Quote:Dengan penghapusan loket tersebut, Rapino menyebutkan, penumpang tidak akan pusing untuk mengantre tiket. Mereka tinggal datang ke stasiun untuk berangkat, seperti halnya di bandara. "(Penumpang) enggak pusingin tiket lagi. Stasiun tinggal ngurusin kereta dan penumpang," tambah Rapino.
Ia menambahkan, tiket dapat dibeli di agen atau melalui layanan online. "Enggak ada penumpukan antrean. (Penumpang) yang datang yang siap berangkat," tegas Rapino.
Dampak positif lainnya, penjualan tiket ilegal melalui calo pun dapat diberantas. Apalagi, lanjut dia, pegawai KAI sering kali diberitakan terlibat dalam penjualan tiket secara ilegal itu.
Sisi positif dan negatif yang bisa ditarik dari rencana penghapusan loket KA jarak jauh ini adalah:
- Sisi positif
1. Tak ada lagi antrian berjubel dan calo ilegal yang merugikan pembeli tiket.
2. Kondisi stasiun lebih tertib dan terorganisir.
3. Penumpang tidak pusing soal ketersediaan tiket dan tempat duduk untuk tanggal keberangkatan tertentu.
- Sisi negatif
1. Biaya tambahan yang dibebankan kepada calon pengguna karena membeli melalui agen resmi.
2. Tak ada kesempatan untuk pengguna yang masih mengandalkan pembelian model konvensional.
3. Banyak calon pengguna yang belum mengetahui cara pemesanan online maupun agen.
4. Tak tersedianya sarana yang memadai untuk pengurusan tiket apabila calon pengguna ternyata membatalkan/mengembalikan atau mengubah tanggal keberangkatan pada tiket yang telah dibeli.
(30-08-2011, 05:38 PM)enrico Wrote: kebijakan yang makin aneh....
namanya stasiun ya harus ada loketnyalah...
macam mana pula ini???
Kalaupun tidak ada loket konvensional, dalam pemikiran saya perlu ada sistem loket elektronik yang dijaga SDM PT. KAI (Persero) sehingga pengguna KA jarak jauh yang ingin berangkat pada hari itu juga bisa langsung membeli tiket selama masih ada kursi yang kosong pada hari tersebut.
(30-08-2011, 06:21 PM)Joe_cn Wrote: Kalo menurut saya, moda transportasi kereta api tuh kebanyakan dipake oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, jangan selalu disamakan dengan pesawat, seperti kemaren masalah boarding sangat amat mengganggu bila belum ada sosialisasi.
Saya pikir loket itu uda pilihan tepat dan sudah menjadi budaya sendiri untuk orang2 Indonesia.
Saya bukan anti sama cara baru yang sangat modern tapi apa masyarakat Ina uda siap menerima cara baru tersebut?
Sudah berapa persen masyarakat pengguna KA yang menggunakan sistem on line dan menggunakan agen?
Pengguna kereta api sendiri memang sebagian besar adalah masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang mana mereka membutuhkan ketepatan pelayanan, apalagi jika mereka tidak mengetahui jadwal keberangkatan KA yang akan mereka naiki.
Menurut saya masih sedikit yang menggunakan jasa agen, drive-thru atau pemesanan daring (via 121), sebagian besar memilih mengantri di loket karena faktor perbedaan harga dengan harga yang ditawarkan agen perjalanan.
(30-08-2011, 08:04 PM)eling Wrote: ooo ini ujung2nya untuk menekan cost biaya SDM.....
sebetulnya tiket di stasiun tidak perlu di hapus, hanya saja porsi penjualan tiket di stasiun di kurangi porsi lebih besar di jual di agen2.....

Langkah semacam ini pun perlu diimbangi dengan penurunan agency fee agar tidak terlalu berbeda jauh antara tiket yang dijual di loket dengan yang dijual di stasiun.
Dari hemat saya, lebih baik sistem ala mas eling dipakai daripada keberadaan loket untuk KA jarak jauh dihapuskan sama sekali, dan kalaupun loket manual dengan SDM harus dihapuskan tentu harus ada penggantinya yang sesuai (berupa solusi mesin penjual tiket otomatis yang terkomputerisasi).