23-09-2010, 02:10 AM
Wah..
muLai da Persaingan Niee
muLai da Persaingan Niee

|
23-09-2010, 02:10 AM
Wah..
muLai da Persaingan Niee
29-11-2010, 02:08 AM
(22-09-2010, 10:21 AM)van Baso Wrote: .... wew ajib tuh... yg 1435 buat satu jalur aja (relnya tiga, jadi bisa dilewati kereta 1067 juga)....
visit my blog
Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api' ![]() RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
29-11-2010, 03:09 AM
Harus ada diferensiasi jasa yang ditawarkan oleh PT. KAI dengan beragam pilihan dari diferensiasi tersebut. Andai, kalau harus menurunkan tarif ditengah trend kenaikan harga BBM malah akan mengakibatkan penurunan revenue yang lambat laun akan mengakibatkan suatu trayek akan ditutup (contohnya Parahyangan, amit2 jangan sampe ada lagi), hal tersebut terjadi karena jalan tol Cipularang selesai dibangun yang dapat memangkas jarak tempuh Jakarta-Bandung dengan kendaraan biasa bisa dicapai dalam 3 jam saja sedangkan dengan kereta api, mungkin tidak berbeda jauh, akan tetapi jika mereka menggunakan bus atau kendaraan pribadi, mereka bisa (minta) berhenti disembarang tempat sedangkan kereta hanya di stasiun-stasiun besar.
Mungkin yang dibutuhkan oleh PT. KAI adalah Investasi besar-besaran untuk melakukan regenerasi dari loko ataupun rel sehingga jarak tempuh dapat terpangkas. Mungkin masih jauh dari angan-angan saya sendiri melihat kereta peluru melaju di Indonesia, tapi kalau saat itu tiba, saya percara trend akan berubah. Permasalahan yang lain yang saya lihat adalah jadwal yang terkadang suka molor, hal tersebut mengganggu kreadibilitas dari PT. KAI itu sendiri yang dapat mempengaruhi kepuasa konsumen, dan yang terakhir adalah lambatnya penanganan masalah seperti gangguan sinyal, anjloknya kereta yang dapat mempengaruhi traffic dari kereta-kereta yang lain mengingat masih satu rel yang digunakan menuju jawa bagian timur (sempet baca saat Argo Lawu belum juga sampai ke tujuan walaupun sudah 30jam kereta berangkat dari Jakarta sehingga sebagian penumpang memilih beralih kepada angkutan jalan), saya rasa hal tersebut merupakan sesuatu yang Irasional mengingat PT. KAI adalah perusahaan mapan yang didalamnya tidak terdapat "hanya" ratusan tenaga ahli kompeten, akan tetapi ribuan bahkan jutaan. So far, kecintaan saya terhadap Kereta Api lah yang tetap mendorong saya untuk terus menggunakan jasa PT. KAI, nothing else. CMIIW, cheers...
RF andhykandrian, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
01-12-2010, 05:57 PM
saya heran.
itu di jepang, persentase panjang rel sama panjang jalan nya gak sampai 2 % (ka=20rb km, jalan 1,2 juta km dengan 5000 km jalan tol). jumlah mobil per 1000 orang jepang 440 buah. tapi dunia perkeretaapiannya oke2 aja tuh. malahan ka jadi moda favorit disana yang mengangkut mayoritas penduduk. sesuatu hil yang mustahal terjadi di indonesia.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
01-12-2010, 06:12 PM
Inilah yang saya ragukan, apakah jalur DT bisa mengalahkan jalan tol?
Jalan tol itu diutamakan karena kecepatan tiba ditujuan, sama seperti KA.
Aktif kembali setelah dibanned sama pak momod dan orang tua.
01-12-2010, 06:48 PM
walaupun pembangunan jalan tol transjawa 100% selesai...bukan berarti lama perjalanan (misalnya) dari Jakarta ke Surabaya via jalan tol lebih cepat, bisa jadi si "supir" akan sering berhenti untuk istirahat...entah setelah menempuh 100 Km s/d 200 Km ia istirahat dulu kurang lebih 30 menit.........walaupun sudah menyiapkan supir cadangan tetep saja hal itu kurang efisien
tapi bila rel KA dari Jakarta ke Surabaya sudah full DT, perjalanan KA juga akan lebih cepat karena tidak akan ada lagi istilah "berhenti di stasiun untuk menunggu silangan" dan KA berhenti hanya untuk menaikturunkan penumpang yg hanya (kurang lebih) 5 menit... intinya bila proyek tol transjawa dan jalur rel KA Double Track di seluruh pelosok jawa sama2 sudah selesai tetep masih cepet KERETA API............
02-12-2010, 12:18 AM
Kalau untuk jangka pendek, saya yakin pasti KA terpukul.
Tapi untuk jangka panjangnya, KA keunggulannya lebih banyak, dan pasarnya tetap ada dan tumbuh selama stakeholder KA bekerja dengan baik dan cerdas. Dan syaratnya memang pemerintah juga harus serius memperbaiki sarana dan prasarana KA (termasuk SDM) nya.
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
02-12-2010, 03:50 PM
Sebenarnya saya juga bingung kalau seandainya kedua proyek ini sudah jadi. Ntar jadinya kereta nanti kayak Parahyangan dan Argo Gede. Memang benar bus mempunyai kecepatan minimal 100 km/jam itupun masih terlalu lambat di jalan tol. Sedangkan kereta dengan kecepatan 100 saja udah dirasa cepat. Kalau sudah begini orang2 sudah pasti memilih berkendara di jalan tol karena memang lebih cepat.
Ambil contoh Jakarta - Bandung. Kalau lancar, sudah pasti hanya 1 jam 20 menitan, kalau naik kereta hampir 3 jam lebih. Saya menyadari bahwa jalur kereta disini tidak bisa dibandingkan dengan jalan tol. Coba kalau seandainya pembuatan jalan tol diiringi dengan pembangunan jalan rel baru disebelahnya mungkin lain lagi ceritanya. Contoh, tol Trans Jawa, Dari Cikampek - Subang - Dawuan - Palimanan. Hal ini akan memangkas waktu perjalanan Jakarta - Cirebon hanya 2 jam kurang saja. Kalau dengan kereta hampir 3 jam, 3 jam itupun sudah termasuk cepat. Kalau cepat2 ntar bisa anjlok kayak Cireks. Saya hanya membayangkan saja, kalau Jakarta - Cirebon itu hanya 2 jam kurang saja dengan kereta, tapi mungkin untuk saat ini hanyalah mimpi saja karena sekarang taspat maksimum untuk jalur terbaik hanya 80 km. Ini adalah suatu kemunduran yang luar biasa. Ya sudahlah, kita lihat apa yang akan terjadi kedepannya. Mudah2 bisa balik lagi ke jaman Perumka.
02-12-2010, 04:12 PM
(02-12-2010, 03:50 PM)JaY Wrote: Sebenarnya saya juga bingung kalau seandainya kedua proyek ini sudah jadi. Ntar jadinya kereta nanti kayak Parahyangan dan Argo Gede. Memang benar bus mempunyai kecepatan minimal 100 km/jam itupun masih terlalu lambat di jalan tol. Sedangkan kereta dengan kecepatan 100 saja udah dirasa cepat. Kalau sudah begini orang2 sudah pasti memilih berkendara di jalan tol karena memang lebih cepat. Kalo jalan tol Jakarta - Bandung macet, kereta lebih duluan nyampe kan...? Bukannya secara empiris, operator kereta api di Indonesia menerapkan moto "Kalo takut ketinggian ya naiklah kereta api, kalo males bermacet ria di jalan ya naik kereta api sajah..." ![]() Meskipun ntar jalur tol Trans Jawa sdh jadi saya rasa kereta api masih tetep dapet porsi/jatah penumpang, meskipun pada awalnya akan terpukul. Perlu dukungan penuh dr pemerintah utk perbaikan prasarana terutama track.
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
![]()
05-12-2010, 06:35 PM
1. Jembatan selat sunda & jalur trasns sumatera.
2. HIdupkan lagi ka;ur2 mati di pulau jawa (purwokerto-wonosobo, semarang-rembang dll) buat ngurangi beban jalan. |
|
|