Thread Rating:
  • 1 Vote(s) - 4 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
All About KA Bengawan (Diskusi, share, pelayanan)
Friends,

Dikutip dari milis tetangga dengan editing seperlunya, share pengalaman naek KA Bengawan

tks



"Teman2..ini ada pengalaman dari seorang kawan.. Semoga menjadi pelajaran buat kita.. Dan saya heran sama perlakuan yg tidak 'adil' terhadap KA kelas ekonomi..

Singkat cerita sabtu (12/03), sepulang kerja pkl 18.00. Saya putuskan hari itu untuk mengantar barang titipan teman yang tinggal di PWT. Lepas maghrib Saya langsung berangkat menuju JNG dengan menggunakan angkutan umum. Setibanya di JNG. Saya liat antrian di depan loket yang sudah mengular dari ujung timur ke ujung barat dengan berbaris dua banjar. Sempat nanya ke salah satu calon pnp yang mengantri “kok, loket di tutup,?”, di jawab olehnya “untuk KA Bengawan sudah melebihi batas angkut, akan di buka lagi untuk KA Progo nanti setelah KA Bengawan sudah lewat”. Hampir saja Saya putus asa disitu, jika sampai ikut KA Progo, bisa saja Saya kesiangan sampai di PWT, karena memang siangnya harus sudah kembali ke JAK menggunakan Bus dengan perjalanan siang dari PWT, berharap ada waktu istirahat untuk kerja keesokan harinya.
Jongkok sejenak di pelataran stasiun, mendengar PPKA menyebut “akan masuk jalur 1 KA Senja Utama Yogya ….” Kemudian Saya coba buka urutan GAPEKA yang sempat Saya save sebagian di Hand Phone, ternyata setelah KA 110 (Senja Utama Yogya) akan masuk KA 154 (Senja Bengawan). Pikiran Saya mulai bingung waktu itu, tak berapa lama ada beberapa pemuda yang berniat masuk JNG dengan memutar melalui PJL di timur stasiun. Antara iya & tidak, karena untuk mengejar waktu juga mempertaruhkan nama besar “Komunitas RF & ES” [untungnya waktu itu tidak ada atribut yang Saya kenakan yang berhubungan dengan komunitas] akhirnya Saya ikuti mereka dari belakang.
Akhirnya, masuklah Saya di area JNG sebelah utara, duduk sejenak sembari melihat KA 110 take off dari JNG. Gag berapa lama akhirnya KA 154 masuk di JNG, dengan santai & perasaan yang begitu berkecamuk dalam pikiran, Saya berjalan menuju peron 1, dalam hati berkata “Pasrah sudah kalo memang sampai di tarik lebih dari harga karcis yang berlaku oleh petugas di atas kereta”.
KA 154 berhenti di jalur 1, Sayapun ikut antrian untuk masuk ke dalam kereta. Masuklah Saya di gerbong 1 setelah gerbong aling2 (yang mana itu adalah urutan gerbong ke 2 dari lokomotif). Terus masuk ke tengah berharap ada ruang kosong untuk menaruh tas pada tempatnya (rak di atas TD pnp) “Kalo yang ini memang kebiasaan Saya, menaruh barang di mana & Saya sendiri di mana bahkan kadang terpisah jauh barang itu dengan Saya”. Selesai meletakkan tas di rak atas TD pnp, Saya meneruskan berjalan menuju bordes antara gerbong 2 & 3. Suasana sudah penuh sesak oleh pnp karena mungkin memang week end hari itu.
Di sinilah cerita berawal, dengan fisik yang sudah tidak fit lagi karena sepulang bekerja belum lagi harus berdesak-desakkan dengan pnp lain. Saya berdiri di bordespun dengan mata yang hampir terpejam. KA 154 masuk BKS, ternyata ada orang yang sedari tadi memang sudah berdiri tidak jauh dari hadapan Saya yang berteriak dengan lantang ke pnp lain yang berdiri di pintu gerbong agar memberi jalan kepada pnp yang akan naik ataupun turun. Mata Saya yang tertunduk ke bawah sempat terbuka, mengamati sejenak dari sepatu & celana, mungkin saja itu orang dinas “pikir Saya dalam hati”. Saya coba membuka mata & memperhatikan secara seksama pakaian demi pakaian yang Dia kenakan. Tampaklah seragam R6 khas dengan lambang PT. KAI yang Dia kenakan di balik jaket warna abu-abu tua dengan aksen garis lurus di setiap bagian jahitan baik lengan, bahu & ketiak ke bawah. Tampak pula sebagian namanya yang terpasang pada ID card tsb berakhiran “YATIN”, karena memang sebagian lainnya tertutup oleh jaket yang Dia kenakan.
KA 154 berangkat dari BKS, karena memang posisi kami berhadapan tepat di sambungan bordes antara gerbong 2 & 3. Dia mengawali pembicaraan, berikut kutipannya ;
Petugas : maaf mas, turun dimana,?
Saya : di Purwokerto Pak.
Petugas : oo, mungkin nanti sampai di Purwokerto pkl 03.00. Lah kok mas’y di sini,? Memang di tiket gerbong berapa & no TD’y berapa,?
Saya : “sedikit berkeringat dingin karena memang Saya berada di posisi bersalah dengan tidak memegang tiket” kemudian Saya ceritakan seperti di atas apa yang terjadi sebelumnya.
Petugas : ohh gitu “tidak di sambung lagi kalimatnya”
Saya : Langsung Saya tanya lagi, “Bapak yang sedang dinas atau hanya akan pulang dinas,?”
Petugas : Iya, Saya yang dinas sekarang sebagai ‘Kepala Pengawas Keamanan’ ~akunya~.
Saya : ohh gitu.
Petugas : Ya sudah, mas’y di sini saja bareng Saya. Nanti kalo ada kondektur memeriksa tiket gag usah khawatir.
Saya : hanya mengangguk kemudian bertanya kembali “berarti status Bapak ada di atas Polsuska,?” ~Tanya Saya~
Petugas : Iya betul begitu, jadi Saya hanya bertugas mengontrol keamanan pnp & tingkatan’y ada di atas Polsuska.
KA 154 masuk CKP, rombongan pedagang langsung turun dengan tergesa-gesa seolah-olah memaksa untuk lewat. Setelah itu, barulah petugas tsb mengingatkan “tolong coba periksa kantong celana Anda, apa ada yang merasa kehilangan,? Selagi kereta masih berhenti”. Benar saja, antara bordes 2 & 3 ada 5 orang yang merasa kehilangan dompet di bagian saku belakang. Petugas tsb meminta salah satu pnp untuk mencoba melongok rombongan pedagang yang baru saja turun. Hasilnya, sudah tidak ada siapa2 selain pnp KA 154 itu sendiri yang sengaja turun untuk mencari udara segar.
KA 154 meninggalkan CKP, tak berapa lama ada KP yang memulai tugasnya memeriksa tiket pnp dari gerbong terdepan. Petugas itu mengingatkan kembali pada Saya “itu depan ada pemeriksaan tiket, udah kamu tenang saja, ada Saya disini”. Tak berapa lama sampailah Polsuska di bordes tempat Saya berdiri. Karena memang sebelumnya Saya sudah tahu siapa sebenarnya petugas yang sedari tadi bersama dengan Saya. Sedikit percaya dari situ, yang namanya bawahan paling tidak hormat dengan atasan, ya mungkin sama2 sedang dinas, Polsuska tersebut hanya menyapa Dia dengan panggilan “Pak” di ikuti anggukan kepala, Dia pun membalasnya dengan anggukan kepala.
KP lewat, Saya hanya menunjuk ke arah Beliau. KP pun menyapa & berlalu dari hadapan kami. Setelah itu perbincangan di mulai kembali, berikut kutipannya :
Petugas : ke PWT memang mo ngapain,?
Saya : “masih dengan keringat dingin, seolah2 sedang di interogasi” sekedar main Pak ke rumah teman.
Petugas : memang tidak bawa apa2,?
Saya : “dengan sedikit berbohong” tidak Pak, Saya Cuma niat sebentar di PWT, siangnya mungkin bakal balik lagi ke JAK menggunakan Bus (toh memang waktu itu Saya tidak bawa uang lebih, mungkin hanya cukup untuk membeli tiket KA Bengawan & tiket Bus untuk kembali ke JAK).
Petugas : enak amat yahh, santai tanpa bawaan.!!
Saya : “sambil tersenyum” iya Pak.
KA 154 menjelang masuk St. Jatibarang, hujan deras mengguyur perjalanan malam itu. Mata kembali terpejam sesaat. KA 154 masuk St. jatibarang, masih ada lagi penambahan pnp malam itu, akhirnya KA 154 penuh sesak oleh pnp malam itu. Karena posisi hujan deras & memang Saya juga petugas tsb berada di bordes, mau tidak mau akhirnya basah kuyup oleh tetesan air hujan. Tapi itu tidak Dia hiraukan, sembari mengatur pnp yang berjubal di area bordes untuk lebih masuk ke tengah gerbong agar tidak terlalu basah apabila hujan bertambah lebat malam itu.
Sesaat setelah itu, Diapun sempat bertemu dengan rekan sesama PT. KAI, menurut Saya sih sekedar hafal saja kali yahh, soalnya orang PT. KAI yang baru saja naik di St. Jatibarang itu menurut Saya barulah lulus pendidikan, dari tampang masih tampak muda, tujuan Dia hendak ke CN.
Mulai dari sini Saya sedikit tenang, syukurlah kalo memang Beliau itu di samping menjalankan tugas tapi juga mau mencoba membantu Saya dalam kekhawatiran perjalanan malam itu karena memang Saya tahu tentang peraturan yang acap kali terpasang di area stasiun bila pnp tidak memiliki tiket.
KA 154 melintas langsung di Arjawinangun. Petugas itu kembali membangunkan Saya & mulai mengajak berbincang :
Petugas : mas, nanti di CN ikut Saya yah pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “sesaat tersentak kaget & keringat dingin mulai mengalir sedikit demi sedikit terbayang sejenak layaknya seorang polisi memberikan tilang di tengah jalan” waduh Pak, kok pindah ke Senja Utama Solo,?
Petugas : Iya, kamu turun di PWT kan,? Saya pas pindah tugas di CN menerusakan perjalanan di Senja Utama Solo
Saya : “masih berpikir” Gimana yah Pak, Saya juga bingung,!!
Petugas : udah Kamu tenang saja, bareng Saya kok.
Saya : “mau tidak mau kebohongan Saya terbongkar” Saya bawa barang Pak, tapi Saya tinggal di situ (sambil menunjuk ke tengah gerbong 1 di atas TD pnp).
Petugas : lho katanya ndak bawa barang,?
Saya : habis kalo Saya bawa kemari terlalu merepotkan keadaan sih Pak, toh itu juga barang titipan yang hendak Saya antar ke PWT.
Petugas : ya udah coba Kamu ambil, nanti di CN kita pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “dengan berhati2 karena memang jarak yang begitu jauh & pnp yang sudah penuh di dalam rangkaian, mau tidak mau harus melompatinya satu persatu & saat kembali, kepala saya sempat terkilir akibat beratnya beban di tas & susahnya jalan di antara para pnp di dalam gerbong”
Petugas : “sambil mencoba membantu” sini tasnya Saya pegang, kamu lompatin dulu tuh orang.
Saya : “sudah sampai di bordes kembali” makasih Pak,!!
Petugas : iya sama2.
KA 154 masuk CN, entah jam berapa waktu itu. Karena memang Hand Phone Saya sengaja di non aktifkan semenjak berangkat dari JNG, untuk menghemat daya batrai yang mana memang batrai Hand Phone Saya sudah uzur di khawatirkan saat sampai di PWT terjadi miss communication.
KA 154 masuk jalur 3, di jalur 2 ternyata masih ada KA 110 (Senja Utama Yogya). Sembari menanti KA 110 berangkat, di peron Dia sempat mengajak Saya untuk kembali berbincang. Disini nadanya serasa menginterogasi Saya waktu itu :
Petugas : pasti kamu kira akan Saya bawa ke kantor yah,? “sembari tersenyum”
Saya : “agak canggung menjawabnya” Yaa begitulah Pak.
Petugas : yaa sudah, gag usah terlalu di pikirkan lagi hal itu, toh dari awal Saya sudah tahu keadaan Kamu.
Akhirnya KA 110 berangkat, sembari menanti berlalu dari jalur 2. Kami sama2 terdiam sejenak. Gerbong aling2 paling belakang KA 110 sudah berlalu, Beliau dengan santai mengajak Saya ke sebuah warung di area peron 1 St. CN “yuk, ke warung dulu sambil ngopi sembari menunggu Senja Utama Solo masuk, badan Saya lagi gag enakan nih, mungkin masuk angin tadi pas kena air hujan di sambungan”. Tanpa ada rasa was2 lagi akan di bawa ke kantor, akhirnya Saya mengikuti langkah Beliau dari belakang.
Warung yang di tuju waktu itu adalah warung makan yang terletak di paling ujung selatan St. CN. Entah memang Beliau mengakrabkan diri atau memang sudah hafal dengan sang pemilik warung tsb, sesaat bercanda di depan warung sebelum akhirnya masuk kedalam & memesan 2 cangkir kopi susu. Sesaat setelah Beliau duduk, Saya mendahulukan untuk mengajak perkenalan yang mana memang sedari tadi Kami belum sempat berkenalan :
Mendengar ucapan itu, RF mana yang gag bahagia. Udah bisa kenal dengan orang penting meskipun masih sekelas di lapangan. Apalagi Beliau sudah punya pengalaman bertahun-tahun di kereta itu sendiri, disini sama sekali tidak ada rasa curiga Saya terhadap Beliau yang memang punya perawakan tinggi kira2 165-170cm, agak kurus, kulit sawo matang, potongan rambut rapih seukuran 3cm, tampang yang terbilang awet muda (masih tergambar jelas dalam ingatan Saya)”
Duduk sejenak di area peron 1, masuk KA 115 (Senja Utama Semarang). Saya sejenak memperhatikan sambil berkata dalam hati “kok, KMPnya pake K3 yak,?” andai Hand Phone Saya aktif, mungkin saja bisa langsung update status di FB kali, hee_
Beliau agak mengeluh dengan apa yang di rasakannya waktu itu “duh, kog badan Saya tambah kayak gini yah,? Masuk angin meski tadi mau berangkat sudah minum sprite, kuning telur & … (ada satu lagi yang Beliau sebut, tapi Saya lupa)”.
Saya sedikit cuek dengan apa yang Beliau rasakan. Dan gag lama kemudian KA 106 masuk juga di St. CN ( jalur 3). Ternyata lok C3 XX DIPO INDUK JNG mogok sehingga harus DT dengan lok C1 XX DIPO INDUK CN. Sejenak mengamati KA 106 melaju perlahan sampai akhirnya berhenti pada “batas akhir lokomotif berhenti”. Beliau bangun dari duduknya mengajak Saya ke Gerbong 1 (gerbong urutan ke 2 dari lokomotif & gerbong aling2). Tanpa rasa curiga sama sekali, Saya mengikuti langkah Beliau menuju gerbong tersebut. Setelah naik, ternyata pas di dekat bordes ada TD kosong & Sayapun di suruh duduk disitu “lagi-lagi tanpa rasa curiga” Beliau meminta tas Saya untuk menaruhnya di loker miliknya. Sayapun sudah tak banyak berkata waktu itu, setelah duduk kemudian Saya berikan tas Saya tersebut kepada Beliau & Beliaupun berpamitan untuk menaruh ke lokernya terlebih dahulu.
Sempat memang Saya perhatikan Beliau berjalan hingga akhirnya masuk ke gerbong 3 & hilang tertutup pedagang asongan yang malam itu dengan bebasnya masuk ke dalam rangkaian KA 106. Dalam hati Saya cuman pasrah maring Gusti karena memang Saya sudah teramat kantuk “Yaa Allah, jika itu masih rejeki Saya & kawan Saya, maka pertemukanlah kembali di PWT. Tapi jika memang sudah bukan lagi milik Saya, Saya sudah pasrah akan apa yang kan terjadi nanti”.
KA 106 tak lama kemudian berangkat meninggalkan CN, tanpa basa-basi lagi Saya langsung memejamkan mata kembali terlelap dengan pulasnya. Herannya, meski fisik tertidur pulas, tapi pikiran serasa di lintasan. Sepanjang CN hingga PPK, KA 106 terlalu sering berhenti untuk mengalah kepada kereta yang hendak menuju JAK. Barulah melintas PPK, KA 106 mulai stabil & menarik taspat seperlunya, karena memang track mulai menanjak.
Terlelap pulas & untungnya lagi tidak ada pemeriksaan tiket sepanjang CN-PWT (meskipun ada, Saya cuma tinggal bilang saja dibawa Pak Surya “dalam hati”). Akhirnya melintaslah KA 106 di St. KRR, dengan harap2 cemas sambil berkali-kali menoleh ke arah belakang berharap Beliau mengantar tas yang tadi Beliau bawa yang memang itu adalah milik Saya. Berapa kali Saya coba menoleh ke belakang, sosok yang dinanti tak kunjung terlihat. Sesaat tak lama kemudian, sudah tampak cahaya penerangan DIPO LOK PWT, menandakan KA 106 sudah memasuki area PWT. Saya langsung coba bergegas ke gerbong belakang mencari sosok Beliau yang mungkin masih terlelap atau memang saya adalah korban penipuan.
Sesampainya di tempat crew yang bertugas, tak ada sama sekali sosok yang Saya cari. KA 106 sudah berhenti di jalur 3 St. PWT. Saya mencoba turun dari kereta mencoba memandang sekitar stasiun yang masih sepi berharap ada lambaian tangan yang mungkin saja itu adalah Bpk. Surya. Tapi apa yang di dapat, semua usaha sia-sia. Saya mencoba bertanya kepada PKD yang malam itu berada di area stasiun “maaf Pak, apa ada KP bernama Bpk. Surya,?” Dia Cuma menjawab “ohh KP, coba tanya saja kesitu [sambil menunjuk ruang PPKA St. PWT]” Saya bergegas ke ruang PPKA. “permisi Pak, apa ada malam ini KP yang bernama Bpk Surya berdinas di KA 106,?” yah, namanya juga pnp yang mungkin aggapan Dia hanya anak kecil bertanya “tuh KPnya tuh baru naik, Tanya ajah sono,?” ~jawabnya dengan ketus~
Berbisik dalam hati “bukan Dia orang yang Saya cari”, jadwal normal pemberhentian KA 106 di PWT Cuma 3 menit, akhirnya waktu itu habis sudah. Mungkin Saya baru sadar kalo Saya adalah korban penipuan, tapi entah gimana yang Saya heran malah Saya seolah-olah gag merasa kehilangan, dengan sedikit santai Saya naik kembali ke KA 106, PPKA memberi sinyal aman, s40 & s41 telah di berikan. Saya mencoba bertanya kembali ke otc yang ada gag jauh dari gerbong crew yang malam itu sedang bertugas “maaf mas, ada gag KP atau Kepala Polsuska yang malam ini bertugas dari CN ke SLO,?” Diapun kaget sejenak sambil menjawab “wah mas, Saya kurang tahu soal itu, coba tanyakan saja ke polisinya di depan”
Otc itu mengantar Saya ke petugas yang sedang dinas malam itu, memang Dia itu adalah seorang polisi lengkap dengan senjata di tangannya. Sekedar tanya jawab saja waktu itu :
Polisi : Ono opo to mas,? “dengan logat Jawanya yang khas”
Saya : ngene loh Pak ……. “menceritakan apa yang baru saja terjadi”
Polisi : ohh, neg Senja Utama Solo ndak pake Polsuska mas. Langsung kepolisian buat pihak keamanannya. Berati Anda korban penipuan tadi.
Saya : “hanya mengiyakan” ohh, ya Saya kira Bpk Surya tadi memang benar ada di kereta ini.
Polisi : lah sekarang Sampean pegang tiket ndak,?
Saya : nah itu, tujuan Saya tadi Cuma sampe PWT. Saya kira Bpk Surya memang bertugas di kereta ini makanya Saya di ajak naik dari CN tanpa megang tiket.
Polisi : wahh, sampean bakal kena denda nanti dari petugas kereta.
Saya : terserahlah Pak, namanya juga lagi keapesan, entah bingung mo kemana setelah ini "meneruskan pertanyaan" lah iki kereta berhenti lagi di mana Pak,?"
Polisi : langsung jogja mas
Saya : berbisik dalam hati "modar aQ neg katut tekan YK"
Tiba2 saja KA 106 berhenti, ternyata di tahan di sinyal masuk St. KYA, tampak dari arah BD lah yang di dahulukan mungkin KA 174 (Kutojaya Selatan). Langsung saja Saya bilang ke polisi & otc yang masih ada di situ “Pak, aQ tag turun kene ae timbang katut teko YK,!!”, Polisi itupun menjawab “wani koe,? Yoo ati2 ae”. Karena di depan ada jembatan kecil yang hanya muat untuk lewat badan kereta akhirnya Saya tunggu sejenak KA 106 berjalan. Saya mencoba menghidupkan Hand Phone yang memang sejak dari JNG masih di non aktifkan. Ternyata pkl 04.45 (telat 1 jam KA 106 masuk KYA). Tak berapa lama KA 106 di beri sinyal aman, sambil berjalan perlahan meninggalkan perkampungan yang masih sunyi saat-saat seperti itu.
Adzan shubuh berkumandang di area St. KYA, Hand Phone Saya coba non aktifkan sejenak sambil melaksanakan Ibadah Sholat Shubuh. Selesai sholat, kembali layaknya orang yang belum pernah merasakan musibah, duduk di pelataran area KYA dengan santai & coba browsing I-net dari Hand Phone, benar ternyata. Ada rekan yang meng-update status jam 12 malam KA Progo & KA Tawang Jaya masih tertahan di BKS karena di KRW ada pihak yang memang sengaja mempersiapkan diri melempari KA-KA yang melintas. Mungkin karena itulah kenapa semalam KA 154 tidak di berhentikan di KRW. Melainkan LS ke CKP.
Kepalang tanggung, mau tidak mau Saya harus mencari uang pinjaman untuk tambahan mencoba membeli baru Cam miliknya yang hilang. Apesss hari itu, di mana itu hari pertama Saya naik kereta sejak tgl 2 januari tahun ini, harus langsung kehilangan barang yang jika di nominalkan mungkin sekitar 2,8 juta. (End)".









RF bambangwitjak, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Nov 2010.
Reply
Iya betul. Ngobrolin K3 menarik juga lhoo.. Saya udah pernah nyobain kereta Bengawan ini sekali, waktu mau ke Solo. Sebenarnya suasananya sama sih dengan K3 jarak jauh lainnya. Tapi yang bedain klo naik kereta ini gak panas, bahkan adem aja. Soalnya biasanya saya naik K3 lewat jalur utara yang dekat pantai, so rasanya hot.

Enak naik Bengawan ini, pemandangannya bagus apalagi klo udah pagi, lihat gunung, sawah, kota Jogja, indahnya.....OK
Jayalah Kereta Apiku
Reply
Hari ini KA 153 SENJA (UTAMA) Bengawan ditarik lok hidung miring. Ada yang mau nyegat? Ane cuma liat sepintas di Bis pas lewat PJL Jebres. Sad
Cobalah Cari tahu sendiri dulu baru bertanya bila benar - Benar Bingung dan tidak ada penjelasan, jangan maunya disuapin terus. Gak ada Nubie atau Master, semua sama, sama - sama belajar. Eh iya lupa...
Reply
(17-03-2011, 03:14 PM)bambangwitjak Wrote: Friends,

Dikutip dari milis tetangga dengan editing seperlunya, share pengalaman naek KA Bengawan

tks



"Teman2..ini ada pengalaman dari seorang kawan.. Semoga menjadi pelajaran buat kita.. Dan saya heran sama perlakuan yg tidak 'adil' terhadap KA kelas ekonomi..
[spoiler]
Singkat cerita sabtu (12/03), sepulang kerja pkl 18.00. Saya putuskan hari itu untuk mengantar barang titipan teman yang tinggal di PWT. Lepas maghrib Saya langsung berangkat menuju JNG dengan menggunakan angkutan umum. Setibanya di JNG. Saya liat antrian di depan loket yang sudah mengular dari ujung timur ke ujung barat dengan berbaris dua banjar. Sempat nanya ke salah satu calon pnp yang mengantri “kok, loket di tutup,?”, di jawab olehnya “untuk KA Bengawan sudah melebihi batas angkut, akan di buka lagi untuk KA Progo nanti setelah KA Bengawan sudah lewat”. Hampir saja Saya putus asa disitu, jika sampai ikut KA Progo, bisa saja Saya kesiangan sampai di PWT, karena memang siangnya harus sudah kembali ke JAK menggunakan Bus dengan perjalanan siang dari PWT, berharap ada waktu istirahat untuk kerja keesokan harinya.
Jongkok sejenak di pelataran stasiun, mendengar PPKA menyebut “akan masuk jalur 1 KA Senja Utama Yogya ….” Kemudian Saya coba buka urutan GAPEKA yang sempat Saya save sebagian di Hand Phone, ternyata setelah KA 110 (Senja Utama Yogya) akan masuk KA 154 (Senja Bengawan). Pikiran Saya mulai bingung waktu itu, tak berapa lama ada beberapa pemuda yang berniat masuk JNG dengan memutar melalui PJL di timur stasiun. Antara iya & tidak, karena untuk mengejar waktu juga mempertaruhkan nama besar “Komunitas RF & ES” [untungnya waktu itu tidak ada atribut yang Saya kenakan yang berhubungan dengan komunitas] akhirnya Saya ikuti mereka dari belakang.
Akhirnya, masuklah Saya di area JNG sebelah utara, duduk sejenak sembari melihat KA 110 take off dari JNG. Gag berapa lama akhirnya KA 154 masuk di JNG, dengan santai & perasaan yang begitu berkecamuk dalam pikiran, Saya berjalan menuju peron 1, dalam hati berkata “Pasrah sudah kalo memang sampai di tarik lebih dari harga karcis yang berlaku oleh petugas di atas kereta”.
KA 154 berhenti di jalur 1, Sayapun ikut antrian untuk masuk ke dalam kereta. Masuklah Saya di gerbong 1 setelah gerbong aling2 (yang mana itu adalah urutan gerbong ke 2 dari lokomotif). Terus masuk ke tengah berharap ada ruang kosong untuk menaruh tas pada tempatnya (rak di atas TD pnp) “Kalo yang ini memang kebiasaan Saya, menaruh barang di mana & Saya sendiri di mana bahkan kadang terpisah jauh barang itu dengan Saya”. Selesai meletakkan tas di rak atas TD pnp, Saya meneruskan berjalan menuju bordes antara gerbong 2 & 3. Suasana sudah penuh sesak oleh pnp karena mungkin memang week end hari itu.
Di sinilah cerita berawal, dengan fisik yang sudah tidak fit lagi karena sepulang bekerja belum lagi harus berdesak-desakkan dengan pnp lain. Saya berdiri di bordespun dengan mata yang hampir terpejam. KA 154 masuk BKS, ternyata ada orang yang sedari tadi memang sudah berdiri tidak jauh dari hadapan Saya yang berteriak dengan lantang ke pnp lain yang berdiri di pintu gerbong agar memberi jalan kepada pnp yang akan naik ataupun turun. Mata Saya yang tertunduk ke bawah sempat terbuka, mengamati sejenak dari sepatu & celana, mungkin saja itu orang dinas “pikir Saya dalam hati”. Saya coba membuka mata & memperhatikan secara seksama pakaian demi pakaian yang Dia kenakan. Tampaklah seragam R6 khas dengan lambang PT. KAI yang Dia kenakan di balik jaket warna abu-abu tua dengan aksen garis lurus di setiap bagian jahitan baik lengan, bahu & ketiak ke bawah. Tampak pula sebagian namanya yang terpasang pada ID card tsb berakhiran “YATIN”, karena memang sebagian lainnya tertutup oleh jaket yang Dia kenakan.
KA 154 berangkat dari BKS, karena memang posisi kami berhadapan tepat di sambungan bordes antara gerbong 2 & 3. Dia mengawali pembicaraan, berikut kutipannya ;
Petugas : maaf mas, turun dimana,?
Saya : di Purwokerto Pak.
Petugas : oo, mungkin nanti sampai di Purwokerto pkl 03.00. Lah kok mas’y di sini,? Memang di tiket gerbong berapa & no TD’y berapa,?
Saya : “sedikit berkeringat dingin karena memang Saya berada di posisi bersalah dengan tidak memegang tiket” kemudian Saya ceritakan seperti di atas apa yang terjadi sebelumnya.
Petugas : ohh gitu “tidak di sambung lagi kalimatnya”
Saya : Langsung Saya tanya lagi, “Bapak yang sedang dinas atau hanya akan pulang dinas,?”
Petugas : Iya, Saya yang dinas sekarang sebagai ‘Kepala Pengawas Keamanan’ ~akunya~.
Saya : ohh gitu.
Petugas : Ya sudah, mas’y di sini saja bareng Saya. Nanti kalo ada kondektur memeriksa tiket gag usah khawatir.
Saya : hanya mengangguk kemudian bertanya kembali “berarti status Bapak ada di atas Polsuska,?” ~Tanya Saya~
Petugas : Iya betul begitu, jadi Saya hanya bertugas mengontrol keamanan pnp & tingkatan’y ada di atas Polsuska.
KA 154 masuk CKP, rombongan pedagang langsung turun dengan tergesa-gesa seolah-olah memaksa untuk lewat. Setelah itu, barulah petugas tsb mengingatkan “tolong coba periksa kantong celana Anda, apa ada yang merasa kehilangan,? Selagi kereta masih berhenti”. Benar saja, antara bordes 2 & 3 ada 5 orang yang merasa kehilangan dompet di bagian saku belakang. Petugas tsb meminta salah satu pnp untuk mencoba melongok rombongan pedagang yang baru saja turun. Hasilnya, sudah tidak ada siapa2 selain pnp KA 154 itu sendiri yang sengaja turun untuk mencari udara segar.
KA 154 meninggalkan CKP, tak berapa lama ada KP yang memulai tugasnya memeriksa tiket pnp dari gerbong terdepan. Petugas itu mengingatkan kembali pada Saya “itu depan ada pemeriksaan tiket, udah kamu tenang saja, ada Saya disini”. Tak berapa lama sampailah Polsuska di bordes tempat Saya berdiri. Karena memang sebelumnya Saya sudah tahu siapa sebenarnya petugas yang sedari tadi bersama dengan Saya. Sedikit percaya dari situ, yang namanya bawahan paling tidak hormat dengan atasan, ya mungkin sama2 sedang dinas, Polsuska tersebut hanya menyapa Dia dengan panggilan “Pak” di ikuti anggukan kepala, Dia pun membalasnya dengan anggukan kepala.
KP lewat, Saya hanya menunjuk ke arah Beliau. KP pun menyapa & berlalu dari hadapan kami. Setelah itu perbincangan di mulai kembali, berikut kutipannya :
Petugas : ke PWT memang mo ngapain,?
Saya : “masih dengan keringat dingin, seolah2 sedang di interogasi” sekedar main Pak ke rumah teman.
Petugas : memang tidak bawa apa2,?
Saya : “dengan sedikit berbohong” tidak Pak, Saya Cuma niat sebentar di PWT, siangnya mungkin bakal balik lagi ke JAK menggunakan Bus (toh memang waktu itu Saya tidak bawa uang lebih, mungkin hanya cukup untuk membeli tiket KA Bengawan & tiket Bus untuk kembali ke JAK).
Petugas : enak amat yahh, santai tanpa bawaan.!!
Saya : “sambil tersenyum” iya Pak.
KA 154 menjelang masuk St. Jatibarang, hujan deras mengguyur perjalanan malam itu. Mata kembali terpejam sesaat. KA 154 masuk St. jatibarang, masih ada lagi penambahan pnp malam itu, akhirnya KA 154 penuh sesak oleh pnp malam itu. Karena posisi hujan deras & memang Saya juga petugas tsb berada di bordes, mau tidak mau akhirnya basah kuyup oleh tetesan air hujan. Tapi itu tidak Dia hiraukan, sembari mengatur pnp yang berjubal di area bordes untuk lebih masuk ke tengah gerbong agar tidak terlalu basah apabila hujan bertambah lebat malam itu.
Sesaat setelah itu, Diapun sempat bertemu dengan rekan sesama PT. KAI, menurut Saya sih sekedar hafal saja kali yahh, soalnya orang PT. KAI yang baru saja naik di St. Jatibarang itu menurut Saya barulah lulus pendidikan, dari tampang masih tampak muda, tujuan Dia hendak ke CN.
Mulai dari sini Saya sedikit tenang, syukurlah kalo memang Beliau itu di samping menjalankan tugas tapi juga mau mencoba membantu Saya dalam kekhawatiran perjalanan malam itu karena memang Saya tahu tentang peraturan yang acap kali terpasang di area stasiun bila pnp tidak memiliki tiket.
KA 154 melintas langsung di Arjawinangun. Petugas itu kembali membangunkan Saya & mulai mengajak berbincang :
Petugas : mas, nanti di CN ikut Saya yah pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “sesaat tersentak kaget & keringat dingin mulai mengalir sedikit demi sedikit terbayang sejenak layaknya seorang polisi memberikan tilang di tengah jalan” waduh Pak, kok pindah ke Senja Utama Solo,?
Petugas : Iya, kamu turun di PWT kan,? Saya pas pindah tugas di CN menerusakan perjalanan di Senja Utama Solo
Saya : “masih berpikir” Gimana yah Pak, Saya juga bingung,!!
Petugas : udah Kamu tenang saja, bareng Saya kok.
Saya : “mau tidak mau kebohongan Saya terbongkar” Saya bawa barang Pak, tapi Saya tinggal di situ (sambil menunjuk ke tengah gerbong 1 di atas TD pnp).
Petugas : lho katanya ndak bawa barang,?
Saya : habis kalo Saya bawa kemari terlalu merepotkan keadaan sih Pak, toh itu juga barang titipan yang hendak Saya antar ke PWT.
Petugas : ya udah coba Kamu ambil, nanti di CN kita pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “dengan berhati2 karena memang jarak yang begitu jauh & pnp yang sudah penuh di dalam rangkaian, mau tidak mau harus melompatinya satu persatu & saat kembali, kepala saya sempat terkilir akibat beratnya beban di tas & susahnya jalan di antara para pnp di dalam gerbong”
Petugas : “sambil mencoba membantu” sini tasnya Saya pegang, kamu lompatin dulu tuh orang.
Saya : “sudah sampai di bordes kembali” makasih Pak,!!
Petugas : iya sama2.
KA 154 masuk CN, entah jam berapa waktu itu. Karena memang Hand Phone Saya sengaja di non aktifkan semenjak berangkat dari JNG, untuk menghemat daya batrai yang mana memang batrai Hand Phone Saya sudah uzur di khawatirkan saat sampai di PWT terjadi miss communication.
KA 154 masuk jalur 3, di jalur 2 ternyata masih ada KA 110 (Senja Utama Yogya). Sembari menanti KA 110 berangkat, di peron Dia sempat mengajak Saya untuk kembali berbincang. Disini nadanya serasa menginterogasi Saya waktu itu :
Petugas : pasti kamu kira akan Saya bawa ke kantor yah,? “sembari tersenyum”
Saya : “agak canggung menjawabnya” Yaa begitulah Pak.
Petugas : yaa sudah, gag usah terlalu di pikirkan lagi hal itu, toh dari awal Saya sudah tahu keadaan Kamu.
Akhirnya KA 110 berangkat, sembari menanti berlalu dari jalur 2. Kami sama2 terdiam sejenak. Gerbong aling2 paling belakang KA 110 sudah berlalu, Beliau dengan santai mengajak Saya ke sebuah warung di area peron 1 St. CN “yuk, ke warung dulu sambil ngopi sembari menunggu Senja Utama Solo masuk, badan Saya lagi gag enakan nih, mungkin masuk angin tadi pas kena air hujan di sambungan”. Tanpa ada rasa was2 lagi akan di bawa ke kantor, akhirnya Saya mengikuti langkah Beliau dari belakang.
Warung yang di tuju waktu itu adalah warung makan yang terletak di paling ujung selatan St. CN. Entah memang Beliau mengakrabkan diri atau memang sudah hafal dengan sang pemilik warung tsb, sesaat bercanda di depan warung sebelum akhirnya masuk kedalam & memesan 2 cangkir kopi susu. Sesaat setelah Beliau duduk, Saya mendahulukan untuk mengajak perkenalan yang mana memang sedari tadi Kami belum sempat berkenalan :
Mendengar ucapan itu, RF mana yang gag bahagia. Udah bisa kenal dengan orang penting meskipun masih sekelas di lapangan. Apalagi Beliau sudah punya pengalaman bertahun-tahun di kereta itu sendiri, disini sama sekali tidak ada rasa curiga Saya terhadap Beliau yang memang punya perawakan tinggi kira2 165-170cm, agak kurus, kulit sawo matang, potongan rambut rapih seukuran 3cm, tampang yang terbilang awet muda (masih tergambar jelas dalam ingatan Saya)”
Duduk sejenak di area peron 1, masuk KA 115 (Senja Utama Semarang). Saya sejenak memperhatikan sambil berkata dalam hati “kok, KMPnya pake K3 yak,?” andai Hand Phone Saya aktif, mungkin saja bisa langsung update status di FB kali, hee_
Beliau agak mengeluh dengan apa yang di rasakannya waktu itu “duh, kog badan Saya tambah kayak gini yah,? Masuk angin meski tadi mau berangkat sudah minum sprite, kuning telur & … (ada satu lagi yang Beliau sebut, tapi Saya lupa)”.
Saya sedikit cuek dengan apa yang Beliau rasakan. Dan gag lama kemudian KA 106 masuk juga di St. CN ( jalur 3). Ternyata lok C3 XX DIPO INDUK JNG mogok sehingga harus DT dengan lok C1 XX DIPO INDUK CN. Sejenak mengamati KA 106 melaju perlahan sampai akhirnya berhenti pada “batas akhir lokomotif berhenti”. Beliau bangun dari duduknya mengajak Saya ke Gerbong 1 (gerbong urutan ke 2 dari lokomotif & gerbong aling2). Tanpa rasa curiga sama sekali, Saya mengikuti langkah Beliau menuju gerbong tersebut. Setelah naik, ternyata pas di dekat bordes ada TD kosong & Sayapun di suruh duduk disitu “lagi-lagi tanpa rasa curiga” Beliau meminta tas Saya untuk menaruhnya di loker miliknya. Sayapun sudah tak banyak berkata waktu itu, setelah duduk kemudian Saya berikan tas Saya tersebut kepada Beliau & Beliaupun berpamitan untuk menaruh ke lokernya terlebih dahulu.
Sempat memang Saya perhatikan Beliau berjalan hingga akhirnya masuk ke gerbong 3 & hilang tertutup pedagang asongan yang malam itu dengan bebasnya masuk ke dalam rangkaian KA 106. Dalam hati Saya cuman pasrah maring Gusti karena memang Saya sudah teramat kantuk “Yaa Allah, jika itu masih rejeki Saya & kawan Saya, maka pertemukanlah kembali di PWT. Tapi jika memang sudah bukan lagi milik Saya, Saya sudah pasrah akan apa yang kan terjadi nanti”.
KA 106 tak lama kemudian berangkat meninggalkan CN, tanpa basa-basi lagi Saya langsung memejamkan mata kembali terlelap dengan pulasnya. Herannya, meski fisik tertidur pulas, tapi pikiran serasa di lintasan. Sepanjang CN hingga PPK, KA 106 terlalu sering berhenti untuk mengalah kepada kereta yang hendak menuju JAK. Barulah melintas PPK, KA 106 mulai stabil & menarik taspat seperlunya, karena memang track mulai menanjak.
Terlelap pulas & untungnya lagi tidak ada pemeriksaan tiket sepanjang CN-PWT (meskipun ada, Saya cuma tinggal bilang saja dibawa Pak Surya “dalam hati”). Akhirnya melintaslah KA 106 di St. KRR, dengan harap2 cemas sambil berkali-kali menoleh ke arah belakang berharap Beliau mengantar tas yang tadi Beliau bawa yang memang itu adalah milik Saya. Berapa kali Saya coba menoleh ke belakang, sosok yang dinanti tak kunjung terlihat. Sesaat tak lama kemudian, sudah tampak cahaya penerangan DIPO LOK PWT, menandakan KA 106 sudah memasuki area PWT. Saya langsung coba bergegas ke gerbong belakang mencari sosok Beliau yang mungkin masih terlelap atau memang saya adalah korban penipuan.
Sesampainya di tempat crew yang bertugas, tak ada sama sekali sosok yang Saya cari. KA 106 sudah berhenti di jalur 3 St. PWT. Saya mencoba turun dari kereta mencoba memandang sekitar stasiun yang masih sepi berharap ada lambaian tangan yang mungkin saja itu adalah Bpk. Surya. Tapi apa yang di dapat, semua usaha sia-sia. Saya mencoba bertanya kepada PKD yang malam itu berada di area stasiun “maaf Pak, apa ada KP bernama Bpk. Surya,?” Dia Cuma menjawab “ohh KP, coba tanya saja kesitu [sambil menunjuk ruang PPKA St. PWT]” Saya bergegas ke ruang PPKA. “permisi Pak, apa ada malam ini KP yang bernama Bpk Surya berdinas di KA 106,?” yah, namanya juga pnp yang mungkin aggapan Dia hanya anak kecil bertanya “tuh KPnya tuh baru naik, Tanya ajah sono,?” ~jawabnya dengan ketus~
Berbisik dalam hati “bukan Dia orang yang Saya cari”, jadwal normal pemberhentian KA 106 di PWT Cuma 3 menit, akhirnya waktu itu habis sudah. Mungkin Saya baru sadar kalo Saya adalah korban penipuan, tapi entah gimana yang Saya heran malah Saya seolah-olah gag merasa kehilangan, dengan sedikit santai Saya naik kembali ke KA 106, PPKA memberi sinyal aman, s40 & s41 telah di berikan. Saya mencoba bertanya kembali ke otc yang ada gag jauh dari gerbong crew yang malam itu sedang bertugas “maaf mas, ada gag KP atau Kepala Polsuska yang malam ini bertugas dari CN ke SLO,?” Diapun kaget sejenak sambil menjawab “wah mas, Saya kurang tahu soal itu, coba tanyakan saja ke polisinya di depan”
Otc itu mengantar Saya ke petugas yang sedang dinas malam itu, memang Dia itu adalah seorang polisi lengkap dengan senjata di tangannya. Sekedar tanya jawab saja waktu itu :
Polisi : Ono opo to mas,? “dengan logat Jawanya yang khas”
Saya : ngene loh Pak ……. “menceritakan apa yang baru saja terjadi”
Polisi : ohh, neg Senja Utama Solo ndak pake Polsuska mas. Langsung kepolisian buat pihak keamanannya. Berati Anda korban penipuan tadi.
Saya : “hanya mengiyakan” ohh, ya Saya kira Bpk Surya tadi memang benar ada di kereta ini.
Polisi : lah sekarang Sampean pegang tiket ndak,?
Saya : nah itu, tujuan Saya tadi Cuma sampe PWT. Saya kira Bpk Surya memang bertugas di kereta ini makanya Saya di ajak naik dari CN tanpa megang tiket.
Polisi : wahh, sampean bakal kena denda nanti dari petugas kereta.
Saya : terserahlah Pak, namanya juga lagi keapesan, entah bingung mo kemana setelah ini "meneruskan pertanyaan" lah iki kereta berhenti lagi di mana Pak,?"
Polisi : langsung jogja mas
Saya : berbisik dalam hati "modar aQ neg katut tekan YK"
Tiba2 saja KA 106 berhenti, ternyata di tahan di sinyal masuk St. KYA, tampak dari arah BD lah yang di dahulukan mungkin KA 174 (Kutojaya Selatan). Langsung saja Saya bilang ke polisi & otc yang masih ada di situ “Pak, aQ tag turun kene ae timbang katut teko YK,!!”, Polisi itupun menjawab “wani koe,? Yoo ati2 ae”. Karena di depan ada jembatan kecil yang hanya muat untuk lewat badan kereta akhirnya Saya tunggu sejenak KA 106 berjalan. Saya mencoba menghidupkan Hand Phone yang memang sejak dari JNG masih di non aktifkan. Ternyata pkl 04.45 (telat 1 jam KA 106 masuk KYA). Tak berapa lama KA 106 di beri sinyal aman, sambil berjalan perlahan meninggalkan perkampungan yang masih sunyi saat-saat seperti itu.
Adzan shubuh berkumandang di area St. KYA, Hand Phone Saya coba non aktifkan sejenak sambil melaksanakan Ibadah Sholat Shubuh. Selesai sholat, kembali layaknya orang yang belum pernah merasakan musibah, duduk di pelataran area KYA dengan santai & coba browsing I-net dari Hand Phone, benar ternyata. Ada rekan yang meng-update status jam 12 malam KA Progo & KA Tawang Jaya masih tertahan di BKS karena di KRW ada pihak yang memang sengaja mempersiapkan diri melempari KA-KA yang melintas. Mungkin karena itulah kenapa semalam KA 154 tidak di berhentikan di KRW. Melainkan LS ke CKP.
Kepalang tanggung, mau tidak mau Saya harus mencari uang pinjaman untuk tambahan mencoba membeli baru Cam miliknya yang hilang. Apesss hari itu, di mana itu hari pertama Saya naik kereta sejak tgl 2 januari tahun ini, harus langsung kehilangan barang yang jika di nominalkan mungkin sekitar 2,8 juta. (End)".

[/spoiler]

Sebuah cerita pengalaman yang luar biasa ... Sedih
ane ikut prihatin ... Sedih
Reply
(17-03-2011, 03:14 PM)bambangwitjak Wrote: Friends,

Dikutip dari milis tetangga dengan editing seperlunya, share pengalaman naek KA Bengawan

tks



"Teman2..ini ada pengalaman dari seorang kawan.. Semoga menjadi pelajaran buat kita.. Dan saya heran sama perlakuan yg tidak 'adil' terhadap KA kelas ekonomi..

Singkat cerita sabtu (12/03), sepulang kerja pkl 18.00. Saya putuskan hari itu untuk mengantar barang titipan teman yang tinggal di PWT. Lepas maghrib Saya langsung berangkat menuju JNG dengan menggunakan angkutan umum. Setibanya di JNG. Saya liat antrian di depan loket yang sudah mengular dari ujung timur ke ujung barat dengan berbaris dua banjar. Sempat nanya ke salah satu calon pnp yang mengantri “kok, loket di tutup,?”, di jawab olehnya “untuk KA Bengawan sudah melebihi batas angkut, akan di buka lagi untuk KA Progo nanti setelah KA Bengawan sudah lewat”. Hampir saja Saya putus asa disitu, jika sampai ikut KA Progo, bisa saja Saya kesiangan sampai di PWT, karena memang siangnya harus sudah kembali ke JAK menggunakan Bus dengan perjalanan siang dari PWT, berharap ada waktu istirahat untuk kerja keesokan harinya.
Jongkok sejenak di pelataran stasiun, mendengar PPKA menyebut “akan masuk jalur 1 KA Senja Utama Yogya ….” Kemudian Saya coba buka urutan GAPEKA yang sempat Saya save sebagian di Hand Phone, ternyata setelah KA 110 (Senja Utama Yogya) akan masuk KA 154 (Senja Bengawan). Pikiran Saya mulai bingung waktu itu, tak berapa lama ada beberapa pemuda yang berniat masuk JNG dengan memutar melalui PJL di timur stasiun. Antara iya & tidak, karena untuk mengejar waktu juga mempertaruhkan nama besar “Komunitas RF & ES” [untungnya waktu itu tidak ada atribut yang Saya kenakan yang berhubungan dengan komunitas] akhirnya Saya ikuti mereka dari belakang.
Akhirnya, masuklah Saya di area JNG sebelah utara, duduk sejenak sembari melihat KA 110 take off dari JNG. Gag berapa lama akhirnya KA 154 masuk di JNG, dengan santai & perasaan yang begitu berkecamuk dalam pikiran, Saya berjalan menuju peron 1, dalam hati berkata “Pasrah sudah kalo memang sampai di tarik lebih dari harga karcis yang berlaku oleh petugas di atas kereta”.
KA 154 berhenti di jalur 1, Sayapun ikut antrian untuk masuk ke dalam kereta. Masuklah Saya di gerbong 1 setelah gerbong aling2 (yang mana itu adalah urutan gerbong ke 2 dari lokomotif). Terus masuk ke tengah berharap ada ruang kosong untuk menaruh tas pada tempatnya (rak di atas TD pnp) “Kalo yang ini memang kebiasaan Saya, menaruh barang di mana & Saya sendiri di mana bahkan kadang terpisah jauh barang itu dengan Saya”. Selesai meletakkan tas di rak atas TD pnp, Saya meneruskan berjalan menuju bordes antara gerbong 2 & 3. Suasana sudah penuh sesak oleh pnp karena mungkin memang week end hari itu.
Di sinilah cerita berawal, dengan fisik yang sudah tidak fit lagi karena sepulang bekerja belum lagi harus berdesak-desakkan dengan pnp lain. Saya berdiri di bordespun dengan mata yang hampir terpejam. KA 154 masuk BKS, ternyata ada orang yang sedari tadi memang sudah berdiri tidak jauh dari hadapan Saya yang berteriak dengan lantang ke pnp lain yang berdiri di pintu gerbong agar memberi jalan kepada pnp yang akan naik ataupun turun. Mata Saya yang tertunduk ke bawah sempat terbuka, mengamati sejenak dari sepatu & celana, mungkin saja itu orang dinas “pikir Saya dalam hati”. Saya coba membuka mata & memperhatikan secara seksama pakaian demi pakaian yang Dia kenakan. Tampaklah seragam R6 khas dengan lambang PT. KAI yang Dia kenakan di balik jaket warna abu-abu tua dengan aksen garis lurus di setiap bagian jahitan baik lengan, bahu & ketiak ke bawah. Tampak pula sebagian namanya yang terpasang pada ID card tsb berakhiran “YATIN”, karena memang sebagian lainnya tertutup oleh jaket yang Dia kenakan.
KA 154 berangkat dari BKS, karena memang posisi kami berhadapan tepat di sambungan bordes antara gerbong 2 & 3. Dia mengawali pembicaraan, berikut kutipannya ;
Petugas : maaf mas, turun dimana,?
Saya : di Purwokerto Pak.
Petugas : oo, mungkin nanti sampai di Purwokerto pkl 03.00. Lah kok mas’y di sini,? Memang di tiket gerbong berapa & no TD’y berapa,?
Saya : “sedikit berkeringat dingin karena memang Saya berada di posisi bersalah dengan tidak memegang tiket” kemudian Saya ceritakan seperti di atas apa yang terjadi sebelumnya.
Petugas : ohh gitu “tidak di sambung lagi kalimatnya”
Saya : Langsung Saya tanya lagi, “Bapak yang sedang dinas atau hanya akan pulang dinas,?”
Petugas : Iya, Saya yang dinas sekarang sebagai ‘Kepala Pengawas Keamanan’ ~akunya~.
Saya : ohh gitu.
Petugas : Ya sudah, mas’y di sini saja bareng Saya. Nanti kalo ada kondektur memeriksa tiket gag usah khawatir.
Saya : hanya mengangguk kemudian bertanya kembali “berarti status Bapak ada di atas Polsuska,?” ~Tanya Saya~
Petugas : Iya betul begitu, jadi Saya hanya bertugas mengontrol keamanan pnp & tingkatan’y ada di atas Polsuska.
KA 154 masuk CKP, rombongan pedagang langsung turun dengan tergesa-gesa seolah-olah memaksa untuk lewat. Setelah itu, barulah petugas tsb mengingatkan “tolong coba periksa kantong celana Anda, apa ada yang merasa kehilangan,? Selagi kereta masih berhenti”. Benar saja, antara bordes 2 & 3 ada 5 orang yang merasa kehilangan dompet di bagian saku belakang. Petugas tsb meminta salah satu pnp untuk mencoba melongok rombongan pedagang yang baru saja turun. Hasilnya, sudah tidak ada siapa2 selain pnp KA 154 itu sendiri yang sengaja turun untuk mencari udara segar.
KA 154 meninggalkan CKP, tak berapa lama ada KP yang memulai tugasnya memeriksa tiket pnp dari gerbong terdepan. Petugas itu mengingatkan kembali pada Saya “itu depan ada pemeriksaan tiket, udah kamu tenang saja, ada Saya disini”. Tak berapa lama sampailah Polsuska di bordes tempat Saya berdiri. Karena memang sebelumnya Saya sudah tahu siapa sebenarnya petugas yang sedari tadi bersama dengan Saya. Sedikit percaya dari situ, yang namanya bawahan paling tidak hormat dengan atasan, ya mungkin sama2 sedang dinas, Polsuska tersebut hanya menyapa Dia dengan panggilan “Pak” di ikuti anggukan kepala, Dia pun membalasnya dengan anggukan kepala.
KP lewat, Saya hanya menunjuk ke arah Beliau. KP pun menyapa & berlalu dari hadapan kami. Setelah itu perbincangan di mulai kembali, berikut kutipannya :
Petugas : ke PWT memang mo ngapain,?
Saya : “masih dengan keringat dingin, seolah2 sedang di interogasi” sekedar main Pak ke rumah teman.
Petugas : memang tidak bawa apa2,?
Saya : “dengan sedikit berbohong” tidak Pak, Saya Cuma niat sebentar di PWT, siangnya mungkin bakal balik lagi ke JAK menggunakan Bus (toh memang waktu itu Saya tidak bawa uang lebih, mungkin hanya cukup untuk membeli tiket KA Bengawan & tiket Bus untuk kembali ke JAK).
Petugas : enak amat yahh, santai tanpa bawaan.!!
Saya : “sambil tersenyum” iya Pak.
KA 154 menjelang masuk St. Jatibarang, hujan deras mengguyur perjalanan malam itu. Mata kembali terpejam sesaat. KA 154 masuk St. jatibarang, masih ada lagi penambahan pnp malam itu, akhirnya KA 154 penuh sesak oleh pnp malam itu. Karena posisi hujan deras & memang Saya juga petugas tsb berada di bordes, mau tidak mau akhirnya basah kuyup oleh tetesan air hujan. Tapi itu tidak Dia hiraukan, sembari mengatur pnp yang berjubal di area bordes untuk lebih masuk ke tengah gerbong agar tidak terlalu basah apabila hujan bertambah lebat malam itu.
Sesaat setelah itu, Diapun sempat bertemu dengan rekan sesama PT. KAI, menurut Saya sih sekedar hafal saja kali yahh, soalnya orang PT. KAI yang baru saja naik di St. Jatibarang itu menurut Saya barulah lulus pendidikan, dari tampang masih tampak muda, tujuan Dia hendak ke CN.
Mulai dari sini Saya sedikit tenang, syukurlah kalo memang Beliau itu di samping menjalankan tugas tapi juga mau mencoba membantu Saya dalam kekhawatiran perjalanan malam itu karena memang Saya tahu tentang peraturan yang acap kali terpasang di area stasiun bila pnp tidak memiliki tiket.
KA 154 melintas langsung di Arjawinangun. Petugas itu kembali membangunkan Saya & mulai mengajak berbincang :
Petugas : mas, nanti di CN ikut Saya yah pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “sesaat tersentak kaget & keringat dingin mulai mengalir sedikit demi sedikit terbayang sejenak layaknya seorang polisi memberikan tilang di tengah jalan” waduh Pak, kok pindah ke Senja Utama Solo,?
Petugas : Iya, kamu turun di PWT kan,? Saya pas pindah tugas di CN menerusakan perjalanan di Senja Utama Solo
Saya : “masih berpikir” Gimana yah Pak, Saya juga bingung,!!
Petugas : udah Kamu tenang saja, bareng Saya kok.
Saya : “mau tidak mau kebohongan Saya terbongkar” Saya bawa barang Pak, tapi Saya tinggal di situ (sambil menunjuk ke tengah gerbong 1 di atas TD pnp).
Petugas : lho katanya ndak bawa barang,?
Saya : habis kalo Saya bawa kemari terlalu merepotkan keadaan sih Pak, toh itu juga barang titipan yang hendak Saya antar ke PWT.
Petugas : ya udah coba Kamu ambil, nanti di CN kita pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “dengan berhati2 karena memang jarak yang begitu jauh & pnp yang sudah penuh di dalam rangkaian, mau tidak mau harus melompatinya satu persatu & saat kembali, kepala saya sempat terkilir akibat beratnya beban di tas & susahnya jalan di antara para pnp di dalam gerbong”
Petugas : “sambil mencoba membantu” sini tasnya Saya pegang, kamu lompatin dulu tuh orang.
Saya : “sudah sampai di bordes kembali” makasih Pak,!!
Petugas : iya sama2.
KA 154 masuk CN, entah jam berapa waktu itu. Karena memang Hand Phone Saya sengaja di non aktifkan semenjak berangkat dari JNG, untuk menghemat daya batrai yang mana memang batrai Hand Phone Saya sudah uzur di khawatirkan saat sampai di PWT terjadi miss communication.
KA 154 masuk jalur 3, di jalur 2 ternyata masih ada KA 110 (Senja Utama Yogya). Sembari menanti KA 110 berangkat, di peron Dia sempat mengajak Saya untuk kembali berbincang. Disini nadanya serasa menginterogasi Saya waktu itu :
Petugas : pasti kamu kira akan Saya bawa ke kantor yah,? “sembari tersenyum”
Saya : “agak canggung menjawabnya” Yaa begitulah Pak.
Petugas : yaa sudah, gag usah terlalu di pikirkan lagi hal itu, toh dari awal Saya sudah tahu keadaan Kamu.
Akhirnya KA 110 berangkat, sembari menanti berlalu dari jalur 2. Kami sama2 terdiam sejenak. Gerbong aling2 paling belakang KA 110 sudah berlalu, Beliau dengan santai mengajak Saya ke sebuah warung di area peron 1 St. CN “yuk, ke warung dulu sambil ngopi sembari menunggu Senja Utama Solo masuk, badan Saya lagi gag enakan nih, mungkin masuk angin tadi pas kena air hujan di sambungan”. Tanpa ada rasa was2 lagi akan di bawa ke kantor, akhirnya Saya mengikuti langkah Beliau dari belakang.
Warung yang di tuju waktu itu adalah warung makan yang terletak di paling ujung selatan St. CN. Entah memang Beliau mengakrabkan diri atau memang sudah hafal dengan sang pemilik warung tsb, sesaat bercanda di depan warung sebelum akhirnya masuk kedalam & memesan 2 cangkir kopi susu. Sesaat setelah Beliau duduk, Saya mendahulukan untuk mengajak perkenalan yang mana memang sedari tadi Kami belum sempat berkenalan :
Mendengar ucapan itu, RF mana yang gag bahagia. Udah bisa kenal dengan orang penting meskipun masih sekelas di lapangan. Apalagi Beliau sudah punya pengalaman bertahun-tahun di kereta itu sendiri, disini sama sekali tidak ada rasa curiga Saya terhadap Beliau yang memang punya perawakan tinggi kira2 165-170cm, agak kurus, kulit sawo matang, potongan rambut rapih seukuran 3cm, tampang yang terbilang awet muda (masih tergambar jelas dalam ingatan Saya)”
Duduk sejenak di area peron 1, masuk KA 115 (Senja Utama Semarang). Saya sejenak memperhatikan sambil berkata dalam hati “kok, KMPnya pake K3 yak,?” andai Hand Phone Saya aktif, mungkin saja bisa langsung update status di FB kali, hee_
Beliau agak mengeluh dengan apa yang di rasakannya waktu itu “duh, kog badan Saya tambah kayak gini yah,? Masuk angin meski tadi mau berangkat sudah minum sprite, kuning telur & … (ada satu lagi yang Beliau sebut, tapi Saya lupa)”.
Saya sedikit cuek dengan apa yang Beliau rasakan. Dan gag lama kemudian KA 106 masuk juga di St. CN ( jalur 3). Ternyata lok C3 XX DIPO INDUK JNG mogok sehingga harus DT dengan lok C1 XX DIPO INDUK CN. Sejenak mengamati KA 106 melaju perlahan sampai akhirnya berhenti pada “batas akhir lokomotif berhenti”. Beliau bangun dari duduknya mengajak Saya ke Gerbong 1 (gerbong urutan ke 2 dari lokomotif & gerbong aling2). Tanpa rasa curiga sama sekali, Saya mengikuti langkah Beliau menuju gerbong tersebut. Setelah naik, ternyata pas di dekat bordes ada TD kosong & Sayapun di suruh duduk disitu “lagi-lagi tanpa rasa curiga” Beliau meminta tas Saya untuk menaruhnya di loker miliknya. Sayapun sudah tak banyak berkata waktu itu, setelah duduk kemudian Saya berikan tas Saya tersebut kepada Beliau & Beliaupun berpamitan untuk menaruh ke lokernya terlebih dahulu.
Sempat memang Saya perhatikan Beliau berjalan hingga akhirnya masuk ke gerbong 3 & hilang tertutup pedagang asongan yang malam itu dengan bebasnya masuk ke dalam rangkaian KA 106. Dalam hati Saya cuman pasrah maring Gusti karena memang Saya sudah teramat kantuk “Yaa Allah, jika itu masih rejeki Saya & kawan Saya, maka pertemukanlah kembali di PWT. Tapi jika memang sudah bukan lagi milik Saya, Saya sudah pasrah akan apa yang kan terjadi nanti”.
KA 106 tak lama kemudian berangkat meninggalkan CN, tanpa basa-basi lagi Saya langsung memejamkan mata kembali terlelap dengan pulasnya. Herannya, meski fisik tertidur pulas, tapi pikiran serasa di lintasan. Sepanjang CN hingga PPK, KA 106 terlalu sering berhenti untuk mengalah kepada kereta yang hendak menuju JAK. Barulah melintas PPK, KA 106 mulai stabil & menarik taspat seperlunya, karena memang track mulai menanjak.
Terlelap pulas & untungnya lagi tidak ada pemeriksaan tiket sepanjang CN-PWT (meskipun ada, Saya cuma tinggal bilang saja dibawa Pak Surya “dalam hati”). Akhirnya melintaslah KA 106 di St. KRR, dengan harap2 cemas sambil berkali-kali menoleh ke arah belakang berharap Beliau mengantar tas yang tadi Beliau bawa yang memang itu adalah milik Saya. Berapa kali Saya coba menoleh ke belakang, sosok yang dinanti tak kunjung terlihat. Sesaat tak lama kemudian, sudah tampak cahaya penerangan DIPO LOK PWT, menandakan KA 106 sudah memasuki area PWT. Saya langsung coba bergegas ke gerbong belakang mencari sosok Beliau yang mungkin masih terlelap atau memang saya adalah korban penipuan.
Sesampainya di tempat crew yang bertugas, tak ada sama sekali sosok yang Saya cari. KA 106 sudah berhenti di jalur 3 St. PWT. Saya mencoba turun dari kereta mencoba memandang sekitar stasiun yang masih sepi berharap ada lambaian tangan yang mungkin saja itu adalah Bpk. Surya. Tapi apa yang di dapat, semua usaha sia-sia. Saya mencoba bertanya kepada PKD yang malam itu berada di area stasiun “maaf Pak, apa ada KP bernama Bpk. Surya,?” Dia Cuma menjawab “ohh KP, coba tanya saja kesitu [sambil menunjuk ruang PPKA St. PWT]” Saya bergegas ke ruang PPKA. “permisi Pak, apa ada malam ini KP yang bernama Bpk Surya berdinas di KA 106,?” yah, namanya juga pnp yang mungkin aggapan Dia hanya anak kecil bertanya “tuh KPnya tuh baru naik, Tanya ajah sono,?” ~jawabnya dengan ketus~
Berbisik dalam hati “bukan Dia orang yang Saya cari”, jadwal normal pemberhentian KA 106 di PWT Cuma 3 menit, akhirnya waktu itu habis sudah. Mungkin Saya baru sadar kalo Saya adalah korban penipuan, tapi entah gimana yang Saya heran malah Saya seolah-olah gag merasa kehilangan, dengan sedikit santai Saya naik kembali ke KA 106, PPKA memberi sinyal aman, s40 & s41 telah di berikan. Saya mencoba bertanya kembali ke otc yang ada gag jauh dari gerbong crew yang malam itu sedang bertugas “maaf mas, ada gag KP atau Kepala Polsuska yang malam ini bertugas dari CN ke SLO,?” Diapun kaget sejenak sambil menjawab “wah mas, Saya kurang tahu soal itu, coba tanyakan saja ke polisinya di depan”
Otc itu mengantar Saya ke petugas yang sedang dinas malam itu, memang Dia itu adalah seorang polisi lengkap dengan senjata di tangannya. Sekedar tanya jawab saja waktu itu :
Polisi : Ono opo to mas,? “dengan logat Jawanya yang khas”
Saya : ngene loh Pak ……. “menceritakan apa yang baru saja terjadi”
Polisi : ohh, neg Senja Utama Solo ndak pake Polsuska mas. Langsung kepolisian buat pihak keamanannya. Berati Anda korban penipuan tadi.
Saya : “hanya mengiyakan” ohh, ya Saya kira Bpk Surya tadi memang benar ada di kereta ini.
Polisi : lah sekarang Sampean pegang tiket ndak,?
Saya : nah itu, tujuan Saya tadi Cuma sampe PWT. Saya kira Bpk Surya memang bertugas di kereta ini makanya Saya di ajak naik dari CN tanpa megang tiket.
Polisi : wahh, sampean bakal kena denda nanti dari petugas kereta.
Saya : terserahlah Pak, namanya juga lagi keapesan, entah bingung mo kemana setelah ini "meneruskan pertanyaan" lah iki kereta berhenti lagi di mana Pak,?"
Polisi : langsung jogja mas
Saya : berbisik dalam hati "modar aQ neg katut tekan YK"
Tiba2 saja KA 106 berhenti, ternyata di tahan di sinyal masuk St. KYA, tampak dari arah BD lah yang di dahulukan mungkin KA 174 (Kutojaya Selatan). Langsung saja Saya bilang ke polisi & otc yang masih ada di situ “Pak, aQ tag turun kene ae timbang katut teko YK,!!”, Polisi itupun menjawab “wani koe,? Yoo ati2 ae”. Karena di depan ada jembatan kecil yang hanya muat untuk lewat badan kereta akhirnya Saya tunggu sejenak KA 106 berjalan. Saya mencoba menghidupkan Hand Phone yang memang sejak dari JNG masih di non aktifkan. Ternyata pkl 04.45 (telat 1 jam KA 106 masuk KYA). Tak berapa lama KA 106 di beri sinyal aman, sambil berjalan perlahan meninggalkan perkampungan yang masih sunyi saat-saat seperti itu.
Adzan shubuh berkumandang di area St. KYA, Hand Phone Saya coba non aktifkan sejenak sambil melaksanakan Ibadah Sholat Shubuh. Selesai sholat, kembali layaknya orang yang belum pernah merasakan musibah, duduk di pelataran area KYA dengan santai & coba browsing I-net dari Hand Phone, benar ternyata. Ada rekan yang meng-update status jam 12 malam KA Progo & KA Tawang Jaya masih tertahan di BKS karena di KRW ada pihak yang memang sengaja mempersiapkan diri melempari KA-KA yang melintas. Mungkin karena itulah kenapa semalam KA 154 tidak di berhentikan di KRW. Melainkan LS ke CKP.
Kepalang tanggung, mau tidak mau Saya harus mencari uang pinjaman untuk tambahan mencoba membeli baru Cam miliknya yang hilang. Apesss hari itu, di mana itu hari pertama Saya naik kereta sejak tgl 2 januari tahun ini, harus langsung kehilangan barang yang jika di nominalkan mungkin sekitar 2,8 juta. (End)".

masih ingat nama polisinya mas???mgkn tmn saya,.,.soalnya saya juga sering ngawal SU SLO...

MENUNGGU DIJALANKANNYA LAGI BANYUBIRU


SETELAH ISTIRAHAT PANJANG
Senang
Reply
[spoiler]
(17-03-2011, 03:14 PM)bambangwitjak Wrote: Friends,

Dikutip dari milis tetangga dengan editing seperlunya, share pengalaman naek KA Bengawan

tks



"Teman2..ini ada pengalaman dari seorang kawan.. Semoga menjadi pelajaran buat kita.. Dan saya heran sama perlakuan yg tidak 'adil' terhadap KA kelas ekonomi..

Singkat cerita sabtu (12/03), sepulang kerja pkl 18.00. Saya putuskan hari itu untuk mengantar barang titipan teman yang tinggal di PWT. Lepas maghrib Saya langsung berangkat menuju JNG dengan menggunakan angkutan umum. Setibanya di JNG. Saya liat antrian di depan loket yang sudah mengular dari ujung timur ke ujung barat dengan berbaris dua banjar. Sempat nanya ke salah satu calon pnp yang mengantri “kok, loket di tutup,?”, di jawab olehnya “untuk KA Bengawan sudah melebihi batas angkut, akan di buka lagi untuk KA Progo nanti setelah KA Bengawan sudah lewat”. Hampir saja Saya putus asa disitu, jika sampai ikut KA Progo, bisa saja Saya kesiangan sampai di PWT, karena memang siangnya harus sudah kembali ke JAK menggunakan Bus dengan perjalanan siang dari PWT, berharap ada waktu istirahat untuk kerja keesokan harinya.
Jongkok sejenak di pelataran stasiun, mendengar PPKA menyebut “akan masuk jalur 1 KA Senja Utama Yogya ….” Kemudian Saya coba buka urutan GAPEKA yang sempat Saya save sebagian di Hand Phone, ternyata setelah KA 110 (Senja Utama Yogya) akan masuk KA 154 (Senja Bengawan). Pikiran Saya mulai bingung waktu itu, tak berapa lama ada beberapa pemuda yang berniat masuk JNG dengan memutar melalui PJL di timur stasiun. Antara iya & tidak, karena untuk mengejar waktu juga mempertaruhkan nama besar “Komunitas RF & ES” [untungnya waktu itu tidak ada atribut yang Saya kenakan yang berhubungan dengan komunitas] akhirnya Saya ikuti mereka dari belakang.
Akhirnya, masuklah Saya di area JNG sebelah utara, duduk sejenak sembari melihat KA 110 take off dari JNG. Gag berapa lama akhirnya KA 154 masuk di JNG, dengan santai & perasaan yang begitu berkecamuk dalam pikiran, Saya berjalan menuju peron 1, dalam hati berkata “Pasrah sudah kalo memang sampai di tarik lebih dari harga karcis yang berlaku oleh petugas di atas kereta”.
KA 154 berhenti di jalur 1, Sayapun ikut antrian untuk masuk ke dalam kereta. Masuklah Saya di gerbong 1 setelah gerbong aling2 (yang mana itu adalah urutan gerbong ke 2 dari lokomotif). Terus masuk ke tengah berharap ada ruang kosong untuk menaruh tas pada tempatnya (rak di atas TD pnp) “Kalo yang ini memang kebiasaan Saya, menaruh barang di mana & Saya sendiri di mana bahkan kadang terpisah jauh barang itu dengan Saya”. Selesai meletakkan tas di rak atas TD pnp, Saya meneruskan berjalan menuju bordes antara gerbong 2 & 3. Suasana sudah penuh sesak oleh pnp karena mungkin memang week end hari itu.
Di sinilah cerita berawal, dengan fisik yang sudah tidak fit lagi karena sepulang bekerja belum lagi harus berdesak-desakkan dengan pnp lain. Saya berdiri di bordespun dengan mata yang hampir terpejam. KA 154 masuk BKS, ternyata ada orang yang sedari tadi memang sudah berdiri tidak jauh dari hadapan Saya yang berteriak dengan lantang ke pnp lain yang berdiri di pintu gerbong agar memberi jalan kepada pnp yang akan naik ataupun turun. Mata Saya yang tertunduk ke bawah sempat terbuka, mengamati sejenak dari sepatu & celana, mungkin saja itu orang dinas “pikir Saya dalam hati”. Saya coba membuka mata & memperhatikan secara seksama pakaian demi pakaian yang Dia kenakan. Tampaklah seragam R6 khas dengan lambang PT. KAI yang Dia kenakan di balik jaket warna abu-abu tua dengan aksen garis lurus di setiap bagian jahitan baik lengan, bahu & ketiak ke bawah. Tampak pula sebagian namanya yang terpasang pada ID card tsb berakhiran “YATIN”, karena memang sebagian lainnya tertutup oleh jaket yang Dia kenakan.
KA 154 berangkat dari BKS, karena memang posisi kami berhadapan tepat di sambungan bordes antara gerbong 2 & 3. Dia mengawali pembicaraan, berikut kutipannya ;
Petugas : maaf mas, turun dimana,?
Saya : di Purwokerto Pak.
Petugas : oo, mungkin nanti sampai di Purwokerto pkl 03.00. Lah kok mas’y di sini,? Memang di tiket gerbong berapa & no TD’y berapa,?
Saya : “sedikit berkeringat dingin karena memang Saya berada di posisi bersalah dengan tidak memegang tiket” kemudian Saya ceritakan seperti di atas apa yang terjadi sebelumnya.
Petugas : ohh gitu “tidak di sambung lagi kalimatnya”
Saya : Langsung Saya tanya lagi, “Bapak yang sedang dinas atau hanya akan pulang dinas,?”
Petugas : Iya, Saya yang dinas sekarang sebagai ‘Kepala Pengawas Keamanan’ ~akunya~.
Saya : ohh gitu.
Petugas : Ya sudah, mas’y di sini saja bareng Saya. Nanti kalo ada kondektur memeriksa tiket gag usah khawatir.
Saya : hanya mengangguk kemudian bertanya kembali “berarti status Bapak ada di atas Polsuska,?” ~Tanya Saya~
Petugas : Iya betul begitu, jadi Saya hanya bertugas mengontrol keamanan pnp & tingkatan’y ada di atas Polsuska.
KA 154 masuk CKP, rombongan pedagang langsung turun dengan tergesa-gesa seolah-olah memaksa untuk lewat. Setelah itu, barulah petugas tsb mengingatkan “tolong coba periksa kantong celana Anda, apa ada yang merasa kehilangan,? Selagi kereta masih berhenti”. Benar saja, antara bordes 2 & 3 ada 5 orang yang merasa kehilangan dompet di bagian saku belakang. Petugas tsb meminta salah satu pnp untuk mencoba melongok rombongan pedagang yang baru saja turun. Hasilnya, sudah tidak ada siapa2 selain pnp KA 154 itu sendiri yang sengaja turun untuk mencari udara segar.
KA 154 meninggalkan CKP, tak berapa lama ada KP yang memulai tugasnya memeriksa tiket pnp dari gerbong terdepan. Petugas itu mengingatkan kembali pada Saya “itu depan ada pemeriksaan tiket, udah kamu tenang saja, ada Saya disini”. Tak berapa lama sampailah Polsuska di bordes tempat Saya berdiri. Karena memang sebelumnya Saya sudah tahu siapa sebenarnya petugas yang sedari tadi bersama dengan Saya. Sedikit percaya dari situ, yang namanya bawahan paling tidak hormat dengan atasan, ya mungkin sama2 sedang dinas, Polsuska tersebut hanya menyapa Dia dengan panggilan “Pak” di ikuti anggukan kepala, Dia pun membalasnya dengan anggukan kepala.
KP lewat, Saya hanya menunjuk ke arah Beliau. KP pun menyapa & berlalu dari hadapan kami. Setelah itu perbincangan di mulai kembali, berikut kutipannya :
Petugas : ke PWT memang mo ngapain,?
Saya : “masih dengan keringat dingin, seolah2 sedang di interogasi” sekedar main Pak ke rumah teman.
Petugas : memang tidak bawa apa2,?
Saya : “dengan sedikit berbohong” tidak Pak, Saya Cuma niat sebentar di PWT, siangnya mungkin bakal balik lagi ke JAK menggunakan Bus (toh memang waktu itu Saya tidak bawa uang lebih, mungkin hanya cukup untuk membeli tiket KA Bengawan & tiket Bus untuk kembali ke JAK).
Petugas : enak amat yahh, santai tanpa bawaan.!!
Saya : “sambil tersenyum” iya Pak.
KA 154 menjelang masuk St. Jatibarang, hujan deras mengguyur perjalanan malam itu. Mata kembali terpejam sesaat. KA 154 masuk St. jatibarang, masih ada lagi penambahan pnp malam itu, akhirnya KA 154 penuh sesak oleh pnp malam itu. Karena posisi hujan deras & memang Saya juga petugas tsb berada di bordes, mau tidak mau akhirnya basah kuyup oleh tetesan air hujan. Tapi itu tidak Dia hiraukan, sembari mengatur pnp yang berjubal di area bordes untuk lebih masuk ke tengah gerbong agar tidak terlalu basah apabila hujan bertambah lebat malam itu.
Sesaat setelah itu, Diapun sempat bertemu dengan rekan sesama PT. KAI, menurut Saya sih sekedar hafal saja kali yahh, soalnya orang PT. KAI yang baru saja naik di St. Jatibarang itu menurut Saya barulah lulus pendidikan, dari tampang masih tampak muda, tujuan Dia hendak ke CN.
Mulai dari sini Saya sedikit tenang, syukurlah kalo memang Beliau itu di samping menjalankan tugas tapi juga mau mencoba membantu Saya dalam kekhawatiran perjalanan malam itu karena memang Saya tahu tentang peraturan yang acap kali terpasang di area stasiun bila pnp tidak memiliki tiket.
KA 154 melintas langsung di Arjawinangun. Petugas itu kembali membangunkan Saya & mulai mengajak berbincang :
Petugas : mas, nanti di CN ikut Saya yah pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “sesaat tersentak kaget & keringat dingin mulai mengalir sedikit demi sedikit terbayang sejenak layaknya seorang polisi memberikan tilang di tengah jalan” waduh Pak, kok pindah ke Senja Utama Solo,?
Petugas : Iya, kamu turun di PWT kan,? Saya pas pindah tugas di CN menerusakan perjalanan di Senja Utama Solo
Saya : “masih berpikir” Gimana yah Pak, Saya juga bingung,!!
Petugas : udah Kamu tenang saja, bareng Saya kok.
Saya : “mau tidak mau kebohongan Saya terbongkar” Saya bawa barang Pak, tapi Saya tinggal di situ (sambil menunjuk ke tengah gerbong 1 di atas TD pnp).
Petugas : lho katanya ndak bawa barang,?
Saya : habis kalo Saya bawa kemari terlalu merepotkan keadaan sih Pak, toh itu juga barang titipan yang hendak Saya antar ke PWT.
Petugas : ya udah coba Kamu ambil, nanti di CN kita pindah ke Senja Utama Solo.
Saya : “dengan berhati2 karena memang jarak yang begitu jauh & pnp yang sudah penuh di dalam rangkaian, mau tidak mau harus melompatinya satu persatu & saat kembali, kepala saya sempat terkilir akibat beratnya beban di tas & susahnya jalan di antara para pnp di dalam gerbong”
Petugas : “sambil mencoba membantu” sini tasnya Saya pegang, kamu lompatin dulu tuh orang.
Saya : “sudah sampai di bordes kembali” makasih Pak,!!
Petugas : iya sama2.
KA 154 masuk CN, entah jam berapa waktu itu. Karena memang Hand Phone Saya sengaja di non aktifkan semenjak berangkat dari JNG, untuk menghemat daya batrai yang mana memang batrai Hand Phone Saya sudah uzur di khawatirkan saat sampai di PWT terjadi miss communication.
KA 154 masuk jalur 3, di jalur 2 ternyata masih ada KA 110 (Senja Utama Yogya). Sembari menanti KA 110 berangkat, di peron Dia sempat mengajak Saya untuk kembali berbincang. Disini nadanya serasa menginterogasi Saya waktu itu :
Petugas : pasti kamu kira akan Saya bawa ke kantor yah,? “sembari tersenyum”
Saya : “agak canggung menjawabnya” Yaa begitulah Pak.
Petugas : yaa sudah, gag usah terlalu di pikirkan lagi hal itu, toh dari awal Saya sudah tahu keadaan Kamu.
Akhirnya KA 110 berangkat, sembari menanti berlalu dari jalur 2. Kami sama2 terdiam sejenak. Gerbong aling2 paling belakang KA 110 sudah berlalu, Beliau dengan santai mengajak Saya ke sebuah warung di area peron 1 St. CN “yuk, ke warung dulu sambil ngopi sembari menunggu Senja Utama Solo masuk, badan Saya lagi gag enakan nih, mungkin masuk angin tadi pas kena air hujan di sambungan”. Tanpa ada rasa was2 lagi akan di bawa ke kantor, akhirnya Saya mengikuti langkah Beliau dari belakang.
Warung yang di tuju waktu itu adalah warung makan yang terletak di paling ujung selatan St. CN. Entah memang Beliau mengakrabkan diri atau memang sudah hafal dengan sang pemilik warung tsb, sesaat bercanda di depan warung sebelum akhirnya masuk kedalam & memesan 2 cangkir kopi susu. Sesaat setelah Beliau duduk, Saya mendahulukan untuk mengajak perkenalan yang mana memang sedari tadi Kami belum sempat berkenalan :
Mendengar ucapan itu, RF mana yang gag bahagia. Udah bisa kenal dengan orang penting meskipun masih sekelas di lapangan. Apalagi Beliau sudah punya pengalaman bertahun-tahun di kereta itu sendiri, disini sama sekali tidak ada rasa curiga Saya terhadap Beliau yang memang punya perawakan tinggi kira2 165-170cm, agak kurus, kulit sawo matang, potongan rambut rapih seukuran 3cm, tampang yang terbilang awet muda (masih tergambar jelas dalam ingatan Saya)”
Duduk sejenak di area peron 1, masuk KA 115 (Senja Utama Semarang). Saya sejenak memperhatikan sambil berkata dalam hati “kok, KMPnya pake K3 yak,?” andai Hand Phone Saya aktif, mungkin saja bisa langsung update status di FB kali, hee_
Beliau agak mengeluh dengan apa yang di rasakannya waktu itu “duh, kog badan Saya tambah kayak gini yah,? Masuk angin meski tadi mau berangkat sudah minum sprite, kuning telur & … (ada satu lagi yang Beliau sebut, tapi Saya lupa)”.
Saya sedikit cuek dengan apa yang Beliau rasakan. Dan gag lama kemudian KA 106 masuk juga di St. CN ( jalur 3). Ternyata lok C3 XX DIPO INDUK JNG mogok sehingga harus DT dengan lok C1 XX DIPO INDUK CN. Sejenak mengamati KA 106 melaju perlahan sampai akhirnya berhenti pada “batas akhir lokomotif berhenti”. Beliau bangun dari duduknya mengajak Saya ke Gerbong 1 (gerbong urutan ke 2 dari lokomotif & gerbong aling2). Tanpa rasa curiga sama sekali, Saya mengikuti langkah Beliau menuju gerbong tersebut. Setelah naik, ternyata pas di dekat bordes ada TD kosong & Sayapun di suruh duduk disitu “lagi-lagi tanpa rasa curiga” Beliau meminta tas Saya untuk menaruhnya di loker miliknya. Sayapun sudah tak banyak berkata waktu itu, setelah duduk kemudian Saya berikan tas Saya tersebut kepada Beliau & Beliaupun berpamitan untuk menaruh ke lokernya terlebih dahulu.
Sempat memang Saya perhatikan Beliau berjalan hingga akhirnya masuk ke gerbong 3 & hilang tertutup pedagang asongan yang malam itu dengan bebasnya masuk ke dalam rangkaian KA 106. Dalam hati Saya cuman pasrah maring Gusti karena memang Saya sudah teramat kantuk “Yaa Allah, jika itu masih rejeki Saya & kawan Saya, maka pertemukanlah kembali di PWT. Tapi jika memang sudah bukan lagi milik Saya, Saya sudah pasrah akan apa yang kan terjadi nanti”.
KA 106 tak lama kemudian berangkat meninggalkan CN, tanpa basa-basi lagi Saya langsung memejamkan mata kembali terlelap dengan pulasnya. Herannya, meski fisik tertidur pulas, tapi pikiran serasa di lintasan. Sepanjang CN hingga PPK, KA 106 terlalu sering berhenti untuk mengalah kepada kereta yang hendak menuju JAK. Barulah melintas PPK, KA 106 mulai stabil & menarik taspat seperlunya, karena memang track mulai menanjak.
Terlelap pulas & untungnya lagi tidak ada pemeriksaan tiket sepanjang CN-PWT (meskipun ada, Saya cuma tinggal bilang saja dibawa Pak Surya “dalam hati”). Akhirnya melintaslah KA 106 di St. KRR, dengan harap2 cemas sambil berkali-kali menoleh ke arah belakang berharap Beliau mengantar tas yang tadi Beliau bawa yang memang itu adalah milik Saya. Berapa kali Saya coba menoleh ke belakang, sosok yang dinanti tak kunjung terlihat. Sesaat tak lama kemudian, sudah tampak cahaya penerangan DIPO LOK PWT, menandakan KA 106 sudah memasuki area PWT. Saya langsung coba bergegas ke gerbong belakang mencari sosok Beliau yang mungkin masih terlelap atau memang saya adalah korban penipuan.
Sesampainya di tempat crew yang bertugas, tak ada sama sekali sosok yang Saya cari. KA 106 sudah berhenti di jalur 3 St. PWT. Saya mencoba turun dari kereta mencoba memandang sekitar stasiun yang masih sepi berharap ada lambaian tangan yang mungkin saja itu adalah Bpk. Surya. Tapi apa yang di dapat, semua usaha sia-sia. Saya mencoba bertanya kepada PKD yang malam itu berada di area stasiun “maaf Pak, apa ada KP bernama Bpk. Surya,?” Dia Cuma menjawab “ohh KP, coba tanya saja kesitu [sambil menunjuk ruang PPKA St. PWT]” Saya bergegas ke ruang PPKA. “permisi Pak, apa ada malam ini KP yang bernama Bpk Surya berdinas di KA 106,?” yah, namanya juga pnp yang mungkin aggapan Dia hanya anak kecil bertanya “tuh KPnya tuh baru naik, Tanya ajah sono,?” ~jawabnya dengan ketus~
Berbisik dalam hati “bukan Dia orang yang Saya cari”, jadwal normal pemberhentian KA 106 di PWT Cuma 3 menit, akhirnya waktu itu habis sudah. Mungkin Saya baru sadar kalo Saya adalah korban penipuan, tapi entah gimana yang Saya heran malah Saya seolah-olah gag merasa kehilangan, dengan sedikit santai Saya naik kembali ke KA 106, PPKA memberi sinyal aman, s40 & s41 telah di berikan. Saya mencoba bertanya kembali ke otc yang ada gag jauh dari gerbong crew yang malam itu sedang bertugas “maaf mas, ada gag KP atau Kepala Polsuska yang malam ini bertugas dari CN ke SLO,?” Diapun kaget sejenak sambil menjawab “wah mas, Saya kurang tahu soal itu, coba tanyakan saja ke polisinya di depan”
Otc itu mengantar Saya ke petugas yang sedang dinas malam itu, memang Dia itu adalah seorang polisi lengkap dengan senjata di tangannya. Sekedar tanya jawab saja waktu itu :
Polisi : Ono opo to mas,? “dengan logat Jawanya yang khas”
Saya : ngene loh Pak ……. “menceritakan apa yang baru saja terjadi”
Polisi : ohh, neg Senja Utama Solo ndak pake Polsuska mas. Langsung kepolisian buat pihak keamanannya. Berati Anda korban penipuan tadi.
Saya : “hanya mengiyakan” ohh, ya Saya kira Bpk Surya tadi memang benar ada di kereta ini.
Polisi : lah sekarang Sampean pegang tiket ndak,?
Saya : nah itu, tujuan Saya tadi Cuma sampe PWT. Saya kira Bpk Surya memang bertugas di kereta ini makanya Saya di ajak naik dari CN tanpa megang tiket.
Polisi : wahh, sampean bakal kena denda nanti dari petugas kereta.
Saya : terserahlah Pak, namanya juga lagi keapesan, entah bingung mo kemana setelah ini "meneruskan pertanyaan" lah iki kereta berhenti lagi di mana Pak,?"
Polisi : langsung jogja mas
Saya : berbisik dalam hati "modar aQ neg katut tekan YK"
Tiba2 saja KA 106 berhenti, ternyata di tahan di sinyal masuk St. KYA, tampak dari arah BD lah yang di dahulukan mungkin KA 174 (Kutojaya Selatan). Langsung saja Saya bilang ke polisi & otc yang masih ada di situ “Pak, aQ tag turun kene ae timbang katut teko YK,!!”, Polisi itupun menjawab “wani koe,? Yoo ati2 ae”. Karena di depan ada jembatan kecil yang hanya muat untuk lewat badan kereta akhirnya Saya tunggu sejenak KA 106 berjalan. Saya mencoba menghidupkan Hand Phone yang memang sejak dari JNG masih di non aktifkan. Ternyata pkl 04.45 (telat 1 jam KA 106 masuk KYA). Tak berapa lama KA 106 di beri sinyal aman, sambil berjalan perlahan meninggalkan perkampungan yang masih sunyi saat-saat seperti itu.
Adzan shubuh berkumandang di area St. KYA, Hand Phone Saya coba non aktifkan sejenak sambil melaksanakan Ibadah Sholat Shubuh. Selesai sholat, kembali layaknya orang yang belum pernah merasakan musibah, duduk di pelataran area KYA dengan santai & coba browsing I-net dari Hand Phone, benar ternyata. Ada rekan yang meng-update status jam 12 malam KA Progo & KA Tawang Jaya masih tertahan di BKS karena di KRW ada pihak yang memang sengaja mempersiapkan diri melempari KA-KA yang melintas. Mungkin karena itulah kenapa semalam KA 154 tidak di berhentikan di KRW. Melainkan LS ke CKP.
Kepalang tanggung, mau tidak mau Saya harus mencari uang pinjaman untuk tambahan mencoba membeli baru Cam miliknya yang hilang. Apesss hari itu, di mana itu hari pertama Saya naik kereta sejak tgl 2 januari tahun ini, harus langsung kehilangan barang yang jika di nominalkan mungkin sekitar 2,8 juta. (End)".[/spoiler]

Pelajaran berharga buat kita..
Dalam keadaaan apapun harus beli tiket..dan kalo loket udah ga jual tiket K.A yg kita mau naek ya jgn maksain diri.. bahaya..

Yg aneh masa temen kita yg 1 ini percaya kalo ada Polsuska habis dines dari THB-CN lanjut CN-YK??

145/146 Brantas, Selalu dihati Selalu dinanti

[Image: Brantas.gif]
Reply
KA 154 hari ini TANPA aling2 belakang Ngakak
aling2 depan Bagasi SLO, itupun tampaknya abis PA mau dibalikin ke asalnya..
cuma berangkat telat
[Image: 9544964954_75d165f289_z.jpg]
Reply
(25-06-2011, 11:04 PM)omaniax Wrote: KA 154 hari ini TANPA aling2 belakang Ngakak
aling2 depan Bagasi SLO, itupun tampaknya abis PA mau dibalikin ke asalnya..
cuma berangkat telat

tumben. Soalnya KA 153 aja masih nerapin aling-aling depan belakang tiap ane nyegat di PWS ataupun SLO. Dan menurut beberapa sumber kenapa bengawan masih tetep nerapin aling2 karena rangkaiannya yang tergolong panjang dan memenuhi standar muatan, beda sama Logawa, Pasundan ataupun Kahuripan yang dijebol aling2nya gara2 gak muat. Ya kalo sampe bengawan dijebol aling2nya berarti emang tinggi bgt okupansinya dan wajar karena bengawan dijual tanpa TTD jadi banyak yg bebas duduk dimana aja termasuk aling-aling Ngakak
Cobalah Cari tahu sendiri dulu baru bertanya bila benar - Benar Bingung dan tidak ada penjelasan, jangan maunya disuapin terus. Gak ada Nubie atau Master, semua sama, sama - sama belajar. Eh iya lupa...
Reply
(26-06-2011, 06:48 AM)Dj_Dj_300791 Wrote:
(25-06-2011, 11:04 PM)omaniax Wrote: KA 154 hari ini TANPA aling2 belakang Ngakak
aling2 depan Bagasi SLO, itupun tampaknya abis PA mau dibalikin ke asalnya..
cuma berangkat telat

tumben. Soalnya KA 153 aja masih nerapin aling-aling depan belakang tiap ane nyegat di PWS ataupun SLO. Dan menurut beberapa sumber kenapa bengawan masih tetep nerapin aling2 karena rangkaiannya yang tergolong panjang dan memenuhi standar muatan, beda sama Logawa, Pasundan ataupun Kahuripan yang dijebol aling2nya gara2 gak muat. Ya kalo sampe bengawan dijebol aling2nya berarti emang tinggi bgt okupansinya dan wajar karena bengawan dijual tanpa TTD jadi banyak yg bebas duduk dimana aja termasuk aling-aling Ngakak

kemarin okupansinya membludak, sampe petugas MRI ga jual tiket lagiNgakak
cuma setengah tempat duduk di kereta belakang bagasi dicarter rombongan, malah bikin tambah sumpekBethe
[Image: 9544964954_75d165f289_z.jpg]
Reply
ka 154 ini sampe di LPN kira2 jam berapa yak ????
ke buru gak alo mau nyambung ka 162 ?????????
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 4 Guest(s)