Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
KA Jamaah Haji
#41
hhahaha..
coba KA indonesia kaya giniNgilerNgiler, bisa pulang kampung tiap hari ane gan....NgakakNgakak
Reply
#42
wew
sekarang dah siap operasi khan ni kereta??
mantab nih kayakna
Wink
RF aatea_goparmania, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Oct 2010.
Reply
#43
mdh2an ideku ttg train combi bs segera terlaksana+bs dinikmati oleh wni agar bs menghadapi arus manusia y6 mw k indo
Reply
#44
(04-06-2010, 02:43 PM)m_ilhami Wrote: tapi apa nggak rugi ya bangun kereta untuk musim haji doang?

arab ma mana ada ruginya penghasilan dari haji ma udah balik modal dari dulu kalee Ngeledek

Kereta ma ngak bakalan pakai INKA pakai yang sekelas dari eropa dunk, banyak duit Ngeledek
Jauh lebih happy naik kereta dari pd pesawat, ngak tau kenapa

Menunggu kebangkitan era transportasi Kereta Api seperti dulu Lok Merah Biru
BIS akap, pesawat, jalan tol merupakan pesaing terberat
Reply
#45
sudah mulai musim haji nih.
Mungkin krn belum terbiasa, banyak jamaah haji indo yg ga mau make nih KA

Ini beritanya dari yahoo.com
[spoiler]
Quote:Jamaah Haji Indonesia Belum Bisa Pakai Monorel

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH - Meski angkutan monorel di Makkah sudah selesai dibangun, jamaah haji Indonesia tetap belum bisa menggunakan moda angkutan moderen tersebut. Nantinya, para jamaah haji Indonesia ketika akan melakukan ibadah di area Armina (Arafah dan Mina) tetap menggunakan angkutan biasa, yakni bus.

Menurut Kepala Daerah Kerja Makkah (Kadaker) Makkah, Arsyad Hidayat, alasan tidak dipergunakannya angkutan monorel untuk jamaah haji Indonesia lebih banyak karena soal kebutuhan teknis saja. Selain itu memang karena ada sejumlah uang yang nantinya bisa dijadikan beban tambahan dalam penentuan biaya ongkos naik haji sebanyak 250 real per orang.

"Untuk saat ini jamaah kita belum menggunakan fasilitas monorel. Argumentasi utamanya karena letak stasiun monorel dan perkampungan jamaah haji Indonesia berada pada temat yang berjauhan. Bila ini dilakukan maka akan menjadi beban baru karena petugas harus mengawasi pergerakan jamaah yang begitu besar menuju stasiun itu. Ini jelas sangat tidak mudah. Apalagi dilakukan pada musim puncak haji," kata Arsyad di Mekkah, Jumat (7/10).

Selain itu, selama ini sewa kendaraan bus yang menjadi moda angkutan jamaah sudah termasuk sewa pengangkutan jamaah ketika hendak menuju dan pulang dari Arafah dan Mina. Jadi bila tetap dipaksakan jamaah haji naik monorel maka ada anggaran biaya haji yang hilang begitu saja.

"Tak hanya Indonesia, jamaah haji dari Asia Tenggara pun tak ada yang naik monorel. Memang sempat ada penawaran dari pihak Saudi Arabia akan penggunaan fasilitas itu. Tapi kami berpikir lebih baik naik angkutan biasa. Jadi kecenderungannya sekarang fasilitas monorel itu hanya digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari kawasan Arab saja," tegas Arsyad.

Hingga kemarin, di Mina monorel itu sudah terlihat diuji coba. Bentuknya memanjang seperti kereta api listrik di Jakarta. Dari pengamatan sekilas angkutan ini memang tampak sangat bagus. Apalagi bila tengah melaju di antara deretan-deretan tenda di Mina yang berwarna putih. Hilir mudik monorel nantinya di kawasan Arafah dan Mina akan menjadi pemandangan baru yang menarik.
[/spoiler]
Ku mau terbang dan tenggelam, menjalani semua ini .....
"Terbang Tenggelam" ~ song by NETRAL
Reply
#46
Salah kaprah nih beritanya Republika...bukan monorel tapi KRL...
Dua kali musim haji ini pengoperasian KA Haji ini salah satunya adalah KTM (Ketera Tanah Melayu) Malaysia sebagai operator, jadi tenaga masinis, PPKA, persinyalan crewnya 'diimpor' dari Malaysia.
Hebat yyaaa, kenapa gak dari PTKAI aja yaaa, hehehe....




(10-10-2011, 03:40 PM)Agus Riyanto Wrote: sudah mulai musim haji nih.
Mungkin krn belum terbiasa, banyak jamaah haji indo yg ga mau make nih KA

Ini beritanya dari yahoo.com
[spoiler]
Quote:Jamaah Haji Indonesia Belum Bisa Pakai Monorel

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH - Meski angkutan monorel di Makkah sudah selesai dibangun, jamaah haji Indonesia tetap belum bisa menggunakan moda angkutan moderen tersebut. Nantinya, para jamaah haji Indonesia ketika akan melakukan ibadah di area Armina (Arafah dan Mina) tetap menggunakan angkutan biasa, yakni bus.

Menurut Kepala Daerah Kerja Makkah (Kadaker) Makkah, Arsyad Hidayat, alasan tidak dipergunakannya angkutan monorel untuk jamaah haji Indonesia lebih banyak karena soal kebutuhan teknis saja. Selain itu memang karena ada sejumlah uang yang nantinya bisa dijadikan beban tambahan dalam penentuan biaya ongkos naik haji sebanyak 250 real per orang.

"Untuk saat ini jamaah kita belum menggunakan fasilitas monorel. Argumentasi utamanya karena letak stasiun monorel dan perkampungan jamaah haji Indonesia berada pada temat yang berjauhan. Bila ini dilakukan maka akan menjadi beban baru karena petugas harus mengawasi pergerakan jamaah yang begitu besar menuju stasiun itu. Ini jelas sangat tidak mudah. Apalagi dilakukan pada musim puncak haji," kata Arsyad di Mekkah, Jumat (7/10).

Selain itu, selama ini sewa kendaraan bus yang menjadi moda angkutan jamaah sudah termasuk sewa pengangkutan jamaah ketika hendak menuju dan pulang dari Arafah dan Mina. Jadi bila tetap dipaksakan jamaah haji naik monorel maka ada anggaran biaya haji yang hilang begitu saja.

"Tak hanya Indonesia, jamaah haji dari Asia Tenggara pun tak ada yang naik monorel. Memang sempat ada penawaran dari pihak Saudi Arabia akan penggunaan fasilitas itu. Tapi kami berpikir lebih baik naik angkutan biasa. Jadi kecenderungannya sekarang fasilitas monorel itu hanya digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari kawasan Arab saja," tegas Arsyad.

Hingga kemarin, di Mina monorel itu sudah terlihat diuji coba. Bentuknya memanjang seperti kereta api listrik di Jakarta. Dari pengamatan sekilas angkutan ini memang tampak sangat bagus. Apalagi bila tengah melaju di antara deretan-deretan tenda di Mina yang berwarna putih. Hilir mudik monorel nantinya di kawasan Arafah dan Mina akan menjadi pemandangan baru yang menarik.
[/spoiler]

Reply
#47
Quote:KA Rel Ringan Yang Dibangun Tiongkok di Mekah Akan Diresmikan
2011-10-30 13:49:40 CRI

Jalan kereta api rel ringan Mekah, Arab Saudi yang dibangun China Railway Construction Corporation akan diresmikan selama kegiatan ibadah haji tahun ini. Ketua Komite Ziarah Pusat Arab Saudi, Pangeran Halid mengadakan kunjungan kerja di tempat pembangunan jalan kereta api tersebut kemarin untuk mengetahui persiapan menjelang peresmiannya.

Jalan kereta api rel ringan Mekah yang dimulai pembangunannya tahun 2008 akan diresmikan tanggal 3 November mendatang, diperkirakan dalam waktu lima hari akan mengangkut hampir 3 juta penumpang. Banyak Muslim yang pada tahun-tahun sebelumnya bolak balik antara berbagai titik ziarah dengan mengendarai mobil akan memilih menumpang kereta api ringan, dengan demikian kemacetan jalan pada masa ramai ziarah di Mekah akan sangat diperbaiki.

Alhamdulillah yah... Ngikik
Reply
#48

Catatan Dahlan Iskan, Kembali Berlebaran di Makkah
Kereta Rp 15 Triliun Setahun Hanya Jalan Tiga Hari
Posted by administrator â‹… 5 September 2011 â‹… 15 Komentar

Catatan Dahlan Iskan yang Kembali Berlebaran di Makkah (4-Habis)

Salah satu yang ingin saya lihat di Makkah –di luar ritual umrah– adalah proyek kereta listriknya. Terutama tahap 1 jurusan Makkah–Arafah yang sedang dibangun dengan rugi yang sangat besar oleh Tiongkok itu.

Karena itu, setelah salat Asar, menunggu terik matahari musim panas mereda, saya ke Mina, Mudzdalifah, dan Padang Arafah. Di luar musim haji seperti sekarang ini, tempat-tempat itu tidak berpenghuni sama sekali. Hanya hamparan padang yang bergunung-gunung batu yang cadas. Tapi, ketika musim haji, jutaan jamaah bergerak serentak melakukan perjalanan suci ke lokasi-lokasi itu. Padat, merambat, dan bahkan macet total. Sering kemacetan itu begitu parahnya membuat sebagian jamaah tiba di luar jam yang disyaratkan. Dulu, ketika naik haji, saya memilih jalan kaki pulang pergi untuk rute yang sekali jalan sekitar 25 km itu (bukan 40 km seperti dalam seri pertama tulisan ini).

Problem itulah yang akan dipecahkan pemerintah Arab Saudi dengan pembangunan jaringan kereta cepatnya. Kalau kereta tersebut berfungsi penuh pada musim haji dua bulan lagi, kendaraan yang menuju Arafah bisa berkurang setidaknya 53.000 mobil. Tinggal bus-bus besar yang minimal berisi 25 orang yang diizinkan menuju Padang Arafah. Uji coba sudah dilakukan pada musim haji tahun lalu, namun baru 30 persen dari kapasitas sesungguhnya.

Sekarang pun, saat saya menyusuri rute kereta itu, belum benar-benar selesai. Saya mampir ke stasiun Mudzdalifah yang masih belum tertata. Saya lihat hanya dua pekerja yang memasang tegel di tangga. Halamannya juga masih belum dikerjakan. Saya tentu ngobrol dengan pekerja asal Tiongkok yang tidak punya agama itu mengenai suka-duka bekerja di sebuah negara yang sangat ketat dalam menerapkan ajaran agama. Mereka heran melihat saya bisa berbahasa Mandarin.

Uji coba kereta terus dilakukan tanpa menunggu semua fasilitas selesai. Kereta warna dominan hijau muda dan kuning muda tersebut terus datang dan pergi. Itulah stasiun pertengahan antara Mina dan Arafah. Setiap rangkaian berisi 12 gerbong. Setiap gerbong bisa memuat 250 orang (70 persen berdiri) sehingga satu rangkaian bisa mengangkut 3.000 orang.

Menggunakan listrik 1.500 vdc, 3.000 ampere, dan dengan lebar rel 1,435 meter, kereta itu berkecepatan 120 km/jam sehingga direncanakan setiap jam bisa mengangkut 73.000 orang.

Inilah investasi kereta sepanjang 18 km dengan biaya Rp 15 triliun yang hanya akan digunakan intensif tiga hari saja dalam setahun. Desainnya pun harus dibuat khusus yang harus cocok untuk keperluan haji.

Misalnya, bagaimana rel kereta itu saat harus melewati tempat lempar jumrah (setiap jamaah haji harus melempar batu ke satu tembok yang menyimbolkan setan). Karena tempat melempar jumrah itu kini berupa bangunan empat lantai, sebelum memasuki lokasi tersebut, relnya memecah jadi empat. Ada kereta yang berhenti di lantai 4, ada juga yang berhenti di lantai bawahnya. Lalu, setelah melewati lokasi jumrah, relnya menyatu kembali. Demikian juga ketika kereta sampai Padang Arafah yang luas itu. Di sini, relnya memecah jadi empat, juga dengan jurusan yang berbeda-beda, menyebar ke empat penjuru Padang Arafah.

Di stasiun Mudzdalifah itu pula saya untuk kali pertama tahu diberi nama apakah kereta tersebut. Monorelkah seperti yang selama ini disebut-sebut? Ternyata tidak disebut monorel karena saya lihat relnya memang ganda. Di display layar komputer di stasiun itu, jelaslah namanya: Makkah Metro. Ditulis dalam bahasa Arab bergantian dengan bahasa Inggris. Pengumuman yang dikumandangkan di dalamnya juga dalam dua bahasa itu, tapi sedikit unik: meski rel kereta ini di ketinggian 8 meter dari tanah, istilah yang digunakan adalah istilah kereta bawah tanah London yang disebut tube itu. Misalnya, kalau di kereta bawah tanah di Singapura atau Tiongkok menggunakan kalimat ’’mind your step’’, di sini menggunakan term tube London ’’mind your gap’’.

Tentu jamaah haji dari Indonesia jangan punya mimpi naik kereta itu pada musim haji mendatang. Kereta itu khusus untuk jamaah haji Arab Saudi dan yang datang dari negara-negara Arab di jazirah Arab anggota GCC, seperti ASEAN kita. Orang Arab dari Mesir, Libya, Maroko (Maghribi), dan lain-lain tidak boleh. Ini ada juga masuk akalnya. Mengapa?

Di satu pihak, tentu Arab Saudi ingin mengistimewakan tetangga-tetangga terdekatnya seperti Yaman, Oman, Emirat, Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Di lain pihak, jamaah haji dari tetangga itulah yang banyak datang secara perorangan dengan jalan darat menggunakan mobil kecil. Sedangkan yang dari jauh biasanya berombongan yang terorganisasi, termasuk sudah disiapkan bus-bus besarnya. Tentu akan sulit mengatur karcis perorangan untuk rombongan seperti itu. Hehee… tidak jadi iri kan?

Bahkan, kereta itu tidak berkarcis sehingga tidak ada loket penjualan karcisnya. Kalaupun Anda ngotot ingin naik, waktu Anda akan habis untuk mencari tempat di mana karcis dijual. Sedangkan jamaah dari GCC, untuk naik kereta itu, cukup hanya dengan menunjukkan KTP mereka.

Tentu, jamaah non-GCC seperti dari Indonesia tidak boleh kehabisan rasa bersyukur. Dengan adanya kereta itu, kepadatan jalan jalur ke Padang Arafah toh sangat berkurang. Berarti, perjalanan suci Anda juga bertambah lancar.

Maka, anggap saja kereta itu boneka dari China: boleh dipandang tak boleh dipegang.

Sumber: http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/09...tiga-hari/
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)