Posts: 63
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
0
Quote:Tiket elektroniknya secara fisik seragam (semua memakai model yang sama), tarifnya dipotong berdasarkan kelas yang dipilih saat melakukan tapping (semacam registrasi untuk naik ke dalam rangkaian KA) di pintu masuk.
CMIIW.
pastinya waktu berhenti kereta di tiap stasiun akan lebih lama dan tidak seragam, lha penumpangnya sibuk antri tap-in di pintu kereta.. belum lagi klo ada reader yang rusak...
solusi beda kelas: tap-in lagi diatas dengan EDC kondektur atau pisah peron.
solusi lebih baik: 1 kelas.. 
soal tarif memang lebih baik tidak seragam tapi berdasarkan jarak. nah range tarifnya jangan sampai terlalu tinggi, karena kembali lagi ke hukum ekonomi.. konsumen selalu cari yang lebih murah..
saya kira subsidi masih tepat diberikan ke moda kereta api apalagi commuter karena sebagian penumpangnya ya kelas ekonomi.
Klo dianggap menguntungkan orang2 yang mampu coba dipikirkan apakah lebih baik pemilik mobil disubsidi untuk naik kereta atau dibiarkan menambah macet jalanan? (dan menambah konsumsi bbm subsidi?)
Posts: 144
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
5
(16-02-2010, 01:48 PM)Charles Wrote: (16-02-2010, 10:48 AM)m_ilhami Wrote: Tarif berdasar jarak memang sangat adil. Hanya butuh infrastruktur yang lebih lengkap, yaitu gerbang yang bisa mengecek tujuan sesuai dengan tiket yang dibeli. Kalau beli sampai pasar minggu tapi turun di sudirman, ya resiko nggak bisa keluar stasiun atau denda misalnya.
Selain itu jg perlu dibuat mesin tiket elektronik dengan tiket elektronik yang bisa memotong saldo otomatis. Kalau tidak ya mumet juga tuh kasir mikir tarif tiap stasiun dan kembaliannya.
misal
DP-pdk cina 1000
DP-UI 1500
DP-Unpas 1800
DP-LA 2000
DP-PS minggu 2500
pasti lama deh antri di kasirnya hehe
Akhir-akhir ini justru digembar-gemborkan sistem COMMET (Commuter Electronic Ticketing) untuk mengatasi batasan-batasan seperti dijelaskan tsb, tetapi realisasinya masih sulit dikarenakan perbedaan kelas.
Kemungkinan PT KCJ akan menerapkan tarif tunggal dengan sistem jarak (by distance) yang mana jika suatu penumpang turun di stasiun yang melebihi stasiun tujuannya (misalnya turun di PSM tetapi bablas hingga SUD seperti contoh), maka tarif yang akan dikenakan adalah tarif mulai dari stasiun keberangkatan hingga PSM, yang mana denda akan diberikan sesuai kebijakan PT. KCJ dengan memotong saldo dari tiket elektronik tsb.
CMIIW.
Setau saya dalam terapan sistem e-ticket berdasarkan jarak, begitu masuk di stasiun awal kita sudah dipotong saldonya dengan tarif jarak terjauh / tarif tertinggi. Semisal nantinya tarif tertinggi KRL Jabotabek adalah 8000 dimana itu misalnya jarak BOO-JAKK. Jadi misalnya kita naik dari BOO saldo sudah dikurangi 8000, begitu kita turun di PSM (tarif BOO-PSM 4500 misalnya), begitu kita keluar di stasiun tujuan PSM saldo kita ditambahi lagi 3500.
Hal itu berlaku umum, karena apabila dikurangi bukan saldo tertinggi, ketika di kartu tiket kita cuman ada 4000, berangkat dari BOO lolos, begitu sampe JAKK gak bisa keluar stasiun. Sedangkan loket posisinya diluar gerbang tiket. Nah penerapan sistemnya yang kacau. Tetapi jika langsung dikurangi tarif tertinggi, maka itu memberikan kita jaminan kita naik di stasiun manapun bisa turun di stasiun manapun.
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
Posts: 63
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
0
(18-02-2010, 03:09 PM)peseg5 Wrote: Setau saya dalam terapan sistem e-ticket berdasarkan jarak, begitu masuk di stasiun awal kita sudah dipotong saldonya dengan tarif jarak terjauh / tarif tertinggi. Semisal nantinya tarif tertinggi KRL Jabotabek adalah 8000 dimana itu misalnya jarak BOO-JAKK. Jadi misalnya kita naik dari BOO saldo sudah dikurangi 8000, begitu kita turun di PSM (tarif BOO-PSM 4500 misalnya), begitu kita keluar di stasiun tujuan PSM saldo kita ditambahi lagi 3500.
Hal itu berlaku umum, karena apabila dikurangi bukan saldo tertinggi, ketika di kartu tiket kita cuman ada 4000, berangkat dari BOO lolos, begitu sampe JAKK gak bisa keluar stasiun. Sedangkan loket posisinya diluar gerbang tiket. Nah penerapan sistemnya yang kacau. Tetapi jika langsung dikurangi tarif tertinggi, maka itu memberikan kita jaminan kita naik di stasiun manapun bisa turun di stasiun manapun.
ga perlu langsung kurangin pakai tarif maksimum boss, cukup dikasih info aja dikartunya (by software) klo dia masuk dari stasiun BOO. nanti pas keluar di PSM langsung hitung deh tarif BOO-PSM sekalian debet saldo kartu.
masalah saldo kurang bisa diatasi koq boss, cukup beri saldo minimum kartu yang sama dengan tarif tertinggi (15rb) di gate-in.
klo saldo = 15rb bisa masuk stasiun trus terserah mo turun dimana juga nantinya saldonya kan max 15rb yang didebet, nah klo dia masuk lagi ga bakal bisa karena di gate-in ada aturan saldo < 15rb ga bisa masuk... beres kan..
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
gw lebih suka tarif tunggal itu hanya berlaku utk Boo- MRi, BKS/Cikarang ( Insya Alloh kalo kelar ) - MRI/JNG, SRP - TNB, TNG - Duri, sedangkan stasiun lintas dlm kota lainnya dibelakukan tarif zona dalam kota dgn komuter khusus, nantinya komuter dari luar kota layanannya berakhir di MRI, TNB, JNG dan Duri, misal lintar luar kota BOO - MRI Rp. 4000, BKS MRI/JNG Rp. 3000, dalam kotanya FLAT Rp. 2000,-.
Emang sih kelihatannya ribet cuman cukup adil bagi pengguna komuter dalam kota seperti sayah  Yg kepikiran sarananya, baca2 di running text tipi katanya nganggarin Rp. 800 Milyar buat sarana, entah PT. Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KA Komuter ?
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 41
Threads: 0
Joined: Dec 2009
Reputation:
0
Lha kalo di stasiun awal dan stasiun tujuan dia lewat jalan tikus gmn?!  kan maih banyak tu stasiun yg bnyk jalan tikusnya
Posts: 3,191
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
16
19-02-2010, 01:11 PM
(This post was last modified: 19-02-2010, 01:12 PM by Charles.)
(19-02-2010, 12:53 PM)sunskee Wrote: Lha kalo di stasiun awal dan stasiun tujuan dia lewat jalan tikus gmn?! kan maih banyak tu stasiun yg bnyk jalan tikusnya
Memang masih banyak jalan tikus di beberapa stasiun yang memudahkan para penumpang yang  /free riders untuk naik KRL tanpa tiket resmi.
Sepertinya di ujung jalan-jalan tikus yang terhubung ke peron tersebut perlu juga dipasangi reader untuk mencegah tak dapat digunakannya tiket elektronik akibat tak melakukan tapping di pintu keluar resmi/gate out dan gate in.
CMIIW.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi
Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Posts: 144
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
5
(19-02-2010, 01:11 PM)Charles Wrote: (19-02-2010, 12:53 PM)sunskee Wrote: Lha kalo di stasiun awal dan stasiun tujuan dia lewat jalan tikus gmn?! kan maih banyak tu stasiun yg bnyk jalan tikusnya
Memang masih banyak jalan tikus di beberapa stasiun yang memudahkan para penumpang yang /free riders untuk naik KRL tanpa tiket resmi.
Sepertinya di ujung jalan-jalan tikus yang terhubung ke peron tersebut perlu juga dipasangi reader untuk mencegah tak dapat digunakannya tiket elektronik akibat tak melakukan tapping di pintu keluar resmi/gate out dan gate in.
CMIIW.
Itulah kenapa di gate masuk stasiun awal tiket dikurangi saldo 15000 langsung. Tujuannya agar memaksa penumpang untuk mentap lagi di gate keluar stasiun tujuan supaya saldonya bertambah lagi. Karena kalau kabur lewat jalan tikus ya rugi buat penumpangnya, padahal tarifnya tidak sampai 15000 rupiah misalnya.
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
Posts: 63
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
0
(19-02-2010, 01:11 PM)Charles Wrote: (19-02-2010, 12:53 PM)sunskee Wrote: Lha kalo di stasiun awal dan stasiun tujuan dia lewat jalan tikus gmn?! kan maih banyak tu stasiun yg bnyk jalan tikusnya
Memang masih banyak jalan tikus di beberapa stasiun yang memudahkan para penumpang yang /free riders untuk naik KRL tanpa tiket resmi.
Sepertinya di ujung jalan-jalan tikus yang terhubung ke peron tersebut perlu juga dipasangi reader untuk mencegah tak dapat digunakannya tiket elektronik akibat tak melakukan tapping di pintu keluar resmi/gate out dan gate in.
CMIIW.
menurut saya seharusnya jalan2 tikus itu harus ditutup biar  ga bisa lalu-lalang, petugas dan pedagang 'resmi' mesti pakai id-card khusus untuk masuk lewat gate-in/out.. jadi stasiun harus 100% steril seperti di bandara, jangan setengah2 menata sistem dengan e-ticketing tapi masalah akses masih semrawut.
contoh yang baik di stasiun sudirman, aksesnya sudah tertata rapi (karena baru renovasi juga sih) jadi selain penumpang dan petugas ga bisa masuk (pedagang dan pengemis buka lapaknya diluar), jalan2 tikus sudah ditutup, jadi sudah siap untuk implementasi e-ticket. tapi bagaimana dengan stasiun lainnya? tentunya harus menjadi perhatian PT KCJ dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) juga, toh stasiun yang teratur dan rapi tentunya harapan setiap orang bukan?? 
klo belum siap kan tinggal ditunda implementasinya sampai infrastruktur pendukung sudah siap, jangan kayak beberapa koridor busway yang jadi mubazir karena ga ada bis...
Posts: 510
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
6
Klo kayak gitu apa da jaminan ga da kambing yg naik diatas gerbong dan ga da yg jualan didalam gerbong. berarti mematikan siklus ekonomi di dlm krl donk dan makin byk pengangguran lagi donk tolong pikirin yg ini jgn sampe byk penjahat makin berkeliaran didalam krl.
Posts: 3,191
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
16
(22-02-2010, 09:34 AM)tjcdes2009 Wrote: Klo kayak gitu apa da jaminan ga da kambing yg naik diatas gerbong dan ga da yg jualan didalam gerbong. berarti mematikan siklus ekonomi di dlm krl donk dan makin byk pengangguran lagi donk tolong pikirin yg ini jgn sampe byk penjahat makin berkeliaran didalam krl.
Tidak, karena armada KRL yang dioperasikan nantinya cepat atau lambat akan mencukupi sisa penumpang yang tak terangkut (yang kemudian jadi  ) saat ini, dan berjualan pun cukup di peron stasiun (tidak usah naik ke KA) dan sistem gate in/outnya menggunakan gerbang tertutup otomatis sehingga copet/penodong tak dapat memasuki rangkaian KRL saat berhenti di stasiun.
KRL-nya untuk awalnya tetap menggunakan tiga kelas, namun jika memungkinkan akan diberlakukan sistem tarif tunggal by distance per kelas (jadi tarif ke BOO dari JAKK berbeda dengan tarif ke DP dari JAKK dengan kelas yang sama), yang tentunya perlu penyesuaian dari PT. KCJ.
CMIIW.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi
Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
|