lbh baik dahulukan penumpang keluar.. optimalkan kerja polsuska buat ngatur" penumpang biar g tabrakan d pintu" kereta..

lbh penting lg ubah mental masyarakat, biar g saling berebut, soalnya budaya 'rebutan' ini udh terjadi di mana".. budayakan antri..
Lok Merah Biru CC20408
Reply
#18
(06-12-2010, 05:10 PM)bagus70 Wrote: [quote='Adi Sutjipto' pid='208784' dateline='1291560884']

Bukannya tendensius yah, tapi sekedar mengingatkan kalau sebenarnyaorang Indonesia itu cukup disiplin dan mudah diatur, tetapi pemerintahnya yang susah mengatur.

Jadi jangan buru-buru memandang rendah bangsa sendiri begitu. Indonesia

Sekarang, kembali ke Sepur 1 Lok Merah Biru

Gus,
perhatikan kalimat anda yang saya tebalkan, kalau ada "sebenarnya", berarti ada yang tidak sebenarnya ?

Sebenarnya mudah, tetapi..... ?
Artinya mudah diatur atau susah diatur ?
Dan yang saat ini sedang berlangsung, yang mana ?
Sebenarnya ya, atau sebenarnya, tidak ?

Pemerintah susah mengatur, mengapa susah ?
Kalau sudah tertib, susah untuk apa ?
Untuk ketertiban. tidak perlu harus pemerintah turun tangan,
jangan menyalahkan orang lain,
dimulai dari diri sendiri dulu kan ?

Jadi, sebenarnya, kita ini prihatin !
Minim, tidak ikut menyerobot lampu merah,
tidak membuang sampah sembarangan, atau dengan
sabar mengantre sesuai urutan, dll.
Paling tidak, dengan tidak ikut melanggar, yang melakukan pelanggaran, berkurang satu,
jika kita tidak ikut-ikutan !

[spoiler] Catatan buat anda ;

Siapa yang memandang rendah bangsa sendiri ?
Saya orang Indonesia dan saya bangga itu !
Tapi, jika memang ada kekurangan, ya harus kita akui,
dan tentunya berusaha segera diperbaiki bukan ?
Dan tidak menyalahkan orang/ pihak lain.
Jangan seperti anak kecil, yang karena kurang hati-hati,
kepalanya terbentur tembok,
lalu temboknya yang disalahkan !

Asal anda tahu saja, sebenarnya [dan ini memang benar],
nama saya juga sudah tercatat di Pusat Cadangan Nasional
sejak tahun 1984,
dan itu, saya yang mendaftar atas keinginan sendiri !
Apa nama anda juga sudah terdaftar disana, [dalam bela negara],
atas kesadaran anda sendiri ?

Sehingga anda punya pemikiran, saya merendahkan,
yang dapat diartikan, bila kita tidak berpikir jauh,
tidak mencintai negara ini,
hanya dari postingan saya sebelumnya ?
Sederhana sekali ya, pemikiran anda, kalau memang demikian.

Lain kali, ada baiknya dipikir dulu,
sebelum menulis dan mempostingnya,
sehinga tidak menyinggung orang lain.
Makanya, anda sering berpolemik dimana-mana bukan ?


* kalimat anda yang terakhir itu, saya tidak suka ![/spoiler]







Reply
#19
agak OOT dikit..... mungkin jangan pake kata budaya, karena menurut saya Budaya itu sesuatu yang bernilai luhur....
lha kalo berebutan masuk,....?????

mungkin pake kata kebiasaan aja....
kebiasaan masyarakat berebut bisa disebabkan karena mental dari masyarakat kita sendiri yang terbentuk karena lingkungan....

Coba lihat kayak di JAKK, belum juga yang di dalem menginjakkan kaki di peron, patra calon penumpang di luar sudah berusaha untuk masuk ke dalam kereta, orang yang terbiasa dengan hal itu, mungkin ketika 1-2 kali masih bisa bersabart, tapi kalo setiap hari..... hal2 untuk menghormati orang lain pun seakan terabaikan. Mereka seperti ga mempedulikan hak orang lain yang ada di dalam untuk keluar.
[Image: 30dl4ie.jpg]
Reply
#20
(06-12-2010, 10:16 PM)samnawi Wrote: agak OOT dikit..... mungkin jangan pake kata budaya, karena menurut saya Budaya itu sesuatu yang bernilai luhur....
lha kalo berebutan masuk,....?????

mungkin pake kata kebiasaan aja....
kebiasaan masyarakat berebut bisa disebabkan karena mental dari masyarakat kita sendiri yang terbentuk karena lingkungan....

Coba lihat kayak di JAKK, belum juga yang di dalem menginjakkan kaki di peron, patra calon penumpang di luar sudah berusaha untuk masuk ke dalam kereta, orang yang terbiasa dengan hal itu, mungkin ketika 1-2 kali masih bisa bersabart, tapi kalo setiap hari..... hal2 untuk menghormati orang lain pun seakan terabaikan. Mereka seperti ga mempedulikan hak orang lain yang ada di dalam untuk keluar.

Top BangetTop BangetTop Banget
Betul Mas,
makanya, kita prihatin dengan kejadian rutin setiap hari ini.
Yang namanya PKD, kasihan, sampai teriak-teriak terus.....
Begitu susahnya menyadarkan calon penumpang,
kadang sampai membawa megaphone, atau pinjam mic dari ruang PPKA.
Jadi,
dimulailah dari diri sendiri, minim, sedikit bersabar.....
Bye Bye

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)