06-09-2009, 10:28 PM
(06-09-2009, 10:11 PM)Lukman Wrote: .............naik kereta api tut tut tut
siapa hendak turut?
ke Bandung-Surabaya
bolehlah naik dengan percuma....................
Anda kenal lagu itu? Pastinya, karena lagu itu adalah lagu yang sangat populer dan menjadi salah satu lagu favorit untuk kita nyanyikan disaat kita masih bocah dulu. Lirik yang sederhana dan nada yang riang menjadikan lagu itu mudah diingat dan gampang untuk ditularkan ke mana-mana. Tapi tahukah anda mengenai sejarah dan asal mula lagu tersebut?
Lagu tersebut awalnya adalah lagu balada, yang menceritakan mengenai perjalanan dengan menggunakan kereta api pada masa lalu. Lagu ini adalah lagu berjenis folklore alias lagu rakyat yang tidak jelas diketahui pasti siapa pengarangnya. Tetapi yang bisa diketahui, lagu tersebut diciptakan oleh orang-orang yang tinggal di Batavia dan dibuat sekitar akhir 1800an. Kenapa? Karena lirik yang ada menunjukkan demikian. Dahulu, satu-satunya jalur menuju Surabaya dari Batavia adalah melalui Bandung (lintas Bogor-Bandung 1881-1884) karena memang jalan pintas melalui Cirebon baru dibangun jauh setelahnya (lintas Manggarai-Cikampek-Cirebon pada 1912).
Saat itu, perjalanan dengan kereta malam (yang kemudian lebih dikenal dengan Java Nacth Express) belum populer dan belum banyak dilakukan orang dibandingkan Eendangsche Trainen (Ekspres Siang). Alhasil, Bandung menjadi tempat peristirahatan dan pitstop sementara bagi mereka yang hendak melanjutkan perjalanan ke Surabaya atau kota-kota lain di Jawa bagian tengah atau timur. Kondisi alam Bandung yang sejuk dan bergunung-gunung pun membuat nyaman orang-orang untuk menginap sehingga banyak bermunculan hotel-hotel disekitar stasiun. Hotel-hotel tersebut berkembang pesat dan banyak dihuni para turis. Hotel Grand National adalah salah satunya. Hotel ini adalah hotel terpandang di masanya yang dibangun pada 1905. Pada 1923, kepemilikan hotel ini berpindah ke tangan SS untuk dijadikan kantor pusatnya dan kini menjadi pusat pemerintahan perkeretaapian di Indonesia.
Lengkingan khas lokomotif uap yang berbunyi “tuut tuut tuut†tentunya juga turut andil dalam pembuatan lagu ini. Yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa ada lirik yang memperbolehkan untuk naik dengan percuma? Lagu ini kemudian mengilhami Saridjah Niung (Ibu Sud) untuk membuatnya menjadi seperti yang kita kenal sekarang ini di medio 1920an. Lagu ini awalnya dipopulerkan untuk menghibur anak-anak, tapi akhirnya juga berperan dalam menginspirasi banyak orang selain lagu-lagu perjuangan yang diciptakan sendiri olehnya.
Pada akhirnya lagu ini menjadi begitu terkenal dan layak untuk diabadikan sebagai kekayaan khazanah budaya bangsa. Lagu ini pun menjadi sountrack tak resmi untuk perkeretaapian di negara kita. Sebagai generasi muda, hendaknya lah kita jaga dan rawat lagu ini agar tidak hilang dimakan zaman. Dan semoga semakin banyak lagu-lagu anak-anak mengenai kereta api yang muncul di kemudian hari dan mewarnai perkembangan kereta api di negeri ini. Amien
.............ayo kawanku lekas naik
keretaku tak berhenti lama.................
\
wah ini lagu, mengingatkan ku pada waktu masih kecil,
dimana aku mulai tertarik pada KA,
dan mulailah pada kebiasaan ku melihat kereta pada sore hari bersama om di St. senen,
mudah2an lagu ini gak punah oleh zaman..
ayo lestarikan ALL ABOUT Kereta APi ,..

bangga dan sedih ketika mengingat ini..
oke teman kita

