Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Transportasi Massal Versus Kemacetan
#21
Jujur, Saya sebenarnya udah bosen denger masalah pengembangan transportasi massal di Indonesia yg ga jalan2, malah yg jalan bikin tolnya. Selama mental orang2 diatas yg lebih mementingkan diri sendiri serta keinginan dari pihak2 yg pastinya akan tersaingi dgn adanya transportasi massal (baca:otomotif, organda dll), jgn PERNAH BERMIMPI kita bakal punya transportasi yang "manusiawi". Saya bahkan pernah denger dari teman saya yg anak tata kelola transportasi, diperlukan adanya "penghilangan sebuah generasi pejabat" agar mental mereka bisa beresBethe

Quote:itu hanya andai-andai saja kalo di Bandung ada transportasi rel yg bisa menjangkau kota.. Icon_razz jadi itu bisa LRT ataupun jalur KA heavy-rail biasa.. Big Grin

hehe, sepertinya Mas Azu (sama Mas Bagus) sama dgn saya, muak melihat transportasi di Bandung yg ga jelas + walikotanya juga gak beres (ohh untunglah saya bukan org kota bandung dan tidak memilih dada rosadaNgeledek) Saya tidak muluk2, TMB bisa beroperasi dgn lancar dan koridornya ditambah ke arah barat (padalarang) saya sudah senang kok, soalnya sudah realistis melihat bahwa di Metropolitan Bandung yg namanya monorail, subway, mrt dll dll itu hanyalah MIMPI di negeri khayanganNgakak
WAHAI PAK PRESIDEN SAYA MEMOHON DENGAN SANGAT AGAR PT KA DIPRIVATISASI SAJA, SOALNYA BILA SWASTA TIDAK MASUK KE INDONESIA MAKA JALAN KEHANCURAN BAGI PERKERETAAPIAN KITA MAKIN TERBUKA LEBAR...
Reply
#22
Dengan ponsel Samsung GT-S5233S + IM3, ditambah juga Telkom Speedy tetep bisa buka Semboyan35.com meskipun dengan penuh kesabaran.



[Image: v7sagz.jpg]
My Name in QR-Code
Reply
#23
(29-05-2010, 08:51 PM)azu Wrote: kalau untuk koridor utara itu menurut saya sih Bus yang lebih cocok dibanding angkot yang sudah ada saat ini..

Kalau untuk dalam kota dan ke daerah selatan saya kira transportasi berbasis rel masih memungkinkan.. akan tetapi harus menembus pemukiman padat terlebih dahulu..
misalnya untuk sepanjang Jalan Soekarno-Hatta dan Lingkar Selatan sepertinya dapat dibuat Jalur Tram di bagian tengah, tetapi dengan syarat tidak ada angkot yang melewati jalan tersebut dan mendapat izin dari Dephub karena jalan Soetta berstatus jalan negara..

Kemudian saya terpikir bagaimana kalau jalur tidak aktif diaktifkan kembali..
Misalnya jalur lama Cikupadateuh-Dayeuhkolot-Majalaya kemudian bisa dibuat jalur baru ke Cicalengka atau Rancaekek sehingga akan menjadi Jalur KA lingkar selatan,, dan daerah selatan itu cukup padat dan banyak penglaju ke kota Bandung dan jalan raya kesana selalu macet pada jam pergi dan pulang kerja..
kemudian mungkin dapat dibuat jalur KA baru yang melingkari daerah utara, misalnya Cimindi-Pasteur-Suci-Cicaheum-Ujungberung-Cibiru-Rancaekek atau Cimindi-Pasteur-Suci-Cicaheum-Ujungberung-Jatinangor-Rancaekek sehingga menjadi jalur KA lingkar utara yg merupakan daerah perumahan,, akan tetapi daerah yg dilewati itu merupakan kawasan yg padat jadi agak susah untuk membangunnya kecuali ada NIAT dari pemerintah untuk mengatasi masalah kemacetan..

Berikut gambaran saya mengenai jalur utara-selatan tsb.. gambaran in hanya kira-kira saja..
[spoiler]
Quote:Jalur Utara

[Image: 351wend.jpg]
CMD: Cimindi
CTH: Cikupadateuh
RCK: Rancaekek

Warna Garis:
Hitam adalah jalur PDL-BD-CCL
Biru adalah gambaran jalur utara
Ungu adalah shortcut ke Kiaracondong (KAC), dimaksudkan agar tidak terlalu jauh jadi ada 2 line di jalur utara yaitu CMD-KAC dan CMD-RCK
Kuning adalah apabila jalur ini dimaksudkan tidak melewati Jatinangor sehingga langsung ke RCK
Orange adalah lanjutan ex-jalur Rancaekek-Tanjungsari

Quote:Jalur Selatan

[Image: xdv4i8.jpg]
CTH: Cikupadateuh
RCK: Rancaekek
CCL: Cicalengka

Warna Garis
Hitam adalah jalur PDL-BD-CCL
Hijau adalah jalur selatan CTH-MJA-CCL
Orange disini adalah apabila setelah Majalaya jalur dilanjut ke RCK, dan jalur selatan menjadi CTH-MJA-RCK (bukan CTH-MJA-CCL)
Biru adalah jalur utara
[/spoiler]

BTT
Xie Xie

Hadoooh mas!!! Saya pernah tinggal di daerah Setiabudi (Bandung Utara) dan sering jengkel melihat bis lewat di sini. Mereka selalu tak kuat menanjak, sehingga menyebabkan kemacetan. Mengganggu sekali! Red Bull

Tapi ide anda yang lainnya patut dipertimbangkan. OK
Reply
#24
lagi, masih dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20...asi.Massal

[spoiler]
Quote:Kebijakan Publik

Hancurkan Dulu Transportasi Massal

Laporan wartawan KOMPAS Haryo Damardono

Jumat, 7 Mei 2010 | 13:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat transportasi Rudy Thehamihardja menyatakan, transportasi massal di Indonesia lebih baik didorong hancur dahulu. Sesudah itu baru kemudian para pemangku kepentingan duduk bersama untuk membahas strategi terbaik menumbuhkan transportasi massal di Indonesia.

"Percuma saya menitipkan hal-hal yang seharusnya dapat memajukan transportasi massal. Mengapa? Karena tiap permintaan yang diajukan, bagi banyak orang hanya terkesan untuk meningkatkan laba pengusaha angkutan umum. Padahal tidak begitu. Kami juga peduli dengan transportasi massal di Indonesia yang harusnya dapat mengurai kemacetan di sana-sini," kata Rudy kepada Kompas di Jakarta, Jumat (7/5/2010).

Kepada Rudy sebenarnya dimintakan pendapatnya soal pengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tentang program apa yang seharusnya dikerjakan Menkeu baru untuk memajukan dunia transportasi. Namun, jawabannya justru mengejutkan!

Pengusaha transportasi, katanya, sebenarnya dapat saja minta penurunan bea masuk atau pembebasan Pajak Pertambahan Nilai bila membeli suku cadang. Toh, uang yang dihemat itu memang tak seluruhnya untuk menambah laba. Sebab, uang dari mana untuk menutup biaya pungli, misalnya.

Terlebih, kata Rudy, tak ada lagi satu pihak pun di Indonesia yang benar-benar memedulikan transportasi massal. "Proyek busway tak jalan hingga detik ini, tidak ada penduduk Jakarta yang berunjuk rasa di Gedung Balaikota atau kantor Kementerian Perhubungan tuh. Jangan-jangan bila busway Kota-Blok M ditutup untuk dijadikan lajur motor, juga tak ada yang peduli," ujarnya.

Ditegaskan Rudy, fenomena terbaru dalam dunia transportasi massal, yakni penutupan Kereta Parahyangan, juga tidak disikapi dengan serius oleh para pemangku kepentingan. Selain para railfans yang berteriak-teriak, memang ada anggota DPR yang bersuara lantang? Atau, apakah Menteri Perhubungan juga bersuara kritis? Tidak ada tuh?" katanya.

Ketidaksempurnaan kompetisi antara kereta dan travel, kata Rudy, mungkin sudah diketahui oleh para pengambil kebijakan. "Para pejabat itu sudah tahu kok bila kereta memakai BBM industri tetapi travel disubsidi. Nah, ketika kebijakan begitu lama diambil, meski demi kepentingan kereta api, itu tandanya mereka tak peduli," kata Rudy.

Jadi, Rudy seolah berharap transportasi massal benar-benar mati dan kacau-balau. Ketika seluruh jalan macet total, semua orang beralih dari mobil ke motor. Dan, ketika trotoar tak lagi dapat diinjak manusia karena harus mengalah dengan motor, mungkin saat itulah baru kita orang Indonesia mau benar-benar memikirkan kembali pentingnya transportasi massal," katanya.
[/spoiler]
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#25
@ady_mcady; Sangat miris sekali seandainya ini terjadi. Sedih

[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
Reply
#26
Saya yang tinggal di Jogja sekarang sudah banyak melihat bagaimana angkutan darat macam travel sekarang uda menjamur.
Ga hanya 1 ato 2 travel lagi yang melayani tapi uda maencapai puluhan di Jogja.
Seakrang kalo melihat tarif harga trael amsih kisaran 90-100ribu.

Nah kalo kita melihat Fajar dan Senja yang 120 bagaimana konsumen mencermati itu?
jangan sampe karena tarif para konsumen malah memilih travel walawpun harus menghadapi berbagai kemacetan.

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#27
agak ngeri naik travel..sopirnya pembalap
Reply
#28
penambahan armada travel hendaknya juga memperhatikan kapasitas jalan yang ada. alih-alih ingin menambah kapasitas yang terjadi malahan overload yang berujung kepadatan jalan raya.

seperti berita dibawah ini:

[spoiler]
Quote:http://bataviase.co.id/node/227961

Armada " Travel" Bandung-Jakarta Sudah "Overload"
27 May 2010

BANDUNG, (PR)\
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung meminta Kementerian Perhubungan mengevaluasi pemberian izin untuk travel, terutama travel Bandung-Jakarta yang sudah overload. Evaluasi itu untuk menghitung kembali kebutuhan tra-vel yang ideal.

Surat tersebut dilayangkan Dishub Kota Bandung sekitar dua bulan lalu, ditujukan kepada Kemenhub melalui Direktur Lalu lintas Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat. "Evaluasi tersebut untuk menghitung kembali berapa jumlahtravel yang diperbolehkan. Sebelum evaluasi dilakukan, jangan ditambah dulu. Kalau terus-terusan ditambah, tidak ada kontrolnya. Kalau sudah overload, susah mencabut izinnya," ujar Kepala Dishub Kota Bandung Timbul Butar Butar di kantornya. Rabu (26/5).

Timbul mengatakan, sebelumnya pemerintah pusat pernah membatasi jumlah travel yang diperbolehkan. "Dulu ada keinginan pengaturan travel. Jumlah armada yang diperbolehkan hanya dua puluh persen dari jumlah armada bus pada jurusan yang sama. Saya kirasekarang sudah lebih dari itu," katanya.Berdasarkan data Dishub Kota Bandung, perusahaan travel di Kota Bandung ada 42 perusahaan dengan jumlah armada 1.048 unit Angka itu, termasuk travel Bandung-Jakarta yang jumlahnya 18 perusahaan dengan armada 642 unit.Sementara, jumlah bus Bandung-Jakarta hanya 361 unit. Jumlah itu tersebar di lima trayek, yaitu Bandung-Kampung Rambutan, Bandung-Pulogadung, Bandung-Lebak Bulus, Bandung-Tanjung Priok, dan Bandung-Kali Deres.

72 unit

Jika berpegang pada aturan sebelumnya, seharusnya travel Bandung-Jakarta maksimal hanya sekitar 72 unit. "Pengaturan ini tidak hanya untuk melindungi bus, tetapi juga pengusaha travel dan konsumen karena persaingan semakin berat. Sekarang saja, okupansi travel cuma tujuh puluh persen. Seharusnya kan seratus persen," katanya.

Timbul menambahkan, setiap perusahaan travel baru mengurus izin prinsip ke Kemenhub. Dishub Kota Bandung hanya memberikan rekomendasi. Akan tetapi, kebanyakan, rekomendasi tersebut diloloskan. "Mereka mengajukan rekomendasi disertai bukti booking kendaraan. Jika ditolak, mereka rugj. Apalagi, di pusat mengizinkan," ujarnya.Salah seorang pelaku bisnis travel Cacap Saefullah berpendapat, persaingan travel, khususnya jurusan Bandung-Jakarta, masih terbuang wajar, meskipun saat ini banyak pendatang baru di bisnis tersebut "Kalau ada yang baru, silakan saja. Asalkan resmi dan sesuai dengan aturan," ucapnya. (A-170)-
[/spoiler]

Ngeledek
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#29
Saya ragu travel akan sukses di koridor Bandung-Yogya, karena medannya yang ekstrim pasti akan membuat penumpang tersiksa selama perjalanan.
Sebagai gambaran jalan kereta api dari Bandung ke Banjar 30% sifatnya lurus dan landai, sementara dari Banjar ke timur sudah lurus dan landari; sementara kalau lewat jalan raya, dari Bandung, anda baru bertemu jalan yang landai di Kroya!
Reply
#30
Kalo Bandung Jogja mungkin kurang sukses.
tapi Jogja menuju Cirebon dan sekitarnya itu yang perlu diragukan.

Disini kekurangan kereta hanya 1 koq masalah di tarif, kalo harga KA sama dengan harga travel maka saya percaya KA akan menang besar atas travel.

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)