Posts: 254
Threads: 0
Joined: Jun 2010
Reputation:
6
^^^
- setahu saya kekurangan motor induksi 3 fasa pas start awal nyedot arus listrik cukup besar (lebih besar dari motor DC malah) sekitar 6-7 kali dari arus nominal setelah berjalan
- kalau masalah HOLEC kayaknya sih dari inverter traksi atau kontrolnya bukan motor traksinya, buktinya krl Hitachi dan beberapa KRL eks-Tokyu yang juga pakai motor 3 fasa sampai sekarang jarang mogok (kalo KRL-I saya kurang tahu)
Yah mugkin suku cadangnya kurang atau spesifikasi yg kurang cocok di lintas jabotabek ditambah lagi iklim Indo yang lembab-panas berdebu
- Bisa saja dijalankan, tapi LAA AC yang seperti di negara2 eropa masih AC 1 fasa jadi KRLnya harus ditambahkan rectifier/penyearah
arus (semacam dioda gitu) menjadi DC untuk kemudian diubah lagi menjadi AC 3 fasa oleh inverter traksi.
CMIIW maklum sama2 masih belajar hehehe..
Untuk lebihnya kayakya Mas Charles yang lebih tahu..
Berharap Rangkas Jaya ditarik lokomotif listrik..
Posts: 1,184
Threads: 0
Joined: Dec 2011
Reputation:
13
No 3 setau saya sih yg lg dielektrifikasi ya citayam - nambo
Posts: 1,200
Threads: 0
Joined: Jul 2008
Reputation:
19
4. Kalau diubah, apakah KRL-KRL yang sebagian besar teknologi kelistrikannya tua masih bisa dioperasikan?
Posts: 333
Threads: 0
Joined: Sep 2010
Reputation:
2
sundul dulu
Citayam-Nambo elektrifikasi? Kapan itu? Jalurnya aja masih mati suri.
visit my blog
Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api'
RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
wah, mas loko dapat info dari mana soal upgrade voltase ke 15 kV DC?
btw, ternyata "penyetruman" alias eletrifikasi mahal juga ya biayanya. kalau diindonesia, dari berita2 yang ada dimedia, rata2 per km bisa habis 20-30 milyar. penyetruman nambo yang jaraknya sekitar 10 km habis kira2 300 milyar. padalarang-cicalengka yang 40 km kira2 habis 1.2 triliun katanya.
kalau dibandingkan di amerika yang pakai 25 kV AC, per 5-6 km bisa buat beli lok baru seharga 2.5 juta dollar. berarti kalo di rata2 sekitar 5 milyar rupiah per km.
apakah ada pengaruhnya dari sistem DC 1.5 kV? saya pernah baca, sistem voltase rendah arus tinggi memerlukan kabel yang lebih tebal dan gardu listrik yang banyak.
mohon pencerahannya...
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
nah, sekarang saya mau tanya lagi nih. kira2 kalau biaya pembangunan jaringan LAA baru, mana yang lebih murah biayanya, membangun sistem DC atau AC, Voltase tinggi atau rendah?
maaf mas bravo sepertinya thread ini se "fase" dengan thread nya mas kikansha_otaku
ini. mungkin bisa digabung saja biar lebih efisien. trims.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 254
Threads: 0
Joined: Jun 2010
Reputation:
6
Tak coba jawab ya..CMIIW...
No.1 setahu saya untuk penyearahan arus listrik yang jelas jaman sekarang teknologi yg dipakai semikonduktor (semacam dioda gitu), kalo jaman lok Bon-Bon masih berjaya dulu pakai teknologi tabung kaca vakum berisi air raksa (mercury arc rectifier) c/o GLAA Jatinegara & Ancol. Malah dulu sebelum dipakai teknologi air raksa, LAA. disupply langsung dari generator DC yg berukuran besar (rotary converter).
Lengkapnya bisa dilihat di sini:
http://listrikaliranatas.blogspot.com
No.4 Khusus untuk lintas2 jarak jauh yang belum terelektrifikasi, dari pada pakai tegangan 25kV AC lebih cocok pakai tegangan 20kV AC, lagi pula teg. 20kV sudah sama dengan sistem distribusi ketenagalistrikan PLN, jadi dapat langsung disupply dari gardu induk PLN yang sudah ada (tidak perlu bangun gardu baru). & sukur2 lagi dapat hibahan lok listrik JRF macam EH500 yang bertegangan 1,5kV DC / 20kV AC hehehe...
Berharap Rangkas Jaya ditarik lokomotif listrik..