09-02-2015, 10:22 AM
(09-02-2015, 09:50 AM)bhaskara Wrote:(07-02-2015, 11:48 AM)ahwcaksono Wrote:(07-02-2015, 09:25 AM)dedy vh Wrote: saya rasa tidak akan ada pengurangan seperti itu ! ini bisa di lihat dari sejak teknologi ka di temukan hingga generasi kereta terakhir karena ka di buat hingga masa keekonomian nya berahir sekitar 30 tahun makanya di buat dari bahan baja yang kuat dan tahan lama.
bisa saja sih bagian atas saja yang di kurangi seperti  yang di atas bogie seperti dinding dinding gerbong kereta yang bisa di buat dari plat fiber yang ringan namun kuat dan juga kaca bisa di ganti dengan mika namun susah perawatanya.
kalau kereta api besar antar kota kayak kereta jarak jauh di Indonesia bobot malah harus berat, biar roda keretanya bisa jalan sehingga tidak selip. Jadi mungkin itu sebabnya bogie body dll masih dipertahankan memakai baja dan besi tuang. Beda halnya dengan LRT, kalau LRT (Light Rail Transport) komponennya bisa diubah dengan material yang lebih ringan, semisal roda besinya diubah dengan roda karet. CMIIWÂ
Kalau di eropa dan jepang apakah bobot kereta api juga seberat di Indonesia ?
Jadi kalau peningkatan teknologi kereta bukan pada penggantian material menjadi lebih ringan ya ?
Kalo KA biasa (bukan supercepat) itu bahannya kurang lebih sama aja dg Indonesia, cuman bobotnya agak berbeda, tergantung jenis & kebutuhan. Nah, kalo KA supercepat baru menggunakan bahan yg didesain untuk aerodinamis, untuk mengurangi hambatan & tekanan angin agar kereta dapat melaju pada kecepatan 200-300 kph. Jadi, penggunaan material pada kereta itu bergantung pada jenis kereta apa, fungsi dari kereta itu sendiri, sama dirancang untuk jalur yg mana.
Kalo mau meningkatkan teknologi perkeretaapian kita, ya pake kaca tahan pecah, bodi tahan penyok, bogie yg dapat dirancang untuk kecepatan 150 kph (walaupun agak sulit karena kecepatan maksimum tertinggi KA kita aja 105 kph), wi-fi, AVOD, AC eco-navy, TV 4 biji, toilet ramah lingkungan yg gak gampang rusak, deelel.Â
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya
FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya
FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie

