Posts: 5,708
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
117
(21-03-2014, 12:26 AM)Warteg Wrote: [spoiler]
(20-03-2014, 03:20 PM)BAMBANG EKO Wrote: Daop IV ini mengisi masa kecilku dengan KA Lokalan yang boleh dibilang " Hidup segan matipun tak mau ".
Bayangkan saja kalau sebuah rangkaian KA diberangkatkan hanya membawa penumpang sekitar 20 orang tetapi oleh perusahaan tetap dipertahankan tetap hidup dan terus beroperasi bertahun-tahun, Saat itu Lok D 301 membawa rangkaian sebuah kereta penumpang kelas 3 seri CR 362 yang berwarna kuning - hijau yang mempunyai berat kosong sekitar 20.000 kg plus 2 gerbong barang tipe GR yang masing2 mempunyai berat kosong 7500 kg dan daya muat juga sekitar 7500 kg. Saat peluit panjang ditiup maka bergeraklah Lok buatan Krupp yang bertenaga sekitar 330 HP dan berat badan 30.000 kg ini perlahan dan akhirnya mencapai kecepatan 25 kmj.
Rel tipe R 25 berbantalan kayu lapuk atau hampir mirip dengan kayu bakar karena lama ditelan usia yang menjerit saat diinjak roda besi rangkaian ini sejauh sekitar 110 km dengan tujuan akhir kota Rembang. Berangkat sekitar jam 13.00 an dan sampai di stasiun tujuan akhir sekitar jam 20,00 an. Disaat momen tertentu rangkaian ini kadang2 dititipi sekitar 10 gerbong Ketel seri KR yang membawa Tetes dari pabrik gula. Jadilah stamformasi D 301 xx . CR 363 . 2 GR . 10 KR. Duh Indahnya ........ Daop IV Masa lalu
:[/spoiler]
Punya sejarah yang panjang ya DAOP IV  Quote:Ya Mas
Daop IV mempunyai sejarah panjang tentang perkereta-apian di Indonesia .
Untuk trayek SMT – TG pun dulu juga dilayani KA Penumpang Campuran yang stamformasi hariannya BB 200 xx – 1 K3 [ CW ] – 1 GGW yang melintas di rel tipe R 33 . Uniknya Kereta penumpang kelas 3 yang ditarik sang Simbah BB 200 08 yang terkenal dengan deru mesin yang membahana saat throttle gas ditarik , bahkan mampu menggetarkan kaca rumah2 yang berada di pinggir rel yang dilintasi , didatangkan th 1957 buatan General Motor USA yang mempunyai tenaga 875 HP dan berat kosong 68.000 kg ini mempunyai kapasitas 152 tempat duduk karena desain kursinya memanjang membelakangi jendela , Toilet / peturasanpun diletakkan di tengah ruangan. Beda banget dengan K3 [ dulu CW ] standard yang digunakan untuk KA dengan trayek lain yang biasanya berkapasitas 80 . 84 . 88 . 102 dan 106 tempat duduk.
Pada moment tertentu rangkaian KA Penumpang Campuran SMT – TG ini sering ditambah [ dititipi ] gerbong barang type GW , KKW , GGW . TTW . YYW dll sehingga waktu tempuhpun semakin panjang karena harus bongkar pasang rangkaian. Saat berangkat dari stasiun awal , okupansinya hanya berada dikisaran 10 %. Seiring dengan meninjgkatnya jarak tempuh derajat okupansipun ikut meningkat. Rangkaian yang hampir berhenti di semua Stasiun dan pemberhentian ini seperti Stasiun Kaliwungu , Kalibodri , Weleri , Krengseng , Plabuan , Ujungnegoro , Kuripan , Batang , Pekalongan , Sragi , Comal ,dst sampai stasiun akhir Tegal manfaatnya benar2 dirasakan oleh masyarakat pinggir pantai yang terisolir dan jauh dari jalan raya. Namun sayang rangkaian KA ini tidak dapat dipertahankan , karena Daop IV kekurangan lokomotip yang siap operasi [ SO ] sehingga demi KA yang mempunyai prioritas yang lebih tinggi dengan terpaksa harus masuk kotak.
Pada saat PT Sepur mendatangkan 5 Set KRD dari Jepang [ Nippon Sharyo ] sebanyak 10 kereta pada th 1982 , Trayek Semarang – Tegalpun kembali hidup karena mendapat alokasi 1 set [ 2 kereta type MCW 300 ]. Untuk 4 set lainya disebar pada trayek Semarang – Yogyakarta [ Via Gubug , Gambringan , Gundih ], Semarang – Weleri , Pekalongan – Semarang – Solo , dan Cepu – Gambringan – Gundih – Solo .
Jadi tidak berlebihan rasanya kalau rangkaian KA Lokal SMT – TG ini saya sebut dengan Cikal-Bakal atau Embrionya KA Kaligung.
Duh Daop IV…………

Posts: 2,657
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
43
Wuiihhh... begitu mengharukan, serasa pake mesin waktu ke jaman dulu... 
Pakde, kalo bisa, ditambahkan foto2 jadul, dimana terjadi masa2 keemasan daop 4 dulu...
Posts: 5,708
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
117
(22-03-2014, 10:35 AM)stasiunkastephanie Wrote: Wuiihhh... begitu mengharukan, serasa pake mesin waktu ke jaman dulu...
Pakde, kalo bisa, ditambahkan foto2 jadul, dimana terjadi masa2 keemasan daop 4 dulu...
He he he
saya masih bocah Jeng
Blom mampu beli camera

Posts: 2,657
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
43
Posts: 7,452
Threads: 0
Joined: Apr 2010
Reputation:
62
Ambarawa juga masuk DAOP IV 
Stasiun Willem I (a.k.a Ambarawa), Jambu, Bedono, Tuntang
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !
![[Image: warteg.png]](https://img832.imageshack.us/img832/6434/warteg.png)
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Posts: 128
Threads: 0
Joined: Nov 2011
Reputation:
0
(22-03-2014, 10:26 AM)BAMBANG EKO Wrote: (21-03-2014, 12:26 AM)Warteg Wrote: [spoiler]
(20-03-2014, 03:20 PM)BAMBANG EKO Wrote: Daop IV ini mengisi masa kecilku dengan KA Lokalan yang boleh dibilang " Hidup segan matipun tak mau ".
Bayangkan saja kalau sebuah rangkaian KA diberangkatkan hanya membawa penumpang sekitar 20 orang tetapi oleh perusahaan tetap dipertahankan tetap hidup dan terus beroperasi bertahun-tahun, Saat itu Lok D 301 membawa rangkaian sebuah kereta penumpang kelas 3 seri CR 362 yang berwarna kuning - hijau yang mempunyai berat kosong sekitar 20.000 kg plus 2 gerbong barang tipe GR yang masing2 mempunyai berat kosong 7500 kg dan daya muat juga sekitar 7500 kg. Saat peluit panjang ditiup maka bergeraklah Lok buatan Krupp yang bertenaga sekitar 330 HP dan berat badan 30.000 kg ini perlahan dan akhirnya mencapai kecepatan 25 kmj.
Rel tipe R 25 berbantalan kayu lapuk atau hampir mirip dengan kayu bakar karena lama ditelan usia yang menjerit saat diinjak roda besi rangkaian ini sejauh sekitar 110 km dengan tujuan akhir kota Rembang. Berangkat sekitar jam 13.00 an dan sampai di stasiun tujuan akhir sekitar jam 20,00 an. Disaat momen tertentu rangkaian ini kadang2 dititipi sekitar 10 gerbong Ketel seri KR yang membawa Tetes dari pabrik gula. Jadilah stamformasi D 301 xx . CR 363 . 2 GR . 10 KR. Duh Indahnya ........ Daop IV Masa lalu
:[/spoiler]
Punya sejarah yang panjang ya DAOP IV  Quote:Ya Mas
Daop IV mempunyai sejarah panjang tentang perkereta-apian di Indonesia .
Untuk trayek SMT – TG pun dulu juga dilayani KA Penumpang Campuran yang stamformasi hariannya BB 200 xx – 1 K3 [ CW ] – 1 GGW yang melintas di rel tipe R 33 . Uniknya Kereta penumpang kelas 3 yang ditarik sang Simbah BB 200 08 yang terkenal dengan deru mesin yang membahana saat throttle gas ditarik , bahkan mampu menggetarkan kaca rumah2 yang berada di pinggir rel yang dilintasi , didatangkan th 1957 buatan General Motor USA yang mempunyai tenaga 875 HP dan berat kosong 68.000 kg ini mempunyai kapasitas 152 tempat duduk karena desain kursinya memanjang membelakangi jendela , Toilet / peturasanpun diletakkan di tengah ruangan. Beda banget dengan K3 [ dulu CW ] standard yang digunakan untuk KA dengan trayek lain yang biasanya berkapasitas 80 . 84 . 88 . 102 dan 106 tempat duduk.
Pada moment tertentu rangkaian KA Penumpang Campuran SMT – TG ini sering ditambah [ dititipi ] gerbong barang type GW , KKW , GGW . TTW . YYW dll sehingga waktu tempuhpun semakin panjang karena harus bongkar pasang rangkaian. Saat berangkat dari stasiun awal , okupansinya hanya berada dikisaran 10 %. Seiring dengan meninjgkatnya jarak tempuh derajat okupansipun ikut meningkat. Rangkaian yang hampir berhenti di semua Stasiun dan pemberhentian ini seperti Stasiun Kaliwungu , Kalibodri , Weleri , Krengseng , Plabuan , Ujungnegoro , Kuripan , Batang , Pekalongan , Sragi , Comal ,dst sampai stasiun akhir Tegal manfaatnya benar2 dirasakan oleh masyarakat pinggir pantai yang terisolir dan jauh dari jalan raya. Namun sayang rangkaian KA ini tidak dapat dipertahankan , karena Daop IV kekurangan lokomotip yang siap operasi [ SO ] sehingga demi KA yang mempunyai prioritas yang lebih tinggi dengan terpaksa harus masuk kotak.
Pada saat PT Sepur mendatangkan 5 Set KRD dari Jepang [ Nippon Sharyo ] sebanyak 10 kereta pada th 1982 , Trayek Semarang – Tegalpun kembali hidup karena mendapat alokasi 1 set [ 2 kereta type MCW 300 ]. Untuk 4 set lainya disebar pada trayek Semarang – Yogyakarta [ Via Gubug , Gambringan , Gundih ], Semarang – Weleri , Pekalongan – Semarang – Solo , dan Cepu – Gambringan – Gundih – Solo .
Jadi tidak berlebihan rasanya kalau rangkaian KA Lokal SMT – TG ini saya sebut dengan Cikal-Bakal atau Embrionya KA Kaligung.
Duh Daop IV…………

Ngebaca sejarahnya,jadi berharap SMT-TG ada KA Lokal (lagi) yang berhenti tiap stasiun. Dengan melihat tujuannya untuk menjangkau penumpang yang jauh dari jalan aspal dan alasan diberhentikannya saat itu karena kekurangan lokomotif, menurut saya cukup potensial jika dihidupkan lagi. Kalau boleh saran, Kaligung yang ada sekarang di-ekspreskan saja, dan stasiun-stasiun kecil lain dilayani KA Lokal.
Semoga DAOP 4 mempertimbangkan saran dari entah siapalah saya ini..
Posts: 345
Threads: 0
Joined: Jun 2013
Reputation:
2
Gimana kalo sekalian bikin Lokalan yang berhenti tiap stasiun antara JAKK-SBI?
Posts: 7,452
Threads: 0
Joined: Apr 2010
Reputation:
62
(04-04-2014, 05:45 PM)ma2d_iwag Wrote: Gimana kalo sekalian bikin Lokalan yang berhenti tiap stasiun antara JAKK-SBI?
Mau butuh waktu perjalanan berapa jam lagi tuh? antara JAKK sampai SBI itu terdapat puluhan Stasiun
Bisa-bisa sekali jalan waktunya lebih dari sehari perjalanannya 
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !
![[Image: warteg.png]](https://img832.imageshack.us/img832/6434/warteg.png)
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Posts: 32
Threads: 0
Joined: Mar 2014
Reputation:
0
(04-04-2014, 03:27 PM)Yogi Abdi Nugroho Wrote: (22-03-2014, 10:26 AM)BAMBANG EKO Wrote: (21-03-2014, 12:26 AM)Warteg Wrote: [spoiler]
(20-03-2014, 03:20 PM)BAMBANG EKO Wrote: Daop IV ini mengisi masa kecilku dengan KA Lokalan yang boleh dibilang " Hidup segan matipun tak mau ".
Bayangkan saja kalau sebuah rangkaian KA diberangkatkan hanya membawa penumpang sekitar 20 orang tetapi oleh perusahaan tetap dipertahankan tetap hidup dan terus beroperasi bertahun-tahun, Saat itu Lok D 301 membawa rangkaian sebuah kereta penumpang kelas 3 seri CR 362 yang berwarna kuning - hijau yang mempunyai berat kosong sekitar 20.000 kg plus 2 gerbong barang tipe GR yang masing2 mempunyai berat kosong 7500 kg dan daya muat juga sekitar 7500 kg. Saat peluit panjang ditiup maka bergeraklah Lok buatan Krupp yang bertenaga sekitar 330 HP dan berat badan 30.000 kg ini perlahan dan akhirnya mencapai kecepatan 25 kmj.
Rel tipe R 25 berbantalan kayu lapuk atau hampir mirip dengan kayu bakar karena lama ditelan usia yang menjerit saat diinjak roda besi rangkaian ini sejauh sekitar 110 km dengan tujuan akhir kota Rembang. Berangkat sekitar jam 13.00 an dan sampai di stasiun tujuan akhir sekitar jam 20,00 an. Disaat momen tertentu rangkaian ini kadang2 dititipi sekitar 10 gerbong Ketel seri KR yang membawa Tetes dari pabrik gula. Jadilah stamformasi D 301 xx . CR 363 . 2 GR . 10 KR. Duh Indahnya ........ Daop IV Masa lalu
:[/spoiler]
Punya sejarah yang panjang ya DAOP IV  Quote:Ya Mas
Daop IV mempunyai sejarah panjang tentang perkereta-apian di Indonesia .
Untuk trayek SMT – TG pun dulu juga dilayani KA Penumpang Campuran yang stamformasi hariannya BB 200 xx – 1 K3 [ CW ] – 1 GGW yang melintas di rel tipe R 33 . Uniknya Kereta penumpang kelas 3 yang ditarik sang Simbah BB 200 08 yang terkenal dengan deru mesin yang membahana saat throttle gas ditarik , bahkan mampu menggetarkan kaca rumah2 yang berada di pinggir rel yang dilintasi , didatangkan th 1957 buatan General Motor USA yang mempunyai tenaga 875 HP dan berat kosong 68.000 kg ini mempunyai kapasitas 152 tempat duduk karena desain kursinya memanjang membelakangi jendela , Toilet / peturasanpun diletakkan di tengah ruangan. Beda banget dengan K3 [ dulu CW ] standard yang digunakan untuk KA dengan trayek lain yang biasanya berkapasitas 80 . 84 . 88 . 102 dan 106 tempat duduk.
Pada moment tertentu rangkaian KA Penumpang Campuran SMT – TG ini sering ditambah [ dititipi ] gerbong barang type GW , KKW , GGW . TTW . YYW dll sehingga waktu tempuhpun semakin panjang karena harus bongkar pasang rangkaian. Saat berangkat dari stasiun awal , okupansinya hanya berada dikisaran 10 %. Seiring dengan meninjgkatnya jarak tempuh derajat okupansipun ikut meningkat. Rangkaian yang hampir berhenti di semua Stasiun dan pemberhentian ini seperti Stasiun Kaliwungu , Kalibodri , Weleri , Krengseng , Plabuan , Ujungnegoro , Kuripan , Batang , Pekalongan , Sragi , Comal ,dst sampai stasiun akhir Tegal manfaatnya benar2 dirasakan oleh masyarakat pinggir pantai yang terisolir dan jauh dari jalan raya. Namun sayang rangkaian KA ini tidak dapat dipertahankan , karena Daop IV kekurangan lokomotip yang siap operasi [ SO ] sehingga demi KA yang mempunyai prioritas yang lebih tinggi dengan terpaksa harus masuk kotak.
Pada saat PT Sepur mendatangkan 5 Set KRD dari Jepang [ Nippon Sharyo ] sebanyak 10 kereta pada th 1982 , Trayek Semarang – Tegalpun kembali hidup karena mendapat alokasi 1 set [ 2 kereta type MCW 300 ]. Untuk 4 set lainya disebar pada trayek Semarang – Yogyakarta [ Via Gubug , Gambringan , Gundih ], Semarang – Weleri , Pekalongan – Semarang – Solo , dan Cepu – Gambringan – Gundih – Solo .
Jadi tidak berlebihan rasanya kalau rangkaian KA Lokal SMT – TG ini saya sebut dengan Cikal-Bakal atau Embrionya KA Kaligung.
Duh Daop IV…………

Ngebaca sejarahnya,jadi berharap SMT-TG ada KA Lokal (lagi) yang berhenti tiap stasiun. Dengan melihat tujuannya untuk menjangkau penumpang yang jauh dari jalan aspal dan alasan diberhentikannya saat itu karena kekurangan lokomotif, menurut saya cukup potensial jika dihidupkan lagi. Kalau boleh saran, Kaligung yang ada sekarang di-ekspreskan saja, dan stasiun-stasiun kecil lain dilayani KA Lokal.
Semoga DAOP 4 mempertimbangkan saran dari entah siapalah saya ini..
Setuju bgt om, syukur2 dgn tarif yg sangat terjangkau bagi masyarakat di lintas tsb.
Posts: 1,103
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
30
Silence Is Golden
But My Eyes Still See
|