Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Tarif Tunggal KRL Jabodetabek Diterapkan Mulai 2013
#21
(10-02-2010, 12:14 PM)Shin Muhammad Wrote: Kalau mau mengadakan layanan ekspres, buatlah jalur sendiri (seperti JR East dengan Joban Line atau Tobu dengan Tojo Line). Jadi jalur KA lokal dan KA ekspres dipisah, sehingga tidak mengganggu perjalanan KA ekonomi.

Kalau tidak kuat bikin jalur, saran saya sih tetap dengan single class saja. Semua KA lokal - tanpa ekspres - , kalau demikian Tersenyuum

pengen nya sih begitu bro. boo-mri quadruple. dengan 2 jalur ditengah khusus ka ekspress. atau kalo gak bisa quad, triple track juga bisa. dengan jalur yang ditengah buat ekspres dan lalulintasnya bolakbalik.

mungkinkah? kayaknya berat deh. but, who knows?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#22
(10-02-2010, 06:19 PM)ady_mcady Wrote:
(10-02-2010, 12:14 PM)Shin Muhammad Wrote: Kalau mau mengadakan layanan ekspres, buatlah jalur sendiri (seperti JR East dengan Joban Line atau Tobu dengan Tojo Line). Jadi jalur KA lokal dan KA ekspres dipisah, sehingga tidak mengganggu perjalanan KA ekonomi.

Kalau tidak kuat bikin jalur, saran saya sih tetap dengan single class saja. Semua KA lokal - tanpa ekspres - , kalau demikian Tersenyuum

pengen nya sih begitu bro. boo-mri quadruple. dengan 2 jalur ditengah khusus ka ekspress. atau kalo gak bisa quad, triple track juga bisa. dengan jalur yang ditengah buat ekspres dan lalulintasnya bolakbalik.

mungkinkah? kayaknya berat deh. but, who knows?

Berat kalau BOO dipaksa pakai DDT, karena lahannya terbatas, sementara BKS lebih baik prospeknya karena masih tersedia lahan kosong dan jalurnya pun lebih padat dari BOO karena adanya KA AKAP.

Kalau tarif tunggal dengan dua layanan (lokal dan ekspres) bagaimana? Ketiga layanan tsb diusahakan fleksibel karena ada yang berhenti di stasiun tertentu dan ada pula yang tidak...
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#23
(10-02-2010, 01:31 PM)m_ilhami Wrote: menurut saya, konsep semua menjadi KRL ekonomi AC itu ide pejabat yang tidak merasakan naik KRL sehari-hari. Wek
JAKK-BOO berhenti di 20 stasiun rata-rata berhenti 2 menit bisa hilang 40 menit untuk berhenti saja.

Waktu berhentinnya terlalu lama. Kan bisa diperpendek jadi 20 detik, untuk stasiun kecil dan 40 detik untuk stasiun besar. Jadi seperti MRT.
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
Reply
#24
(11-02-2010, 05:25 PM)peseg5 Wrote: Waktu berhentinnya terlalu lama. Kan bisa diperpendek jadi 20 detik, untuk stasiun kecil dan 40 detik untuk stasiun besar. Jadi seperti MRT.
tetep aja bozz, kalo kaga ada KRL express.. maka pelanggan KRL express akan balik lagi ke mobil pribadi... bisa2 jalanan makin parah nih
karna dengan tarif yang aga mahal, maka penumpang sedikit lengang, itulah kelebihan dan daya tarik KRL express bagi pelanggannya, nyaman, ga penuh dan cepet...
dan cukup adil koq tarif express yang aga mahal tersebut, sebagai kompensasi angkutan yang cepat dan nyaman
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Reply
#25
(11-02-2010, 05:25 PM)peseg5 Wrote:
(10-02-2010, 01:31 PM)m_ilhami Wrote: menurut saya, konsep semua menjadi KRL ekonomi AC itu ide pejabat yang tidak merasakan naik KRL sehari-hari. Wek
JAKK-BOO berhenti di 20 stasiun rata-rata berhenti 2 menit bisa hilang 40 menit untuk berhenti saja.

Waktu berhentinnya terlalu lama. Kan bisa diperpendek jadi 20 detik, untuk stasiun kecil dan 40 detik untuk stasiun besar. Jadi seperti MRT.

perasaan saya "ngejam" krl itu cuma 15/20 detik doang berentinya. habis itu jalan lagi. gak tahu kalo pocin ke selatan apa sampai 2 menit.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#26
buat sayah sih ga masalah, soal na keuangan cuman mentok hanya krl ac eko sajahBig Grin, soal cepet atau tidak cepet sampenya, balik ke personal masing2, bisa diatur lagi jam berangkatnya dari rumah, kalow pulang dr kantor/kampus/sekolah sih udah ngga bisa diatur lagi, pasrah ajah yg penting sampe dgn selamat, lagian kan th2013 KRLnya buaanyak, semua kebagian, ga usah berebut Wek
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#27
(11-02-2010, 06:30 PM)ady_mcady Wrote:
(11-02-2010, 05:25 PM)peseg5 Wrote:
(10-02-2010, 01:31 PM)m_ilhami Wrote: menurut saya, konsep semua menjadi KRL ekonomi AC itu ide pejabat yang tidak merasakan naik KRL sehari-hari. Wek
JAKK-BOO berhenti di 20 stasiun rata-rata berhenti 2 menit bisa hilang 40 menit untuk berhenti saja.

Waktu berhentinnya terlalu lama. Kan bisa diperpendek jadi 20 detik, untuk stasiun kecil dan 40 detik untuk stasiun besar. Jadi seperti MRT.

perasaan saya "ngejam" krl itu cuma 15/20 detik doang berentinya. habis itu jalan lagi. gak tahu kalo pocin ke selatan apa sampai 2 menit.

Bener bro, pintunya memang cuma terbuka sebentar.
Tapi tetep ada waktu untuk pengereman dan akselerasi, dibandingkan kalau kereta berjalan langsung.

Kalau trayek bogor jakarta, apa salahnya kalau tidak berhenti di lenteng agung misalnya. Orang Lenteng agung naik Eko AC tidak masalah karena relatif dekat dari jakarta, tidak makan waktu lama.
Reply
#28
(12-02-2010, 08:39 AM)m_ilhami Wrote: Kalau trayek bogor jakarta, apa salahnya kalau tidak berhenti di lenteng agung misalnya. Orang Lenteng agung naik Eko AC tidak masalah karena relatif dekat dari jakarta, tidak makan waktu lama.

sepakat bro... boo-jakk tu lumayan jauh loh.. mangkanya diadakanlah KRL express, untuk mempersingkat waktu tempuh menjadi ya... 50 menitan lah, dengan begitu tentu memberikan fasilitas kapada kaum commuter yang jaraknya jaoh... saya juga faham kenapa express cuman depok, bojonggede ma bogor aja (di lintas selatan).. karena jaraknya mang jauh, coba naik ekoAC jua-poc aja bisa 1jam lebih... karna ada express jadinya cuman 40 menit...

mangkanya bung Ilhami bner banged... apa salahnya ada KRL yang ga brenti lenteng, psar minggu, tebet, atau bahkan depok?... toh saya tiap hari naik dari poc juga ga apa-apa banyak krl tidak brenti di situ.. karna saya paham krl tsb dari jarak jauh... toh cukup adil juga koq kalo krl itu cepet, nyaman juga tarifnya lebih mahal...

pertahankan KRL Express..........
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Reply
#29
klo bekasi express mo berhenti di setiap stasuin sih gpp, tapi klo trip-time sampe lebih dari 40 menit mending gw balik macet2an di jalan.. lha biasanya paling cepat cuma 15 mnt koq....
gw setuju klo ekonomi dipensiunkan (sori bos.. keretanya udah ga ada ac, banyak copet dan pengasong, pintu ga ditutup pula..) trus diganti ekonomi AC asal... TARIFNYA DISUBSIDI... jadi tadinya 2rb jadinya 2,5rb ato 3rb dan bukan 5,5rb.. kenapa begitu? karena biar orang2 ga balik naik angkot ato motor lagi yang akhirnya bikin macet jalanan dan nambah korban kecelakaan.. selama ongkos pp naik kereta < dari ongkos angkot dan bensin motor maka orang pasti pilih kereta...
nah klo express gw lebih setuju klo tetap ada, karena bakalan lama klo mesti berhenti di tiap stasiun... cuma waktunya disesuaikan dengan jam kantor (mestinya KCJ buat riset yang serius dong.. buat survey tempat mana dan jam berapa yang penumpangnya banyak), jadi orang kantoran yang punya mobil tetap mau naik KRL karena mereka adalah tipikal orang yang mengutamakan kecepatan dan kenyamanan..
jadi semua jenis penumpang mesti diakomodasi oleh KRL, karena hanya KRL yang menjadi solusi transportasi massal dan kemacetan di jabodetabek...
Reply
#30
^^
ekonomi kipas itu serba salah ya
Banyak dirusak, tapi ya tetap banyak yg butuh
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)