(12-01-2010, 10:40 AM)Charles Wrote: Kalau memang ada dasar hukumnya, pengendara yang secara sengaja melintasi palang pintu saat sirine sudah berbunyi dapat dikenakan tilang atau sidang di tempat.
Untuk memberi efek jera, sepertinya metode sidak (inspeksi mendadak) cukup ampuh untuk mengurangi korban yang disebabkan oleh KA.
Dari hasil investigasi yang saya lakukan di PJL (tanya dengan petugasnya), alasan umum para pengendara kendaraan bermotor yang suka menerobos (terutama m****m**i dan k***ja) antara lain:
1. Kejar setoran
2. Terlambat masuk kerja/sekolah
3. Ingin cepat sampai
4. Kereta masih belum datang
5. Bawa barang cepat busuk (sayur, buah, dll).
CMIIW.
yang suka nerobos palang perlintasan KA hampir dapat dipastikan bukan seorang RF
naik kereta api tut tut tut...
siapa hendak turut...
ke bandung... surabaya...
bolehlah turun di KROYA saja...
(03-01-2011, 04:33 PM)Avian D301 Wrote: apa mungkin, kita sebagai railfan juga ikut bertindak ya? ngawasin PJL hahahahahaha itung2 amal loh
kalo bisa kenapa gak, tapi apa bakalan digubris sama pengguna jalan?
masalahnya kita gak punya kewenangan apa-apa
petugas yang bersangkutan aja suka gak digubris kok
(11-12-2009, 03:18 PM)eka Wrote: barusan baca salah satu tabloid roda 2 dan di situ dibahas mengenai UU 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan...
dalam salah satu pasalnya yaitu pasal 296, yang berbunyi setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor pada lintasan antara kereta api dan jalan yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu sudah mulai ditutup, dan atau isyarat lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 114 huruf dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 750.000 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)...
sekarang menerobos palang perlintasan bukan cuma bisa mati konyol karena kalaupun lolos dari ciuman KA, para penerobos tidak akan lolos dari jerat hukum...
sekarang pikirin nyawa dan duit sebelum menerobos palang perlintasan...
Kalau pak dhe lebih baik berhenti sambil liat sepur sambil dengerin S 35-nya biar semangat
Lagi-lagi masalah pembelajaran dan kesadaran masyarakat Indonesia, apalah kalimatnya. Denda memang wajib, tetapi susah kalo ga punya kesadaran pada mereka. Mohon koreksi.
kalo kejadiannya seperti yang terjadi di PJL Pondok Betung Jakarta Selatan gimana tuh????
ketika palang sudah ditutup, petugas PJL masih mempersilahkan (dengan bantuan pengeras suara) kepada pengguna sepeda motor untuk melintas rel, sampai pada kondisi tertentu dimana petugas tersebut akan menyetop kendaraan yang akan lewat.
kalo boleh usul sebaiknya peraturan yg ada saat ini tidak usahlah ditambah ato dikurangi. menurut hemat saya sebaiknya sistem di PJL dirubah sedikit untuk mengatasi pengendara2 nakal yg hobi menerobos palang pintu yg sudah tertutup. caranya adalah, dengan mengurangi jarak sensor ke pintu perlintasan sampai dengan minimal 100-50m, dengan catatan kereta api berjalan seperti biasa sesuai dengan rambu2 yg berlaku.
dengan jalan begini, maka peraturan yg sudah ada akan terkesan sangat tegas dan lugas. menerobos berarti tiket gratis alam baka ekspres (pergi doank. bukan pp).
gimana menurut kalian???
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
(12-01-2010, 10:40 AM)Charles Wrote: Kalau memang ada dasar hukumnya, pengendara yang secara sengaja melintasi palang pintu saat sirine sudah berbunyi dapat dikenakan tilang atau sidang di tempat.
Untuk memberi efek jera, sepertinya metode sidak (inspeksi mendadak) cukup ampuh untuk mengurangi korban yang disebabkan oleh KA.
Dari hasil investigasi yang saya lakukan di PJL (tanya dengan petugasnya), alasan umum para pengendara kendaraan bermotor yang suka menerobos (terutama m****m**i dan k***ja) antara lain:
1. Kejar setoran
2. Terlambat masuk kerja/sekolah
3. Ingin cepat sampai
4. Kereta masih belum datang
5. Bawa barang cepat busuk (sayur, buah, dll).
CMIIW.
iya nih bener yg ditulis diatas, alasan para pengendara biasanya nyerobot ya itu...
terus terang gw sebagai pengguna angkot yang kadang2 harus menemui kemacetan karena adanya kereta lewat juga males juga nunggunya, sekali kena bisa 5-10menit udah terbuang, apalagi di ibukota kaya jakarta.
gw cuman heran, kenapa petugas stasiun kurang efektif dalam penggunaan PJL sih?
misal aja, untuk lokomotif2 yang akan dipakai narik KA harusnya dia udah standby barengan pas tuh KA disiapin di stasiun, jadi jangan terkesan bolak balik langsir, masukin rangkaian pake loko lain, trus ntar lokonya pergi lagi, n pas mo berangkat baru didatengin loko aslinya..dll lah yang mubazir gitu.
ini gw alamin di PJL senen yg udah padet banget kan...jadinya gw juga enek kalo pas liat...lah loko doang lewat, ato loko udah lewat trus nunggu sampe tuh kereta berangkat...padahal lama juga yg udah pada nungguin di PJL...
btt, mungkin emang harus diterapin yg bener UUnya, harus ada yg jaga, meskipun sekelas PKD gitu...kalo ngga ya bakalan susah diterapin,,apalagi org indo ga pada sabaran..
sepanjang pengamatan di PJL 30 JL. LETJEN SUPRAPTO, biasanya lok yg masuk PSE untuk langsir adalah lok yg juga dipergunakan untuk menarik rangkaian KA yg akan/telah dilangsir. Setau sy sih Petugas PJL 30 JL. LETJEN SUPRAPTO membuka tutup PJL diatur oleh PPKA Setasiun Pasarsenen. Efektif atau tidaknya menurut sy pastilah ada pertimbangannya pada saat membuka atau menutup PJL tersebut.
Memang agak ngebetein juga jika kita melintas di PJL 30, karena dibutuhkan +/- 5-15 menit untuk menunggu sampai Palang Pintu PJL terbuka kembali, kadang yg lewat hanya lok, kadang 1 rangkaian KA, kadang juga 2 rangkaian KA dari utara dan selatan.
Pada dasarnya kerugian mutlak ada di pihak pengguna jalan jika yg bersangkutan menerobos Palang Pintu PJL yg telah tertutup. Tapi disisi lain UU yg ada juga sudah dijalankan sebagaimana mestinya di bbrp PJL, malah ada yg cenderung mengalah demi kelancaran lalu-lintas. Nah yg mengalah inilah yg akankah dapat dipahami dengan bijak oleh PT. KA dan para pengguna jalan?????
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.