31-07-2010, 09:33 PM
Atasi Macet Total, Bangkitkan KRL
Rabu, 28 Juli 2010 | 03:43 WIB
Haryo Damardono
Jakarta di ambang kematian. Kita bukan Tuhan, tetapi secara matematis dapat dihitung masa hidup Jakarta tinggal dua tahun sebelum terbenam dalam kesesakan kendaraan dan kemacetan massal di seluruh penjuru kota. Pada hari itu, tak peduli punya mobil Porsche Cayenne Turbo 4.806 cc ataupun bajaj, Anda tak akan mampu pergi ke mana pun. Kemacetan akan menghentikan laju kendaraan Anda tak terkecuali.
Lalu, bagaimana memperpanjang usia Jakarta? Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menegaskan, hanya dengan menambah transjakarta dan kereta rel listrik (KRL) dalam tempo sesingkat-singkatnya. â€ÂBila tidak, kamu siap-siap kos di Palmerah atau kita kamping di Senayan,†kata Bambang seusai â€ÂGowes Bareng Kompasâ€Â.
Sejarah mencatat, di tangan Pemerintah Hindia Belanda, transportasi Batavia mendapat panggung. Sejak 10 April 1899, Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) sudah mengoperasikan trem listrik, yang jadi cikal bakal KRL. Padahal, trem listrik di Belanda baru ada pada Juli 1899.
Namun, tahun 1900-an, transportasi kota lain melesat. Sejak Desember 1927, subway pertama melaju antara Stasiun Asakusa dan Ueno, Jepang. Pada tahun itu, warga Jakarta masih naik trem listrik Menteng-Harmoni atau Menteng-Gunung Sahari-Kota Bawah.
Kini ada sembilan jalur subway di Tokyo Metro Line (Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, dan Fukutoshin Line) serta empat jalur subway Toei Line (Asakusa, Mita, Shinjuku, dan Oedo Line).
Tahun 2000, Kaisar Akihito yang trenyuh melihat buruknya KRL Jabodetabek menghibahkan 72 KRL AC seri 6000. Kini, kereta-kereta bekas Tokyo itu melaju di Jabodetabek.
KRL langka
Di tengah kebutuhan menambah armada, ternyata KRL bekas kini langka. â€ÂKarena krisis, peremajaan subway Tokyo ditunda,†kata Sekretaris Perusahaan PT Kereta Api Commuter Jabodetabek (KCJ), anak perusahaan PT Kereta Api, Makmur Syaheran.
Rencananya, datang 88 KRL (2009), 92 KRL (2010), dan 166 KRL (2011), tetapi semuanya meleset dari jadwal. Namun, syukurlah pada Februari 2010, hadir 8 KRL dan April-Juli 2010 tiba 40 KRL tipe 4000 dari Tokyo Metro. Pada Agustus 2010 akan datang 20 unit, September 10 unit, Oktober 10 unit, dan November 10 unit KRL.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan mengatakan, November diserahkan 4 KRL baru buatan PT INKA dan 4 KRL baru lainnya pada Desember. â€ÂTahun 2011 diserahkan 32 KRL baru,†katanya.
Namun, bila jumlah armada ditargetkan 886 KRL bagi 3 juta penumpang per hari pada tahun 2015, KRL bekas Jepang dan KRL baru INKA belum cukup. Apalagi, dari 386 KRL, hanya 340 unit yang beroperasi. Puluhan unit lainnya telah uzur.
Sebenarnya, PT KCJ telah melakukan tender pengadaan kereta dari seluruh dunia, tak hanya dari Jepang. Namun, tiada peserta negara lain, apalagi kereta bekas berspesifikasi mirip KRL hanya dari Jepang, Selandia Baru, dan Afrika Selatan.
Taufik Hidayat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyarankan PT KCJ dan Ditjen Perkeretaapian â€Âmelongok†India dan China.
â€ÂPelajari kereta listrik dari dua negara itu. Bila perlu, sewa ahli dari sana untuk menularkan ilmu di depo-depo kita,†ujarnya.
Taufik mengecam keter- gantungan terhadap teknologi kereta Jepang. â€ÂKita harus belajar meningkatkan kemampuan pengembangan kereta listrik. Teknologi kereta bekas Jepang itu tertinggal dan tidak ada suku cadangnya lagi,†katanya.
Sinergi total
Terkait kemacetan Jakarta, KRL harus mampu berperan maksimal dalam waktu dekat. Untuk itu, bukan hanya dibutuhkan investasi besar, tetapi juga komitmen pemimpin Jakarta, badan usaha milik negara, dan pemerintah pusat.
Selain itu, juga harus didorong keterlibatan pemerintah daerah untuk menertibkan warganya. Kementerian Perhubungan telah membangun pagar di jalur rel, tetapi masyarakat masih membangun gubuk dalam pagar. Akibatnya, kereta menurunkan kecepatan sehingga target headway meleset.
Kini, headway (jarak antarkereta) 15 menit. Tahun 2015, headway-nya hanya empat menit. Bila DKI Jakarta tak membangun jembatan layang di pelintasan sebidang, kemacetan tak terelakkan.
Perusahaan Listrik Negara juga perlu menambah daya listrik seiring penambahan kereta. Jangan sampai listrik tiada ketika armada KRL datang.
Sementara Kementerian Keuangan harus menggelontorkan dana subsidi (public service obligation/PSO) lebih besar. Tak sekedar Rp 535 miliar per tahun, tetapi minimal Rp 700 miliar supaya layanan KRL ekonomi membaik dan â€Âmengundang†rakyat naik KRL.
Meski PT KAâ€â€dalam hal ini PT KCJâ€â€tidak berpretensi mencari keuntungan dalam pengoperasian KRL ekonomi dan KRL ekonomi AC yang mengangkut lebih dari 105 juta orang per tahun, sesuai isi kontrak PSO, ada marjin keuntungan enam persen. Artinya, tidak ada alasan bagi PT KA untuk tidak mengembangkan KRL karena jelas menguntungkan.
Wakil Menteri Perhubungan menjanjikan, minggu depan, matriks terpadu rencana aksi sudah selesai. â€ÂNanti jelas, kapan listrik ditambah, kapan kereta ditambah, atau kapan peron diperpanjang, dari 8 jadi 10 unit kereta KRL,†kata Bambang.
Revolusioner
Dalam sisa dua tahun, Jakarta memang harus bertindak revolusionerâ€â€tidak sekadar berpikir jika ingin mengurai kemacetan total. Bila masalahnya dana, alokasikan dana lebih cerdas untuk transportasi. Warga lebih butuh KRL daripada taman kota, lampu hias, atau patung.
Pajak kendaraan DKI Jakarta Rp 5,5 triliun per tahun harus dikembalikan dalam bentuk bus atau KRL. Hitungan kasarnya, bila dibelikan KRL, akan diperoleh 687,5 KRL baru.
Dalam waktu yang tersisa, hanya KRL, selain transjakarta, yang dapat menaklukkan kemacetan. Apalagi, Tundjung menegaskan, cangkul di proyek MRT baru diayunkan pada akhir tahun 2012 saat kemacetan total (grid-lock) tiba. Artinya, MRT adalah solusi masa depan, sementara kita butuh solusi lebih dini!
http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/re...kitkan.KRL
Rabu, 28 Juli 2010 | 03:43 WIB
Haryo Damardono
Jakarta di ambang kematian. Kita bukan Tuhan, tetapi secara matematis dapat dihitung masa hidup Jakarta tinggal dua tahun sebelum terbenam dalam kesesakan kendaraan dan kemacetan massal di seluruh penjuru kota. Pada hari itu, tak peduli punya mobil Porsche Cayenne Turbo 4.806 cc ataupun bajaj, Anda tak akan mampu pergi ke mana pun. Kemacetan akan menghentikan laju kendaraan Anda tak terkecuali.
Lalu, bagaimana memperpanjang usia Jakarta? Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menegaskan, hanya dengan menambah transjakarta dan kereta rel listrik (KRL) dalam tempo sesingkat-singkatnya. â€ÂBila tidak, kamu siap-siap kos di Palmerah atau kita kamping di Senayan,†kata Bambang seusai â€ÂGowes Bareng Kompasâ€Â.
Sejarah mencatat, di tangan Pemerintah Hindia Belanda, transportasi Batavia mendapat panggung. Sejak 10 April 1899, Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) sudah mengoperasikan trem listrik, yang jadi cikal bakal KRL. Padahal, trem listrik di Belanda baru ada pada Juli 1899.
Namun, tahun 1900-an, transportasi kota lain melesat. Sejak Desember 1927, subway pertama melaju antara Stasiun Asakusa dan Ueno, Jepang. Pada tahun itu, warga Jakarta masih naik trem listrik Menteng-Harmoni atau Menteng-Gunung Sahari-Kota Bawah.
Kini ada sembilan jalur subway di Tokyo Metro Line (Ginza, Marunouchi, Hibiya, Tozai, Chiyoda, Yurakucho, Hanzomon, Namboku, dan Fukutoshin Line) serta empat jalur subway Toei Line (Asakusa, Mita, Shinjuku, dan Oedo Line).
Tahun 2000, Kaisar Akihito yang trenyuh melihat buruknya KRL Jabodetabek menghibahkan 72 KRL AC seri 6000. Kini, kereta-kereta bekas Tokyo itu melaju di Jabodetabek.
KRL langka
Di tengah kebutuhan menambah armada, ternyata KRL bekas kini langka. â€ÂKarena krisis, peremajaan subway Tokyo ditunda,†kata Sekretaris Perusahaan PT Kereta Api Commuter Jabodetabek (KCJ), anak perusahaan PT Kereta Api, Makmur Syaheran.
Rencananya, datang 88 KRL (2009), 92 KRL (2010), dan 166 KRL (2011), tetapi semuanya meleset dari jadwal. Namun, syukurlah pada Februari 2010, hadir 8 KRL dan April-Juli 2010 tiba 40 KRL tipe 4000 dari Tokyo Metro. Pada Agustus 2010 akan datang 20 unit, September 10 unit, Oktober 10 unit, dan November 10 unit KRL.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan mengatakan, November diserahkan 4 KRL baru buatan PT INKA dan 4 KRL baru lainnya pada Desember. â€ÂTahun 2011 diserahkan 32 KRL baru,†katanya.
Namun, bila jumlah armada ditargetkan 886 KRL bagi 3 juta penumpang per hari pada tahun 2015, KRL bekas Jepang dan KRL baru INKA belum cukup. Apalagi, dari 386 KRL, hanya 340 unit yang beroperasi. Puluhan unit lainnya telah uzur.
Sebenarnya, PT KCJ telah melakukan tender pengadaan kereta dari seluruh dunia, tak hanya dari Jepang. Namun, tiada peserta negara lain, apalagi kereta bekas berspesifikasi mirip KRL hanya dari Jepang, Selandia Baru, dan Afrika Selatan.
Taufik Hidayat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyarankan PT KCJ dan Ditjen Perkeretaapian â€Âmelongok†India dan China.
â€ÂPelajari kereta listrik dari dua negara itu. Bila perlu, sewa ahli dari sana untuk menularkan ilmu di depo-depo kita,†ujarnya.
Taufik mengecam keter- gantungan terhadap teknologi kereta Jepang. â€ÂKita harus belajar meningkatkan kemampuan pengembangan kereta listrik. Teknologi kereta bekas Jepang itu tertinggal dan tidak ada suku cadangnya lagi,†katanya.
Sinergi total
Terkait kemacetan Jakarta, KRL harus mampu berperan maksimal dalam waktu dekat. Untuk itu, bukan hanya dibutuhkan investasi besar, tetapi juga komitmen pemimpin Jakarta, badan usaha milik negara, dan pemerintah pusat.
Selain itu, juga harus didorong keterlibatan pemerintah daerah untuk menertibkan warganya. Kementerian Perhubungan telah membangun pagar di jalur rel, tetapi masyarakat masih membangun gubuk dalam pagar. Akibatnya, kereta menurunkan kecepatan sehingga target headway meleset.
Kini, headway (jarak antarkereta) 15 menit. Tahun 2015, headway-nya hanya empat menit. Bila DKI Jakarta tak membangun jembatan layang di pelintasan sebidang, kemacetan tak terelakkan.
Perusahaan Listrik Negara juga perlu menambah daya listrik seiring penambahan kereta. Jangan sampai listrik tiada ketika armada KRL datang.
Sementara Kementerian Keuangan harus menggelontorkan dana subsidi (public service obligation/PSO) lebih besar. Tak sekedar Rp 535 miliar per tahun, tetapi minimal Rp 700 miliar supaya layanan KRL ekonomi membaik dan â€Âmengundang†rakyat naik KRL.
Meski PT KAâ€â€dalam hal ini PT KCJâ€â€tidak berpretensi mencari keuntungan dalam pengoperasian KRL ekonomi dan KRL ekonomi AC yang mengangkut lebih dari 105 juta orang per tahun, sesuai isi kontrak PSO, ada marjin keuntungan enam persen. Artinya, tidak ada alasan bagi PT KA untuk tidak mengembangkan KRL karena jelas menguntungkan.
Wakil Menteri Perhubungan menjanjikan, minggu depan, matriks terpadu rencana aksi sudah selesai. â€ÂNanti jelas, kapan listrik ditambah, kapan kereta ditambah, atau kapan peron diperpanjang, dari 8 jadi 10 unit kereta KRL,†kata Bambang.
Revolusioner
Dalam sisa dua tahun, Jakarta memang harus bertindak revolusionerâ€â€tidak sekadar berpikir jika ingin mengurai kemacetan total. Bila masalahnya dana, alokasikan dana lebih cerdas untuk transportasi. Warga lebih butuh KRL daripada taman kota, lampu hias, atau patung.
Pajak kendaraan DKI Jakarta Rp 5,5 triliun per tahun harus dikembalikan dalam bentuk bus atau KRL. Hitungan kasarnya, bila dibelikan KRL, akan diperoleh 687,5 KRL baru.
Dalam waktu yang tersisa, hanya KRL, selain transjakarta, yang dapat menaklukkan kemacetan. Apalagi, Tundjung menegaskan, cangkul di proyek MRT baru diayunkan pada akhir tahun 2012 saat kemacetan total (grid-lock) tiba. Artinya, MRT adalah solusi masa depan, sementara kita butuh solusi lebih dini!
http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/re...kitkan.KRL
.

