yang saya maksud,bukannya Indonesia harus punya sistem
kereta ekonomi yang canggih dan mewah tapi "Pelayanan Transportasi Publik Yang LAYAK".
Ka Ekonomi tidak harus canggih atau keretanya gak boleh penuh atau bisa milih tempat duduk sesukanya atau gak boleh berdesak-desakan atau
Quote:bisa seenaknya terhadap pasilitas negara, ngga mau diatur
bukan itu poin saya.
Poin saya disini adalah pentingnya kesadaran penumpang ekonomi akan
hak dan kewajibannya sebagai pengguna transportasi publik yang baik.
penumpang harus sadar
haknya untuk dapat pelayanan transportasi yang layak tapi jangan lupa penumpang juga punya
kewajiban menggunakan dan menjaga fasilitas publik secara bertanggungjawab.Ini yang belum dipunyai oleh sebagian besar pengguna transportasi publik di Indonesia.yah itu tadi masalahnya kesalahkaparahan yang sudah jadi kebiasaan.jadi hal yang belum tentu benar pun jadi tampak "oke-oke saja",toh sudah biasa biarkan saja! (mungkin itulah yang ada di benak kebanyakan kita).
Sebenarnya kalau mau membangun sistem transportasi publik yang layak yang paling diperlukan adalah KOMITMEN untuk membangun sistem dan budaya transportasi publik (perkeratapian) yang baik dan tidak harus menunggu kondisi masyarakat yang masih belum tertib untuk menjadi tertib karena hal itu akan menjadi lingkaran setan yang tidak berkesudahan.Yang ada antara si regualtor dan masayarakat saling tunggu menunggu.........alias mbuletisasi.
saya yakin kalau sistemnya sudah ada dan dijalankan secara konsisten oleh regulator pasti MASYARAKAT MAU BELAJAR akan hak dan kewajibannya dalam menggunakan trasportasi publik.karena masyarakat kita ini adalah tipe masyarakat yang "perlu sedikit sentilan,dorongan dan paksaan" untuk berubah menjadi lebih baik.
Dan sudah seharusnya perubahan itu dimulai dari sekarang,dari diri kita sendiri dan dari hal yang kecil ...*
A'agymmodeon.
Saya hargai pendapat temans yang lain tapi kalau sih tetap sebisa mungkin memulai perubahan itu dari sekarang dengan hal-hal kecil saat menggunakan KERETA EKONOMI seperti :
- membeli tiket resmi,
-tidak membuang sampah sembarangan di dalam gerbong atau keluar gerbong,
-tidak merokok di dalam gerbong (gerbong adalah tempat umum bukan?),
-menggunakan toilet dengan bertanggung jawab (abis BAK di siram dong!),
-tidak menggunakan toilet sebagi tempat duduk,tidak memberikan "tip" kepada gepeng,pengamen,penyapu lantai,penyemprot pengharum ruangan, dan
-sebisa mungkin membeli makanan dan minuman yang dijual oleh restorasi KA maupun pedagang yang memang resmi berdagang di stasiun
-sampai hal-hal sepele seperti tidak berlama-lama menerima/menelpon apalagi dengan suara yang keras dan berteriak-teriak karena itu pasti amat sangat
f***ing annoying bagi orang disebelah anda.
Kalau punya komitmen,bisa kok KA ekonomi menjadi "Layak",
Penataran Ikon/Dhoho Ikon contohnya.....
dan siapa bilang harga murah TIDAK BOLEH dapat pelayanan yang layak?dengan harga Rp 6000an (CMIIW) untuk jarak terjauh (Surabaya-Blitar) penumpang sudah bisa mendapatkan pelayanan transportasi yang layak,aman dan nyaman tanpa gepeng,asongan dan pengamen.
Dan pelayanan transport yang BAIK DAN LAYAK tidak selalu berkorelasi dengan harga yang MAHAL lhoo.
Sistem MRT Singapura misalnya.Mulai SGD 0.8 (setara 6000an rupiah) pengguna MRT sudah bisa mendapatkan transportasi publik yang murah,aman dan nyaman.Jangan dilihat Singapuranya ya tapi lihat bagaimana transportasi yang baik tidak selalu berharga MAHAL.
just my 2 cents.beda pendapat boleh doong...he..he...